Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Guru dan Murid Miliki Comorbid Dilarang KPTM

izak-Indra Zakaria • 2020-12-21 12:25:03
Photo
Photo

SAMARINDA–Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda sejatinya sudah siap memulai kegiatan pembelajaran tatap muka (KPTM). Pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) hingga siswa yang memiliki comorbid atau penyakit bawaan didata.

Tak hanya itu, mereka yang naik kendaraan umum hingga memiliki riwayat perjalanan dari luar kota dalam waktu dekat turut masuk radar. Mereka dipastikan tidak masuk kategori boleh mengikuti KPTM, karena berpotensi menular dan tertular Covid-19.

Kabid Pembangunan SD-SMP Disdik Samarinda Barlin H Kesuma mengatakan, berdasarkan hasil survei, sejumlah guru dan siswa yang memiliki comorbid tidak diperkenankan ikut dalam KPTM, begitu juga yang memiliki riwayat perjalanan jauh. "Untuk itu, ada arahan dari Kemendagri untuk menyediakan transportasi khusus. Namun, melihat kondisi di lapangan dan jumlahnya sangat susah diwujudkan dalam waktu dekat, mereka diarahkan untuk tetap belajar atau mengajar dengan sistem daring," ucapnya.

Bagi sekolah juga diperkenankan membuat kebijakan tersebut yang dilaporkan ke dinas. Misalnya, mengurangi beban kerja bagi yang PTK berusia di atas 45 tahun karena masuk kategori rentan.

Sedangkan untuk mekanisme pembelajaran akan dilakukan selang-seling, targetnya satu bulan hanya 15 hari efektif belajar tatap muka. Satu hari masuk, satu hari libur. "Misalnya Minggu pertama kelas 1, 3, dan 5. Maka Minggu berikutnya giliran kelas 2, 4, dan 6," ucapnya.

Nantinya dimulai dari wilayah pinggiran, awalnya 10 SMP dan 20 SD. Jika dalam evaluasi satu bulan kondisi aman, tanpa adanya siswa atau PTK yang terkonfirmasi, bisa dilanjutkan penambahan 20 persen hingga 50 persen sekolah.

"Tetapi jika ada satu PTK atau siswa terdeteksi terkonfirmasi, KPTM akan dihentikan. Bagi yang terkonfirmasi akan dilakukan isolasi mandiri atau perawatan. Sedangkan siswa lainnya akan kembali menempuh jalur daring," singkatnya.

Namun, Barlin menegaskan, keputusan boleh tidaknya KPTM ada di wali kota melalui Satgas Covid-19 Samarinda, dengan mempertimbangkan berbagai aspek dan potensi. Sebagai OPD teknis, pihaknya telah melakukan survei persetujuan, yakni sebanyak 83 persen orangtua siswa setuju diadakan KPTM. Selain itu, di sisi sekolah juga terus melengkapi fasilitas protokol kesehatan seperti area mencuci tangan, jadwal penyemprotan disinfektan berkala, penghentian kegiatan ekstrakurikuler, kantin dan upacara dan petugas pengawasan pelaksanaan protokol kesehatan di sekolah.

"Jika nantinya berlaku sistem daring, Samarinda juga sudah punya aplikasi Samarinda Smart Edu (SSE) untuk mengunggah dan mengunduh materi pelajaran dan tugas hingga absensi siswa PTK," kuncinya. (dns/dra/k16)

Editor : izak-Indra Zakaria
#samarinda #satgas covid