TENGGARONG – Di era modern ini, musik tradisi seringkali terdengar asing di telinga masyarakat, khususnya kaum pemuda. Di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), musik tradisi masih menjadi tradisi yang sangat melekat dengan masyarakat lintas generasi.
Kekayaan pelestarian budaya ini yang menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Dinas Pariwisata (Dispar). Untuk mengabadikan dan memvisualisasikan musik tradisi melalui album kompilasi bernama “Swara Kutai: Merajut Bunyi Tanah Kutai”.
Album ini melibatkan 10 kelompok dan pelaku seni musik tradisi yang ada di Kutai Kartanegara. Mulai dari Musik Tingkilan, Musik Sampeq, Keroncong Tingkilan, Sastra Tutur, hingga modern. Beberapa musik diantaranya adalah:
1. Tingkilan Kaltim - Tingkilan
2. Keroan Bebaya - Pulau Kumala
3. Dawai 9 - Etam Sudahi Aja
4. Orkes Tingkilan Danau Lipan - Seni Budaya
5. Alif Fakod - Gelak
6. Saiful Anwar - Dandeng Asmara Cinta
7. Rondong Kumala - Rumah Khatulistiwa
8. Seni Ladon Panji Berseri - Karena Kunci
9. Trio Ndut - Ambai Payong
10. Ario Joyo Boyo - Tanah Ku
Album ini juga menyertakan lagu "Buah Ara" yang dinyanyikan oleh Akhmad Habibullah, penyanyi cilik berbakat Kutai Kartanegara.
Dijelaskan Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda. Album Swara Kutai ini merupakan program subsektor di bidangnya, yang bertujuan untuk melestarikan segmen kebudayaan. Dengan bentuk album rekaman, Swara Kutai diharapkan menjadi arsip pelaku subsektor ekraf di bidang musik.
“Kami ingin album ini dapat menumbuhkan pelaku baru untuk berkarya dalam industri musik tradisi. Kami juga mendorong agar album ini diputar di daerah tujuan wisata, sehingga mengakrabkan musik tradisi Kutai di lingkungan masyarakat luas,” ungkap Zikri.
Lanjut Zikri, Swara Kutai merupakan bentuk jejak rekam para pelaku musik tradisi. Bukan hanya menjadi arsip, namun juga menjadi referensi di setiap perjalanan bermusiknya. Untuk terus berinovasi dan mengembangkan secara teknis maupun secara musikal yang terbentuk secara intensif. S
Dalam pengembangan album sendiri, Dispar Kukar menggandeng Suryaah, seorang pelaku seni musik tradisi. Untuk menjadi narahubung antar kelompok di beberapa kecamatan Kukar. Dari kecamatan Tenggarong, Muara Kaman, Loa Janan hingga Anggana.
“Semoga dengan adanya Swara Kutai ini menjadi ruang seniman dapat berkreativitas lebih dari apa yang mereka inginkan,” tuturnya.
Bukan sekedar rekaman saura, Dinas Pariwisata Kukar juga menggandeng pemuda lokal yang tergabung di Pandawa Creative. Untuk memvisualisasikan musik tradisi ini dalam bentuk 10 video klip yang syuting di destinasi wisata unggulan Kukar.
Syuting ini melibatkan 12 pemuda yang bertalenta di bidangnya. Mereka adalah Akhkamil Hakim, Izha, Abdiannur, Ramadhan Putra, Khusnul Khotimah, Boyonesia, Miftah, Bagas, Mohammad Ariansyah, Agung Hab, Muhammad Ardinanda, dan Zidan Septian.
Abdiannur yang menjadi sutradara kru video klip ini mengatakan syuting telah dilakukan sejak tanggal 28 November lalu. Selama dua pekan, kelompoknya melakukan syuting hingga proses editing. Untuk mewujudkan visualisasi musik tradisi ini.
“Di video klip ini kami coba angkat konsep kekayaan budaya dan wisata Kutai Kartanegara,” jelas Abdiannur.
Mengangkat konsep kekayaan budaya dan alam yang terpadu di destinasi wisata unggulan Kukar. Abdiannur mengatakan syuting dilakukan di Air Terjun Perjiwa, Taman Titik Nol Tenggarong, Museum Mulawarman, Bundaran Tuah Himba.
Diikuti dengan Taman Gubang, Ladaya, Simpang Empat Odah Etam, Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Jam Bentong, serta Taman Kartanegara. Syuting dilaksanakan dengan melibatkan masing-masing kelompok musik yang ada di album.
“Alhamdulillah meskipun kita menghadapi cuaca, tapi syuting berjalan dengan lancar. Nanti video klip ini dapat disaksikan di YouTube Dinas Pariwisata Kukar dan DVD album Swara Kutai,” tutupnya. (moe)
Editor : Indra Zakaria