Sering menyanyikan lagu cover di media sosial hingga live show dalam event. Monica Wijaya tertantang melahirkan karya sendiri. Kini musisi indie dari Balikpapan itu merilis single berjudul Senansa. Bekalnya mengembangkan diri hingga nanti siap masuk industri musik nasional.
DINA ANGELINA, Balikpapan
Hei kawanku tempatku bersandar, seperti dinding hanya mendengarkan.
Dari semua masalah, selalu kupercayakan. Kau yang terbaik, jujur, dan setia.
Hei kawanku ajarilah aku. Tuk menghadapi rintangan dan cobaan.
Walau tak selalu bersama, kita saling mendoakan.
BEGITULAH penggalan dari lirik lagu yang disenandungkan perempuan berusia 26 tahun tersebut. Monica yang bernaung dalam platform Music Whatever merilis single bertajuk Senansa tepat pada momen Valentine, 14 Februari. Lagunya sudah tersebar di berbagai media seperti YouTube, Spotify, iTunes, dan sebagainya.
Ditemui di sela kesibukan promosi single, Monica menyapa dengan lembut dan senyuman saat memasuki Ruang Redaksi Kaltim Post, Sabtu (23/2). Tampil mengenakan baju putih berbalut outer cokelat, dia terkesan kasual dan manis. Sulung dari dua bersaudara ini antusias bercerita soal proses produksi Senansa hingga impiannya di masa mendatang.
Senansa merupakan karya pertama yang sekaligus menandakan debutnya sebagai penyanyi. Sesungguhnya Senansa adalah singkatan dari senandung sahabat. Lagu yang didedikasikan kepada sosok sahabat. Bentuk persahabatannya pun universal. Bisa kepada teman, saudara, sampai orangtua. Intinya seseorang yang menemani dan menyemangati dalam hidup.
Monica menuturkan, lagu ini lahir dari Director Music Whatever Djeni. Sekitar Agustus 2018, Djeni menawarkan materi lagu Senansa untuk dibawakan perempuan berzodiak Capricorn tersebut. “Saya dengarkan, langsung suka karena lagunya simpel dan easy listening. Akhirnya kami memutuskan untuk produksi lagu ini secara serius,” ucapnya. Mulai memasuki tahapan aransemen hingga rekaman.
Dalam perjalanan produksi, materi lagu mengalami banyak perubahan. Misalnya harus menyesuaikan karakter suara Monica. Kemudian memerlukan bantuan alat musik sebagai pengiring. Misalnya bass, keyboard, sampai drum. Namun, setiap anggota posisinya jauh dan tidak bisa melakukan proses rekaman bersama.
“Masing-masing punya kesibukan, waktu luang berbeda-beda. Jadi harus rekaman satu per satu,” imbuhnya. Hal ini yang membuat proses produksi juga dilakukan bertahap hingga memakan waktu sekitar lima bulan. Kesulitan ini dilewati secara perlahan, namun pasti.
Selain vokal, Monica juga turut mengiringi lagu itu dari petikan dawai gitarnya. Kemudian bantuan dari musik pendukung yang membuat senandung tersebut semakin merdu. Di antaranya Apit dengan bass, Rizki dengan keyboard, Ucil dengan drum, dan Diva sebagai backing vocal. Misalnya Diva yang berdomisili di Jakarta, director coba menemuinya di sela-sela kesibukan.
“Harus terbang ke Jakarta untuk merekam suara Diva. Walau lokasi berbeda-beda, tapi kami semua asli anak Balikpapan,” imbuhnya. Setelah materi rekaman lengkap, masuk proses mixing oleh Agus Hafi. Tak terelak apabila proses lahirnya single ini cukup lama. Hingga sempurna dan siap didengarkan publik. Dia mengakui, kendala terbesar terjadi selama produksi.
Apalagi untuk take recording, mereka harus mencari waktu luang di luar kesibukan. Monica beserta timnya setiap hari sibuk dengan pekerjaan utama masing-masing. Belum lagi aransemen juga berubah untuk mencari yang terbaik. “Soal latihan saya lakukan pas pulang kerja, sedangkan untuk rekaman hanya bisa Sabtu dan Minggu saat libur,” bebernya.
Walhasil setiap ada rekaman yang terasa kurang sempurna, Monica baru dapat melakukan rekaman ulang pada minggu selanjutnya. Proses rekaman juga dilakukan di rumah, jadi perlengkapan rekaman harus digondol ke rumahnya. Meski perlu perjuangan, gadis yang lahir di Makassar itu mengaku puas dengan hasil karya tersebut.
“Saat ini yang di YouTube masih bentuk audio. Ada rencana kami akan produksi music video (MV) juga untuk Senansa,” tuturnya. Lagu ini merupakan karya orisinal pertama yang dibawakan Monica sebagai penyanyi. Artinya dia memiliki lagu sendiri untuk ditampilkan. Sebelumnya putri dari Hendrik Wijaya Oei dan Bernadeth Rawung itu hanya mengisi hobi dengan melakukan beragam cover lagu.
Kegiatan ini sudah dia lakukan sejak 2015. Awalnya, dia hanya posting di Instagram. Kemudian setelah bertemu dengan Music Whatever, Monica mulai cover lagu secara serius dan upload di YouTube. Tak hanya itu, dia juga bersama platform ini melakukan kerja sama. Pertama kali saat tampil dalam sebuah event di Balikpapan, 2016.
“Itu jadi momen pertama saya tampil depan publik. Setelah itu mulai banyak tampil live dengan Music Whatever,” kata perempuan kelahiran 11 Januari 1993. Lalu apa yang mendorongnya untuk mengeluarkan single? Monica mengatakan sebagai music enthusiast, tentu dia ingin tampil dengan karya sendiri. Dia merasakan tantangan yang berbeda dibanding menyanyikan lagu cover.
“Bawa lagu sendiri, bisa sesuai gaya khas kita. Jadi, sekaligus belajar juga soal performance. Kemudian ada dukungan dari teman-teman yang bantu produksi, prosesnya terasa menyenangkan,” ungkapnya. Sebenarnya dalam keseharian, perempuan itu sibuk bekerja di salah satu BUMN ternama di Balikpapan. Musik merupakan bagian dari hobi, terutama solusi saat dirinya stres.
Ketertarikan pada musik sudah dirasakan sejak kecil. Contoh dari SD hingga SMA, Monica konsisten mengikuti ekstrakurikuler paduan suara. Kemudian kepiawaian dalam bermain alat musik mulai dia pelajari sejak SMA. Alasannya sederhana karena ada ujian praktik kesenian. Dia masih ingat ada pilihan belajar gitar, keyboard, pianika, dan lainnya.
“Saya tidak bisa sama sekali dan minta ajarkan teman bermain gitar. Karena tidak berhasil, saya malah penasaran dan ingin coba sampai bisa. Lihat teman bisa bermain alat musik, rasanya keren,” sebutnya. Walhasil dengan semangat itu yang mendorong Monica belajar memetik gitar secara autodidak.
Dia juga pernah berusaha belajar melalui les musik, namun ternyata tidak bertahan setelah dua pertemuan. Bukan tidak bisa, namun karena kesibukan kuliah membuat jadwal belajar musik bentrok. Akhirnya, kembali lagi belajar autodidak karena waktu lebih fleksibel. Dia banyak belajar dari YouTube.
Alumnus Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Mulawarman Samarinda itu tak menyangka, semula musik yang hanya hobi bisa merilis single. Sekarang dia semakin termotivasi untuk terus menghasilkan karya yang lebih baik. “Seru karena lagu ini bisa didengarkan orang dan pesan tersampaikan. Saya juga bisa kenal banyak orang baru karena project ini,” ucapnya.
Saat ini, Monica fokus untuk mengelola percaya diri dan tampil baik. Bagaimana dia mengatasi grogi ketika bernyanyi secara live. Dia mengatakan, Senansa juga merupakan salah satu caranya untuk mengembangkan diri. Ajang diri untuk berlatih dan mengumpulkan jam terbang. Dia juga tertarik untuk menulis lagu sendiri. “Sekarang fokus berlatih, saya masih ingin mengembangkan kapasitas dulu,” tuturnya.
Bukan tidak mungkin saat nanti sudah merasa matang, kaya pengetahuan serta pengalaman, Monica akan memproduksi single atau album secara nasional. Apalagi di zaman sekarang ini sudah ada banyak platform media yang dapat mewujudkan impiannya tersebut. “Semua sudah mudah, bisa manfaatkan beragam media. Jadi, bukan tidak mungkin untuk mengejarnya,” pungkasnya. (rom/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria