Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Sempat Vakum, Simbol Pembebasan dari Roh Jahat

izak-Indra Zakaria • Senin, 16 Maret 2020 - 19:24 WIB
DIARAK: Ogoh-ogoh symbol roh jahat diarak dalam rangka memperingati Tahun Baru Saka 1942. ADIEL KUNDHARA/KP
DIARAK: Ogoh-ogoh symbol roh jahat diarak dalam rangka memperingati Tahun Baru Saka 1942. ADIEL KUNDHARA/KP

Umat Hindu memiliki kepercayaan. Bahwa ogoh-ogoh adalah simbol roh jahat. Patung pun harus dibasmi. Supaya kehidupan di alam mendatang bebas dari gangguan.

 

ADIEL KUNDHARA, Bontang

 

Pawai ogoh-ogoh dilakukan menjelang Tahun Baru Saka 1942 membuat warga khususnya umat Hindu di Kota Taman tumpah ke jalan, Minggu (15/3). Tiga Patung raksasa bertampang seram jadi pusat perhatian. Rambutnya gondrong dengan gigi taring dan berkuku panjang. 

Diangkat menggunakan bambu, sosok yang dinamakan ogoh-ogoh itu digoyang-goyang para pembawanya. Menjadi simbol roh jahat, umat Hindu percaya, jika sosok menyeramkan ini harus diberantas. 

Sebelum dimusnahkan, tiga ogoh-ogoh diarak keliling dalam sebuah pawai. Rute pawai dimulai dari depan Rumah Jabatan Wali Kota Bontang. Selanjutnya menuju Jalan MH Thamrin ke Jalan R Suprapto, dan berhenti di Lapangan Parikesit. 

“Kami bersyukur bisa melaksanakan kegiatan ini karena tahun lalu sempat vakum karena tak ada anggaran dan SDM (sumber daya manusia),” ucap Ketua Panitia I Ketut Budiarsa. 

Pawai ogoh-ogoh ini memang menjadi agenda rutin tiap tahun menyambut Tahun Baru Saka 1942. Sayang, hingga kini agenda yang menarik perhatian masyarakat umum ini belum masuk dalam agenda tahunan Pemkot Bontang. Karena kegiatan ini tidak hanya umat Hindu, tetapi melibatkan 11 paguyuban dan komunitas. Diantaranya Paguyuban Nganjuk, Perguruan Pencak Silat Cempaka Putih, dan Bontang Onthel Community (BOC). 

"Kami berharap tahun depan dapat dijadikan lomba ogoh-ogoh tahunan," pintanya. 

Sementara, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Bontang I Ketut Wirta menjelaskan ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Bhuta Kala ialah representasi dari kekuatan alam semesta dan waktu yang tak terukur dan memiliki energi negatif. 

"Roh jahat yang menganggu manusia diwujud simbol-simbol yang seram, seperti ogoh-ogoh ini," kata I Ketut Wirta. 

Rangkaian kegiatan untuk Nyepi ini selanjutnya yakni bakti sosial ke panti jompo, melasti atau penyucian diri, ritual tawur agung kesangan, dan pelaksanaan Catur Brata penyepian. Di mana Umat Hindu harus menjalani puasa, tidak boleh bepergian, tidak menyalakan api, dan tidak bekerja. 

Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni yang membuka kegiatan pawai turut mengucapkan selamat Tahun Baru Saka kepada umat Hindu di Kota Taman. Pesannya, Bontang yang terdiri dari beberapa agama dan kebudayaan adalah sebuah anugerah.  

"Perbedaan dirangkai dengan kasih sayang maka akan tercipa Bontang yang rukun, damai, dan sejahtera," pesan Neni. (rdh)

Editor : izak-Indra Zakaria