SAMARINDA - Prestasi ditorehkan mahasiswa program studi Informatika Fakultas Teknik Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda. Empat kelompok, masing-masing meraih juara, runner up, peringkat 3 dan favorit dalam gelaran Hackathon 4.0 garapan Diskominfo Samarinda.
Lomba tersebut diadakan di Fox Lite Hotel Samarinda Jumat-Sabtu (13-14/10) lalu. Apresiasi pun disampaikan jajaran civitas akademika FT Unmul. Dekan FT Unmul Dahlan Balfas mengapresiasi kerja sama antara dosen dan mahasiswa Prodi Informatika.
Dirinya tidak menyangka inisiatif para mahasiswa dalam ajang tersebut berhasil memenangkan ajang tahunan tersebut. Ini sekaligus menjadi kado ulang tahun fakultas Teknik ke-20. “Terlebih sebelumnya prodi Informatika juga dinobatkan sebagai prodi terbaik kedua se-Unmul dalam Dies Natalis ke-61. Bersaing dengan lebih dari 90 prodi,” ucapnya.
Terkait pembinaan minat bakat mahasiswa, dia menyebut fakultas selalu mendukung, termasuk penggunaan fasilitas kampu pun diberikan keleluasan kepada mahasiswa menggunakan di luar jam kerja. Hal tersebut menjadi wewenang masing-masing kepala laboratorium.
“Sejauh ini selalu memberikan dukungan ketika mahasiswa mau menggunakan fasilitas kampus untuk mengasah diri,” ujarnya.
Koordinator Prodi Informatika Indah Fitri Astuti turut menyampaikan rasa bangga atas raihan mahasiswanya. Selama ini pihaknya terus mendukung minat bakat mahasiswa. Terlebih prodi Informatika sudah penerapan kurikulum berbasis industri.
“Termasuk membangun kerja sama dengan beberapa global tech, semisal Oracle, Huawei, Cisco, AWS, Alibaba Cloud, Mikrotik dan lainnya. Sehingga mahasiswa kami mendapat informasi terkini perkembangan industri teknologi tingkat global saat ini,” ucapnya.
Bahkan, ketika memang mahasiswa memiliki minat bakat tertentu para dosen siap membimbing. Dan saat akan mengikuti event tertentu, maka mahasiswa pun akan semakin diberi bimbingan yang ketat.
Sementara itu, salah seorang perwakilan juara Hackathon 4.0, dari tim Group of Amateur Technologist (G.O.A.T) Ahmad Dhiya Ulhaqi menceritakan pengalaman membangun aplikasi dalam 24 jam. Dia mengaku awalnya akan membuat aplikasi berbasis smartphone, namun karena keterbatasan waktu sehingga aplikasinya berbasis website.
“Kami melihat permasalahan, sulitnya mengakses informasi mengenai angkutan umum. Kami meneliti bahwa di Samarinda akan mengembangkan BRT (bus rapid transit). Sehingga diperlukan aplikasi yang bisa mengetahui lokasi bus, titik pemberhentian hingga biaya,” ucapnya.
Dia mengaku aplikasi yang dibangun saat hackathon tentu masih belum maksimal, sehingga masih akan dikembangkan lagi. Terlebih saat Ibu Kota Nusantara (IKN) nanti sebagai smart forest city, tentunya memerlukan aplikasi seperti ini.
“Harapan kami bisa memotivasi teman lain dan memberikan manfaat ke warga Samarinda dan Kaltim. Kami aka terus belajar kembali, dengan harapan produk yang dibuat bisa layak dipakai,” tutupnya.
Kembali ke Dahlan, dia menyebut aplikasi yang dibangun para mahasiswa ini bisa dijadikan sebagai salah satu syarat kelulusan dari jalur nonskripsi. Hal ini sejalan dengan kebijakan Kemendikbud Ristek yang baru. “Ini bisa jadi produk keluaran untuk tugas akhir. Agar bisa dikembangkan terus,” pungkasnya. (kri)
DENNY SAPUTRA
@dennysaputra46
Editor : izak-Indra Zakaria