TIDAK mempertentangkan. Ada pertanyaan yang saya sulit menjawabnya. Pertanyaannya, apa bedanya nasi padang dan nasi kapau?
Membicarakan perbedaan itu, justru saat menikmati nasi pada di warung Padang Kuring di Jalan Pemuda. Warungnya tidak telalu besar. Bersebelahan dengan kantor pengadilan negeri.
Makan siang bersama Pak Agus Tantomo dan istrinya, juga beberapa teman wartawan. Saya duduk bersebelahan dengan pemilik warung, Pak Zulkarnain. Kesukaan saya, hanya rendang dan sambal hijau.
Karena tersedia ayam pop, saya ambillah satu potong bagian paha. Di sela-sela menikimati santap siang itu, muncullah pertanyaan perbedaan nasi padang dan nasi kapau itu. Saya tak bisa memberikan jawaban. Tugas Pak Zulkarnain yang menjawab.
Kayaknya sama saja, kata Wawan yang mengelola kafe di Driving Range Fortune di Jalan Murjani III, sepintas terlihat memang sama saja. Setidaknya itu yang saya cermati di YouTube. Penataannya yang beda, kata Zulkarnain. Walau sepintas sama, ada perbedaan dari menunya.
Ada beberapa menu yang sama, kata Zulkarnain. Yang membedakan itu, si penjualnya. Bahwa yang menjual nasi kapau itu, memang orang asal Kapau. Walau di warung pada juga menyajikan gulai. Namun, di warung kapau ada yang namanya gulai kapau. Warnanya kuning dan ada rasa asamnya. Itu rasa otentiknya.
Di peta, Kapau itu masuk dalam wilayah kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Dari nagari Kapau inilah yang mewariskan racikan masakan dan bumbu turun temurun.
Di Berau, belum ada yang jual nasi kapau. Mungkin alasannya, karena tak ada warga yang asal Kapau. Bagi saya, yang penting ada rendang, ada sambal hijau, ada perkedel, dan kalau ada ayam pop. Itu bonus. Hanya Itu saja pilihan saya.
Bersama Pak Agus Tantomo yang masuk kelompok foodhunter, sering menikmati masakan padang. Dan, karena ia pernah menetap di Makassar empat tahun, lidahnya belum bisa dipisah oleh aroma Coto Makassar. Pilihannya Coto Makassar di pelabuhan teratai. Kalau di Makassar, saya sukanya di Coto Paraikatte, di Jalan Veteran, kata Pak Agus.
Kemarin itu, setelah berbincang di warung Hokky, saya bersama Pak Oetomo Lianto diajak makan siang di warung padang. Bukan warung padang Kuring di Jalan Pemuda. Tapi, warung padang yang baru buka di Jalan Durian I.
Padahal dua hari lalu saya sudah makan di warung Pak Zulkarnain. Lantas diajak lagi dengan menu yang sama. Hanya beda koki saja. Tak bisa menolak. Pas lapar-laparnya. Saya terbayang lagi, rendang dan ayam pop.
Di saat makan itu, Pak Firman yang bosnya media ini, bercerita hasil pemeriksaan laboratoriumnya. Aku berapa hari ini pusing-pusing terus, kata dia. Setelah melihat hasil labnya, rupanya kadar kolesterolnya lumayan tinggi.
Menariknya, di saat makan di rumah makan padang berkah itu, menu yang dipilih rendang dan udang goreng. Hantam saja, kata Oetomo Lianto alias Pak Aliang. Urusan kolesterol nanti urusan belakang saja.
Kami tak lagi bercerita soal persamaan nasi Kapau dan nasi Padang. Pak Aliang bercerita, kalau yang di tempat berjualan itu, oleh pemiliknya dulu (Pak Syukur) punya menu istimewa. Yakni ayam kampung goreng. Larisnya bukan main. Saya termasuk pelanggan tetapnya.
Yang menarik, rencana liburan Pak Aliang ke luar negeri terpaksa ia tunda. Padahal sudah bukan tiket kelas bisnis. Alasannya sederhana. Kota yang ia akan datangi liburan akhir tahun, cuacanya minus 15. Apa yang mau disaksikan dengan cuaca bersalju begitu, kata Aliang.
Sebagai gantinya. Ia dan teman-temannya, berencana liburan ke Bidukbiduk saja. Pak Yansen punya resor baru yang belum dioperasikan secara komersil. Masih ada pembenahan-pembenahan. Liburannya ke Bidukbiduk sajalah, kata Aliang.
Sampai kapan pun, membahas nasi padang dan nasi kapau, tak akan ada titik temunya. Sama halnya membahas sop saudara dan coto Makassar. Juga cerita soto banjar dan soto bumbu yang dijual teman saya Pak Iwan di halaman Stadion Sempaja di Samarinda.
Oh iya, sahabat dan saudara-saudara saya. Semua pelanggan Berau Post. Pembaca setia catatan saya yang merayakan hari Natal. Saya ucapkan selamat merayakan natal. (*/sam)
@cds_daengsikra
Editor : uki-Berau Post