Oleh: Muhamad Fadhol Tamimy
Petugas Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tenggarong
Suatu kali seorang pemuda bercita-cita menjadi pahlawan tenis meja bagi Mesir. Disampaikanlah cita-cita tersebut kepada orang yang sangat dia hormati sembari berharap mendapatkan motivasi. Namun nahas, impian itu justru diremehkan orang yang sangat ia hormati, seraya tertawa lepas.
Peristiwa tersebut membuat psikologisnya terguncang. Membangkitkan rasa insecure. Bahkan peristiwa itu terngiang-ngiang di benaknya hingga membuat sulit tidur. Dia merasa seperti baru saja dicuri impiannya.
Seiring berjalannya waktu, dia bertemu seorang pelatih yang mampu memberinya semangat dan mengambil kembali impian yang telah dicuri. Hingga akhirnya dia berhasil menjadi juara Mesir, dan menjadi pemain timnas yang tampil pada kejuaraan dunia tenis meja di Jerman Barat pada 1969. Dialah Ibrahim El Fiqi, yang juga seorang motivator muslim dunia dan penulis buku best seller Terapi Berpikir Positif.
Tanpa disadari banyak pencuri mimpi di sekitar kita. Atau mungkin, tanpa disadari, kita sendiri yang menjadi pencuri mimpi bagi orang lain. Bahkan menjadi pencuri mimpi buah hati kita. Entah itu lewat ucapan, perbuatan, hingga gesture dan respons yang diperlihatkan.
Impian anak yang begitu mulianya harus pupus, akibat tidak didukung orangtua. Pupusnya impian tersebut apabila terus dibiarkan, akan berdampak pada kurangnya kepercayaan diri, mematikan kreativitas, dan secara kolektif bisa berimbas pada menurunnya produktivitas, inovasi, hingga daya saing.
Penting sekali memerhatikan ucapan dalam setiap tindakan yang kita lakukan. Karena ucapan yang dianggap biasa bagi kita, belum tentu sama redaksinya di telinga orang yang mendengarnya. Bahkan untuk sekadar bercanda, ada baiknya memerhatikan orang yang diajak bercanda. Karena level respons orang terhadap candaan berbeda-beda.
Hal itu pula yang saya lihat menarik dalam sebuah pembinaan di lembaga pemasyarakatan bagi para narapidana. Suatu kali saya pernah melakukan assessment risiko internal di Lembaga Pemasyarakatan terhadap tahanan yang baru masuk. Di sana saya menemukan beberapa narapidana di lapas memiliki problem dalam interaksi dengan keluarganya.
Problem dalam keluarga tersebut, akhirnya membuat mereka melakukan semacam pelarian untuk menemukan orang-orang yang lebih menghargai mereka. Celakanya, tidak semua orang yang mampu membuat nyaman dan menghargai adalah orang yang baik-baik saja.
Bahkan mereka pun adakalanya merupakan orang yang memiliki “problem” dengan dirinya sendiri, yang terbiasa melakukan pelanggaran norma ataupun hukum untuk mencari kebebasan, kesenangan, hingga pelampiasan atas masalah yang dihadapi. Inilah yang akhirnya menular. Karena sifat dari pengaruh kelompok, sangat berperan penting dalam menggerakkan bahkan mengubah perilaku seseorang dalam kelompok tersebut.
MENJAGA MIMPI GENERASI
Memiliki mimpi adalah hak setiap manusia. Karena dengan mimpi orang memiliki fondasi tujuan dalam hidup. Bisa jadi apa yang terjadi adalah hasil dari mimpi yang dibangun pada masa yang lalu. Johann Wolfgang Von Goethe (1749–1832) seorang sastrawan besar Jerman mengatakan, “Mengetahui saja tidak cukup, kita harus menerapkannya; berkeinginan saja tidak cukup, kita harus bergerak. Jika mimpi adalah jiwanya, dan tindakan adalah raganya”.
Jika memang kita tidak mampu mendukung setiap mimpi orang lain, akan lebih baik berusaha diam tanpa mengeluarkan komentar yang mematahkan. Rasulullah pun pernah bersabda dalam Bukhari dan Muslim, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam”.
Jika budaya saling menjaga mimpi antar-saudara sebangsa dan se-Tanah Air mampu diimplementasikan, dimulai dari individu kecil dalam keluarga, kelompok masyarakat, hingga antar-suku budaya maka bukan tidak mungkin, kejayaan sebuah bangsa akan tercipta.
Kemerdekaan yang kita rasakan saat ini pun merupakan buah dari mimpi founding father yang dijaga dengan ucapan, ditautkan dengan perasaan, diimplementasikan dengan perbuatan, hingga berbuah kemerdekaan. Semoga setiap mimpi generasi penerus kepemimpinan negeri dapat selalu terjaga hingga berbuah keniscayaan untuk menjadi jaya di kancah dunia. (dwi/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria