Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Berharap Harga Pertamax Bisa Turun

izak-Indra Zakaria • 2022-04-11 11:58:46
Photo
Photo

MUHAMMAD Ridho (19) tak biasa mengantre di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Tetapi, belakangan dia memilih antre di barisan pertalite. Berbeda jika dia memilih beli pertamax yang biasanya tanpa antrean. Namun, pilihan mengonsumsi pertalite dinilai saat ini lebih relevan dibandingkan membeli pertamax. Sebab disparitas harga keduanya terbilang lumayan. Harga pertalite sebesar Rp 7.650 per liter dan pertamax Rp 12.750 per liter.

“Biasanya isi Rp 20 ribu sudah lumayan dapat dua literan. Ini seliter lebih sedikit. Enggak apa pakai pertalite dulu, apa-apa lagi mahal. Tapi ya antrenya yang agak panjang,” kata dia.

Dia mengatakan, sebenarnya dia lebih suka pertamax. Sebab, kualitasnya lebih bagus dan tak perlu antre. Tetapi, karena lebih mahal, dia beralih. “Semoga (pertamax) saja bisa turun lagi ke Rp 9 ribuan,” sambungnya.

Jika tidak, dia bisa jadi konsumen tetap pertalite. Menurutnya, jika banyak pengguna pertalite berpikiran seperti dia, pertalite bakal banyak dicari. Apalagi sekarang bensin premium juga susah dicari. Jadi, opsi termurah hanya pertalite. Maka jika harganya sudah naik begini, dia berharap suplai pertalite jangan sampai kurang.

Sementara itu, ketika mengunjungi Samarinda, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menegaskan kenaikan harga ini terjadi karena berbagai faktor. Utamanya adalah sekarang harga BBM mentah naik luar biasa. Waktu awal pandemi Covid-19, harga drop hingga USD 20, tapi sekarang USD 110 per barrel.

“Kenapa? Karena ada recovery tumbuh ekonomi, jadi permintaan meningkat. Selain itu, ada konflik Rusia-Ukraina, karena produk BBM mereka diembargo. Itu yang menyebabkan biaya produksi BBM meningkat," kata dia.

Walhasil, harga-harga komoditas BBM di dunia naik. Selain itu, komoditas tambang atau perkebunan naik semua. Faktor itu turut mendorong konsumsi dalam negeri. Sebab, mereka produksi lebih banyak karena mengambil momen harga mahal.

“Sedangkan kuota BBM yang bersubsidi karena kuotanya terbatas. Bukan untuk industri. Hanya untuk warga tak mampu. Jangan sampai dialihkan ke yang di luar aturan. Kalau bocor terlalu banyak, pemerintah bisa terbebani,” jelas Arifin.

Sebab, pertalite juga termasuk disubsidi. Hal ini diungkapkan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati. Dia menyebut, pertalite subsidinya Rp 4.000–4.500. Sedangkan, Pertamax disubsidi Rp 3.500 per liter. Pertamina hanya menaikkan harga pertamax menjadi Rp 12.750 dari Rp 9.200 per liter di Kaltim. “Yang menaikkan itu bukan hanya Pertamina. Seluruh perusahaan di Indonesia menaikkan, malah harganya sampai Rp 16 ribu,” sambungnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kaltim M Yadi Robyan Noor meminta agar masyarakat lebih bijak. “Subsidi bisa dinikmati yang memang harus menerima,” ucapnya.

Sebab, untuk diketahui, subsidi BBM dan elpiji tahun ini sekitar Rp77,5 triliun. Angka yang sangat besar. Maka sangat disayangkan bila penyaluran subsidi ini tidak tepat sasaran. (rom/k16)

Editor : izak-Indra Zakaria
#bbm