Kobaran api membakar bangunan utama Kelenteng Guang De Miao, Rabu (24/6). Barang-barang bersejarah berusia satu abad pun habis terbakar.
BALIKPAPAN- Kelenteng Guang De Miao di Jalan Bukit Niaga RT 11, Pasar Baru, Balikpapan yang sudah berusia seabad lebih terbakar. Api berkobar Rabu (24/6) dini hari sekitar pukul 02.30 Wita.
Kobaran di bangunan utama itu menghanguskan barang bersejarah di dalamnya. Puluhan patung dewa-dewi, prasasti, arca dewa, lonceng dan barang peribadatan lainnya hangus.
Charles, Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKI) Balikpapan menerangkan, dirinya mendapat kabar musibah kebakaran ini Rabu subuh. Saat kejadian memang tidak ada aktivitas atau pun peribadatan. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
“Barang bernilai sejarah. Karena usianya sudah seabad lebih,” ungkap Charles.
Kurang lebih satu jam api berkobar akhirnya api padam. Delapan mobil pemadam dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan pemadaman sekaligus pendinginan.
Kepala BPBD Balikpapan Suseno menerangkan, saat kebakaran terjadi tidak ada aktivitas di lokasi. “Tidak ada pula lilin menyala,” jawabnya.
Roy, penjaga kelenteng menyebut, saat kebakaran terdengar ada suara ledakan. Tidak ada aktivitas juga. “Saya sempat menyelamatkan lilin besar di depan. Api cepat membesar,” terangnya.
Hingga kini, penyebab kebakaran belum diketahui. “Kami sedang lakukan penyelidikan. Tidak ada korban jiwa,” kata Kapolresta Balikpapan Kombes Pol Turmudi.
Berdasar sejarah, pada 1941, kelenteng ini pernah hancur karena bom saat Perang Dunia II. Seiring waktu dilakukan pembangunan pada 1960. Kemudian pada 1976 dilakukan renovasi. Selain sebagai tempat ibadah, juga digunakan tempat aktivitas keagamaan lainnya.
Guang De Miao atau Kelenteng Satya Dharma didirikan pada tahun 1915. Guang berasal dari kata Guangdong atau provinsi asal para pendatang dari Tiongkok. Sedangkan kata De merupakan singkatan dari Dao De atau moral. Dewa utama di kelenteng ini adalah Ta Pe Kong.
DPC Asosiasi Dong Yue Taiji Quan (Adyti) Balikpapan Hendra Lie dikonfirmasi Kaltim Post juga telah mendapatkan kabar musibah tersebut dari sejumlah kerabatnya.
“Kenangannya banyak. Di kelenteng ini juga saya dilantik jadi ketua asosiasi Adyti bergerak bidang olahraga taichi,” kata Hendra yang juga Ketua Perhimpunan Tionghoa Balikpapan.
Secara pribadi dan umat, tentu musibah tersebut merasa prihatin dan sedih. “Sebab, kelenteng tersebut tak hanya tempat ibadah melainkan tempat tradisi dan budaya berkembang,” jelasnya.
Diketahui, tempat peribadatan warga Tionghoa ini awalnya dibangun di Jalan VNW (sekarang Jalan Jenderal Sudirman) kawasan Kodam VI/Mulawarman, kemudian pindah di Jalan Prapatan dan hingga sekarang di Pasar Baru.
Pada 1875-1908, ratusan buruh imigran pekerja kontrak datang ke Balikpapan, mereka ada yang dari Tiongkok untuk bekerja di perusahaan minyak milik Belanda, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), di antara ratusan pekerja itu ada Chen Bo Lin.
Pria muda perantauan asal Guang Dong, Desa Chen Bian, Kota Tai Shan. Seiring waktu, Chen Bo Lin mengalami sakit. Ia kemungkinan tidak cocok dengan lingkungan serta cuaca Balikpapan yang kala itu masih hutan belantara. Karena sakitnya tak kunjung sembuh, ia memutuskan pulang ke kampung halamannya, Desa Chen Bian.
Keinginannya untuk pulang kampung akhirnya terwujud. Dengan kondisi sakit, ia menumpang kapal bersama penumpang lainnya yang punya tujuan berbeda. Takdir berkehendak lain, belum setengah hari perjalanan, Chen Bo Lin meninggal di atas kapal. Jasadnya dilarutkan ke laut.
Rupanya, menurut sejarah, seorang pria di Balikpapan bernama Chen Qi menerima mimpi. Chen Bo Lin dalam mimpi itu meminta Chen Qi menjemput jasadnya di sekitar Pulau Babi, perairan Balikpapan.
“Ternyata benar mimpi Chen Qi, ia mendatangi pulau dan melihat jasadnya. Kemudian dibawa ke darat,” terang Hindro Arie Wijaya, Ketua Kelenteng Guang De Miao.
Jasad Chen Bo Lin dimakamkan di VNW sekitar markas Kodam VI/Mulawarman. Di lokasi sini lah awal mula Kelenteng Guang De Miao, sebelum pindah ke Pasar Baru. (aim/ms/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria