Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Pendonor Masih Langka, Tolak Perempuan yang Pernah Hamil

izak-Indra Zakaria • 2020-09-11 11:38:24
MEMBANTU PEMULIHAN: Seorang pasien melakukan donor plasma konvalesen di Unit Transfusi Darah RSKD Balikpapan, Jumat (4/9). FUAD MUHAMMAD/KP
MEMBANTU PEMULIHAN: Seorang pasien melakukan donor plasma konvalesen di Unit Transfusi Darah RSKD Balikpapan, Jumat (4/9). FUAD MUHAMMAD/KP

Sejak Juni lalu, RSUD Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan menerima penyintas penderita Covid-19 untuk menyumbangkan plasma darah mereka. Cara itu untuk menyelamatkan pasien Covid-19 yang tengah dirawat.

 

M RIDHUAN, Balikpapan

 

TERAPI plasma konvalesen sejak awal menjadi salah satu metode yang digunakan rumah sakit untuk merawat pasien terkonfirmasi Covid-19. Menjadi harapan untuk bisa memulihkan kondisi pasien. Khususnya yang sedang dalam status kritis atau mengancam jiwa.

Penelitian pun telah membuktikan. Penggunaan plasma darah dari pasien Covid-19 yang telah pulih bisa mengobati penderita penyakit itu. Di Indonesia, Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto di Jakarta disebut menjadi pionir penerapan terapi plasma konvalesen sejak April lalu.

“Di dunia, terapi plasma itu sudah dimulai sejak wabah SARS-CoV-1. Kemudian saat SARS-CoV-2 (Covid-19), kembali diterapkan,” ujar dokter spesialis patologi klinik di RSUD Kanujoso Djatiwibowo (RSKD), dr Tika Adilistya, Jumat (4/9).

Di RSKD, penerapan terapi plasma konvalesen pertama kali dilakukan sejak Juni lalu. Dan menjadi yang pertama di Kalimantan menerima pasien terapi itu. Setelah rumah sakit pelat merah milik Pemprov Kaltim itu membeli sendiri mesin apheresis. Kemudian, pertama kali menerima donor dari seorang penyintas Covid-19, yakni BPN-031.

“Tanggal 16 Juni kami pertama kali menerima donor plasma darah dari BPN-031. Namun, sejak itu kami lama kosong (tidak mendapatkan pendonor),” ucap Tika.

Berbagai usaha dilakukan rumah sakit untuk bisa mendapatkan pendonor. Namun, ketatnya syarat membuat sedikitnya plasma darah yang bisa diambil. Tidak semua penyintas bisa mendonorkan plasma darah mereka. Dan ada aturan dari Gugus Tugas Covid-19 yang harus dipatuhi.

“Yang pasti pendonor pernah positif Covid-19. Karena telah terbentuk antibodi. Namun, kami tidak menerima perempuan yang pernah mengandung atau hamil,” ujar koordinator Poli Covid-19 RSUD Kanujoso Djatiwibowo itu.

Alasan ditolaknya plasma darah dari perempuan yang pernah mengandung karena ada fobia. Artinya, dalam sejumlah kasus, plasma darah yang ditransfusikan akan memengaruhi kondisi pasien. Hal itu secara medis dipengaruhi oleh human leukocyte antigen (HLA). Yakni, protein atau penanda yang banyak ditemukan pada sel tubuh manusia. Yang digunakan dalam pencocokan antara donor dan resipien ketika melakukan transplantasi.

HLA adalah suatu mekanisme dalam tubuh untuk melindungi diri dari benda asing yang masuk ke tubuh. Perempuan yang sudah pernah hamil atau melahirkan berpotensi antibodi HLA tersebut tertutup. Dengan demikian, jika pendonor plasma perempuan, maka harus dilakukan pengecekan antibodi HLA terlebih dulu. “Karena itu prioritasnya laki-laki. Minimal usia 18 sampai kurang dari 50 tahun,” jelasnya.

Laki-laki pun disebut yang benar-benar dalam kondisi sehat. Artinya, penyintas Covid-19 tidak memiliki penyakit bawaan atau penderita dengan kewajiban mengonsumsi obat-obatan tertentu. Hal itu juga yang menyebabkan pihak rumah sakit kesulitan mendapatkan pendonor.

“Kita telepon satu-satu pasien kami. Terbaru, kalau ada pasien yang sudah dinyatakan sembuh, kami berikan leaflet terapi itu. Sayangnya, kebanyakan mereka pekerja di luar kota,” ujarnya.

Hingga pekan lalu, saat awak media mengunjungi Unit Transfusi Darah (UTD) RSKD, baru ada delapan orang penyintas Covid-19 yang pernah mendonorkan plasma darah mereka. Dan baru delapan pasien yang telah menerima terapi plasma konvalesen. Satu pendonor saat ini hanya cukup untuk satu pasien. Bahkan dalam kasus tertentu, satu pasien harus menerima dari dua pendonor.

“Dan tidak semua plasma darah cocok untuk diberikan ke pasien. Meski golongan darah antara pendonor dan penerima sama. Namun ada kadar antibodi. Makanya yang diprioritaskan adalah pasien yang di ICU. Itu pun kami pilih yang kuat untuk menjalani terapi,” beber Tika.

Dari laporan dokter penyakit dalam dan spesialis lain yang menangani pasien, terapi plasma konvalesen memang lebih sukses diterapkan ke pasien yang kondisinya stabil. Hal tersebut bahkan bisa terlihat pada hari ketiga sejak pasien menerima plasma darah.

“Memang ada kasus pasien meninggal meski sudah dilakukan terapi. Namun itu karena kondisi pasien memang sudah buruk. Makanya kami memang pilih yang masih kuat,” ucapnya.

Untuk pendonor, Tika menyebut akan menjalani berbagai proses pemeriksaan kesehatan. Biasanya akan berlangsung hampir 1 jam. Setiap pendonor akan diambil plasma darahnya 150–200 cc. Dan bisa mendonor kembali dua minggu sejak donor terakhir kali. Asal dalam kondisi sehat.

Mereka yang akan mendonorkan plasma darah juga harus dipastikan telah sembuh dari Covid-19 dalam tempo sebulan sejak dikonfirmasi positif. Sebenarnya 14 hari sejak dikonfirmasi Covid-19 dan merasa sehat bisa saja menjadi pendonor. “Namun itu ada kaitannya dengan kadar antibodinya. Jadi, kami ambil yang sebulan,” sebutnya.

Salah satu penyintas Covid-19 yang pernah mendonorkan plasma darahnya ada BPN-1, Wahid Herlambang. Kepada awak Kaltim Post, pengusaha itu menceritakan pengalamannya selama menjalani donor plasma darah. “Saya sudah dua kali menjalani donor plasma darah ini,” kata Wahid.

Selama menjalani proses donor plasma darah, Wahid menyebut, lengannya disuntik seperti donor darah biasa. Namun, dia memegang alat pompa untuk mengembalikan darahnya yang telah dipisahkan antara trombosit dan plasma di dalam mesin apheresis.

“Itu jeda sekali pompa ada sekitar 12 menit. Pompa itu untuk membantu sirkulasi darah yang sudah dipisahkan kembali ke tubuh saya. Jadi saya di dalam (ruang UTD) bisa 1 jam lebih,” ucapnya.

Sebelum melakukan donor, Wahid menyebut, darahnya harus menjalani pemeriksaan kadar antibodi. Di mana dari enam “angkatan” penyintas Covid-19 di Balikpapan, hanya dirinya yang memiliki kadar antibodi yang memenuhi syarat rumah sakit. “Jadi hanya saya yang akhirnya bisa donor. Teman-teman ‘seangkatan’ saya tidak bisa. Padahal masih muda-muda,” ucapnya.

Soal efek setelah donor, Wahid menyebut tidak merasakan apa-apa. Dia hanya merasa “dicubit-cubit” selama prosesnya. Meski sudah dua kali, dia menyatakan siap jika diminta kembali untuk melaksanakan donor plasma darah. “Selama kadar antibodi saya memenuhi syarat, saya siap membantu,” tegasnya. (rom/k8)

 

Editor : izak-Indra Zakaria
#kesehatan