BALIKPAPAN–Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) awal September lalu, rupanya belum menjawab persoalan antrean pembelian di SPBU. Dari pantauan Kaltim Post di sejumlah SPBU di Samarinda dan Balikpapan yang jumlahnya sebanyak 48 stasiun, antrean mengular hingga ke luar area SPBU. Masyarakat rela menunggu di bawah terik matahari demi bisa membeli dua jenis BBM bersubsidi, pertalite dan solar.
Seperti yang dilakukan Purwanto, sopir angkutan kota alias angkot Nomor 2A (hijau muda) yang disebutnya, saban hari harus mengantre hingga 30 menit untuk bisa mendapatkan pertalite. Kondisi ini kata dia, sudah terjadi bertahun-tahun, khususnya di jam-jam tertentu. Seperti pagi dan sore hari. "Seperti sekarang kalau jam pulang kerja seperti sekarang, bisa 30 menit antrenya. Banyak waktu tersita. Belum lagi sekarang jumlah penumpang semakin turun. Sejak BBM naik, kami (sopir angkot) makin sulit," ucap Purwanto saat di wawancara Kaltim Post saat mengisi pertalite di SPBU Kilometer 4, Balikpapan Utara, kemarin (2/11).
Kaltim Post juga bertemu Clif, warga Perumnas, Balikpapan Utara. Dia mengaku sudah terbiasa antre pertalite di SPBU Kilometer 4 seminggu sekali untuk mobilnya. Dengan anggaran Rp 200 ribu per minggunya, ia tidak keberatan harus menunggu 15–20 menit mengantre. "Tidak masalah sih. Kebetulan tempat kerja istri, yang rutin bawa mobil ini kan di Somber (Balikpapan Barat), jadi dekat. Hanya sejak kenaikan pertalite, budget-nya juga ikut naik," ungkapnya.
Pengendara sepeda motor, Aman Ahmad, warga Perum Ramayana, Balikpapan Utara mengaku seminggu dua kali harus mengantre di SPBU. Itu pun kalau kondisinya sedang tidak ada kesibukan. Karena setiap mengantre, dia bisa menghabiskan waktu hingga 20 menit sebelum giliran mengisi pertalite. "Antre kalau lagi santai saja. Kalau buru-buru terpaksa beli yang eceran. Berat sebenarnya, karena bedanya lumayan (Rp 2 ribu/liter). Kalau dihitung-hitung mending pilih antre," ungkap Ahmad. Dalam seminggu, dia mengaku dua kali mengisi penuh tangki BBM menggunakan pertalite. Sekali isi bisa menghabiskan uang Rp 45 ribu. Dibandingkan sebelum kenaikan berkisar Rp 30 ribuan.
Dari pengamatan Kaltim Post di SPBU Kilometer 4, Balikpapan Utara, antrean terjadi sepanjang hari. Antrean terpanjang terjadi pada sore sejak pukul 16.00 Wita hingga matahari terbenam. Kendaraan mengular bahkan hingga jalan raya. Menyebabkan kepadatan jalan dari arah Terminal Batu Ampar. Namun kebanyakan pengendara mobil memilih mengurungkan diri masuk ke SPBU jika melihat antrean kendaraan sudah berada di pinggir jalan. "Ya kondisinya seperti ini sepanjang hari," kata pengawas SPBU Kilometer 4 Balikpapan Utara, Basofi Juni Anggara.
Pria yang akrab disapa Angga tersebut menjelaskan, antrean kendaraan ini tidak ada hubungannya dengan kuota pertalite. Melainkan karena memang tingginya permintaan. Karena selama operasional, kebutuhan pertalite selalu cukup dan tidak pernah kehabisan.
"Kami biasa dapat kuota 35–40 ton per hari. Sementara sehari habis sekitar 30–35 ton. Jadi cukup kuotanya, bahkan sehari bisa ada sisa," jelasnya.
Sementara pengawasan, sejak 3 September lalu pihaknya sudah menerapkan pencatatan nomor pelat kendaraan, baik roda dua hingga roda empat yang mengisi pertalite.
Untuk mobil dibatasi 120 liter per hari, sementara sepeda motor 10 liter per hari. Dengan sistem yang terpusat, maka Angga memastikan tidak ada kendaraan yang bisa mengisi di SPBU lain demi mendapat kuota melebihi yang ditetapkan. "Kalau ada penyimpangan bakal ketahuan, bahkan jika ada operator SPBU yang ‘nakal’ pun bisa diketahui, semua termonitor," ucapnya. Untuk memperlancar pengisian agar antrean bisa cepat diurai, khusus pertalite, pengendara diminta mengisi sendiri atau self service melalui nozel yang ada. Sementara untuk jenis BBM nonsubsidi, tetap dilayani petugas. "Untuk penjualan yang nonsubsidi juga gak terlalu banyak pengaruh ya, masih memilih pertalite seperti sebelumnya," ucap Angga.
Dikonfirmasi terkait antrean pembelian pertalite di sejumlah SPBU,
Area Manager Comm Rel & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Susanto August Satria mengatakan, pasokan BBM pertalite masih normal. Pihaknya juga tidak melakukan pembatasan.
“Memang sejak kenaikan harga September lalu, disejumlah SPBU terjadi antrean pengisian pertalite. Dampak kenaikan BBM pertamax series yang cukup tinggi mungkin membuat banyak masyarakat beralih,” terangnya kemarin. Dia menjelaskan, di Balikpapan dan Balikpapan pasokan pertalite ke SPBU masih normal. Nozzle pertalite juga masih seperti sebelumnya.
Dia mencontohkan, di Balikpapan, persediaan pertalite selalu ada. Hanya, memang mahalnya pertamax series membuat masyarakat migrasi. “Coba lihat kalau di nozzle pertamax, jarang terjadi antrean yang panjang,” katanya. Apalagi, kondisi ekonomi masyarakat sekarang ini dipukul dengan berbagai kenaikan. Walhasil, untuk BBM banyak masyarakat yang memilih BBM paling murah yakni, pertalite. Satria menyebutkan, rata-rata pasokan pertalite di setiap SPBU, sekali pengiriman sekitar 8–16 kiloliter. Jika habis, pihak SPBU bisa langsung kembali memesan.
Hanya saja, tidak langsung datang, butuh waktu. Mereka harus mengantre untuk kiriman mobil tangki ke SPBU. “Karena itu, ada beberapa SPBU, menulis pertalite habis. Biasa itu masih dalam pengiriman. Dalam beberapa jam biasanya sudah buka lagi,” tutur Satria. Kemudian, untuk kendaraan roda empat, pada saat pengisian pertalite, petugas harus mencatat nomor polisi kendaraan yang mengisi. Menurutnya, ini juga salah satu sebab. “Kalau di Kaltim masih pencatatan nopol (nomor polisi/pelat motor). Tapi masyarakat sudah bisa mendaftar di MyPertamina. Jadi nantinya, untuk mengisi pertalite cukup menunjukan QR yang diterima konsumen usai mendaftar di MyPertamina,” jelasnya.
PT Pertamina Patra Niaga Kalimantan mencatat, realisasi BBM bersubsidi hingga 23 Oktober untuk pertalite sebesar 516.649 kiloliter dari kuota 2022 sebesar 646.112 kiloliter. Ketua DPC Hiswana Migas Balikpapan Christofel mengatakan, keluhan yang disampaikan masyarakat terkait dengan antrean panjang yang terjadi di SPBU ditampung untuk disampaikan kepada masing-masing pengelola. “Memang kadang kita lihat antrean BBM pertalite. Ya, tidak menutup mata, masyarakat tentu banyak yang cari BBM lebih murah ditengah situasi ekonomi ini. Akhirnya, banyak penumpukan kendaraan yang mengisi pertalite,” jelasnya.
Selain itu, antrean mobil kadang terjadi karena beberapa kendaraan tidak tahu mengisi pertalite di antrean yang mana. Kecilnya lokasi SPBU membuat antrean bisa mengular. “Yang mau mengisi pertamax, karena tidak bisa masuk atau mengambil antrean nozzle pertamax, jadi harus ikut antre di antrean pertalite,” tuturnya. Selain itu, Chris tak menampik, penyebab antrean panjang di sejumlah SPBU mekanisme mencatat nomor polisi kendaraan. “Apalagi kalau barcode sudah diterapkan. Banyak masyarakat yang tidak paham mungkin, jadi menambah lagi antrean,” terangnya.
Kalau masalah pasokan, dia menegaskan tak ada masalah. Hanya ia akui, memang ada migrasi atau pergeseran. Sama halnya dengan elpiji.
“Siapa yang tidak mau membeli BBM lebih murah. Kalau yang setia pertamax, bisanya lebih kepada orang yang sayang dengan kendaraan. Bahkan, ada juga yang setia dengan pertamax turbo,” ungkapnya. (riz/k8)
AJIE CHANDRA
M RIDHUAN
Editor : izak-Indra Zakaria