Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pagebluk Corona dan Hari Lainnya bagi Hendra Kumbara

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 18 April 2020 - 16:58 WIB
Hendra Kumbara
Hendra Kumbara

Hendra Kumbara ”membaca” pagebluk corona lewat pernikahan seorang kawan yang gagal terwujud. Terhubung dengan Didi Kempot dan Denny Caknan dalam satu kelindan persoalan patah hati.

 

ADENNYAR WICAKSONO, Semarang, Jawa Pos

 

ADA banyak jalan untuk menceritakan pagebluk. Hendra Kumbara menemukan caranya lewat status WhatsApp seorang teman.

”Dhimas Rizal, kawan saya, menulis status kalau dia gagal melangsungkan resepsi pernikahan karena virus korona,” kata Hendra saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di Syalala Production, Perum Green Village, Kota Semarang, Kamis pekan lalu (9/4).

Sembari genjrengan, penyanyi kelahiran Pati, 12 Agustus 1989, itu membayangkan kalau dirinya dalam posisi sang kawan. Jika ngeyel, dia bisa berhadapan dengan polisi yang sudah melarang ada kerumunan selama masa jaga jarak (physical distancing) demi mencegah penularan virus korona baru.

Genjrengan itu pun dia rekam di handphone. Jadilah...

”Gusti kulo salah nopo, rabine kok dibatalno//Wis kadung nyebar undangan, malah corona menyerang//Gusti kulo sampun ikhlas, keterak Covid-19//Yen pancen ngene dalane, tak golek dino liyane (Tuhan saya salah apa, nikah kok dibatalkan//Telanjur menyebar undangan, malah korona menyerang. Tuhan saya sudah ikhlas, tertabrak Covid-19//Jika memang begini jalannya, saya cari hari lainnya).”

Dirilis di YouTube pada 1 April lalu, per tadi malam (17/4) pukul 21.00 video lagu Dino Liyane itu sudah ditonton 1.194.637 kali. Dan, Dhimas, sang kawan yang secara tak sengaja memberinya inspirasi, didaulat jadi bintang klip tersebut.

”Biar tambah menyentuh. Alhamdulillah diterima dengan baik, mungkin banyak juga yang ambyar gagal nikah gara-gara korona ini,” kata Hendra.

Cara Hendra menyikapi kondisi pandemi ini secara musikal menempatkannya di barisan yang sama dengan, katakanlah, Didi Kempot dan Denny Caknan. Sebut saja mereka para solois pria di jalur ”pop Jawa”.

Lirik-lirik mereka ditulis dari pengalaman keseharian yang sederhana dan ada dalam jangkauan orang kebanyakan. Didi banyak bercerita tentang stasiun, terminal, atau pelabuhan. Denny meroket setelah mendendangkan lagu berlatar perempatan di kampung halamannya di Ngawi, Jawa Timur.

Hit Hendra sebelumnya, Dalan Liyane, yang videonya di YouTube telah ditonton lebih dari 15 juta kali sampai tadi malam, bercerita tentang kehilangan seorang terkasih. Dan, di situlah memang kelindan para solois pop Jawa ini: di persoalan patah hati yang bikin ambyar.

”Tema patah hati memang paling ampuh menggaet generasi kiwari. Karena hampir semua penggemar lagu jenis itu adalah anak muda,” kata Aris Setiawan, dosen Jurusan Etnomusikologi ISI Solo, kepada Jawa Pos kemarin.

Didi, Denny, dan Hendra, kata Aris, muncul dan disambut hangat karena kejenuhan terhadap lagu-lagu pop mainstream yang pola musikalnya seragam. Muncullah upaya ”mendaur ulang” masa lalu (atau musik yang telah terlintas waktu), yakni campur sari.

”Dengan gaya musikal baru yang dianggap lebih kreatif, memadukan gaya lirik Jawa dengan dangdut koplo, misalnya,” kata Aris.

Hendra harus melalui jalan yang tidak mudah untuk sampai di tempatnya sekarang. Tak terhitung berapa kali lagu yang ditulis alumnus Jurusan Musik Universitas Negeri Semarang itu ditolak radio. Alasannya sepele: karena memakai bahasa Jawa dan beraliran dangdut atau campursari.

Termasuk lagu yang dia buat bersama Helarius Daru (Ndarboy Genk) berjudul Balungan Kere. Kelak video lagu itu ditonton sampai 27 juta kali ketika dinyanyikan Ndarboy Genk.

”Pada 2008 lalu saya mulai membuat lagu bersama band indie Senggol Tromol, Ndarboy Genk, ngisi di kafe,” kenang Hendra.

Perkembangan teknologi akhirnya memberinya jalan keluar. ”Karya bisa kita buat sendiri, record sendiri, dan kemudian di-upload ke YouTube ataupun Spotify. Total saya punya 90 karya lebih sejak tahun 2008 sampai sekarang,” jelasnya.

Perkembangan teknologi itu pada akhirnya juga mendatangkan demokratisasi di musik. Tak perlu lagi seorang musisi atau sebuah band bersusah payah membawa demo ke Jakarta.

Bintang pun bisa bermunculan dari mana saja. Dari Ngawi, kota kecil di ujung barat Jawa Timur, misalnya. Atau dari cah Pati yang berkarir di Semarang seperti Hendra.

Balungan Kere, Tibo Mburi, Baik-Baik Saja, Wegah Pisah, sampai Aku Seng Ndue Ati, yang semuanya lahir dari pemikiran dan pengalaman pribadi Hendra dan Helarius Daru, pun diterima luas.

Pandemi Covid-19 memang akhirnya memaksa Hendra membatalkan semua jadwal manggung. Puluhan jumlahnya, dari Maret sampai April.

Tapi, roda kreasinya tak henti berputar. Dino Liyane, yang sudah banyak di-cover penyanyi atau musisi lain dan cuma sebagian yang minta izin, salah satunya.

Melalui akun Syalala Production di YouTube, Hendra juga mengajak pendengar lagu Dino Liyane untuk turut melawan Covid-19. Caranya dengan menggalang donasi.

Donasi tersebut akan dialokasikan untuk membuat tempat cuci tangan di beberapa objek wisata atau pusat keramaian di Semarang. ”Berapa pun donasinya kami terima, untuk titiknya saya koordinasi dan bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kota Semarang,” katanya.

Dia juga berencana membuat album dengan konsep akustik. ”Mungkin ada hikmahnya juga, saya jadi bisa fokus mempersiapkan album pertama. Rencana bulan puasa akan saya luncurkan,” ujar dia.

Pandemi Covid-19, kata Aris, memang momentum untuk melahirkan karya baru bertema wabah global itu. Tapi, dia mengingatkan banyaknya ”tumpukan” karya dengan tema serupa.

”Harus sekreatif mungkin agar jangan sampai menghasilkan kemonotonan dan kebosanan,” katanya. (*/c10/ttg)

Editor : izak-Indra Zakaria
#corona #feature