Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Menagih Janji Pemimpin

wahyu-Wahyu KP • 2019-01-03 08:11:24

CATATAN: ISMAIL *)

SESAMA warga Paser, apalagi sesama muslim adalah wajar saling mengingatkan antara satu dengan yang lain. Pasalnya, manusia makhluk pelupa, maka di sinilah pentingnya tawaashau bil haqq, tawaashau bi al-shabri, wa tawaashau bil marhamah(Saling menasihati dengan kebenaran, saling menasihati dengan kesabaran, dan saling menasihati dalam cinta dan kasih sayang).

Insyaallah, tulisan ini salah satu taushi yang dilandasi kecintaan dan kasih sayang kepada Pemkab Paser yang bersemboyan Olo Manin Aso Buen Siolo Ndo.  Juga semata karena cinta seorang rakyat kepada pemimpinnya.

29 Desember 2018, Kabupaten Paser berusia 59 tahun. Jika diibaratkan manusia, ia sudah cukup sepuh dan memiliki kematangan jiwa. Jika ia ASN, maka sudah purnatugas. Selayaknya sudah banyak karya dan hasil nyata yang dipersembahkan untuk para generasinya.

Kita memang tak bisa menutup mata atas keberhasilan dan kemajuan Paser di usia ke-59 tahun. Penulis yang lahir di Paser tahun 70-an, merasakan betul hasil pembangunan dan kemajuan tersebut. Sekadar sampel. Saat penulis masih SD di Kecamatan Tanjung Harapan, Desa Tanjung Aru, tahun 80-an, teman yang menerangi penulis belajar di malam hari adalah lampu semprong atau palita.

Yaitu fasilitas penerangan yang terbuat dari kaleng susu diisi minyak tanah bersumbu gulungan kain, yang tak jarang membuat hidung menjadi hitam karena terkena asapnya. Alhamdulillah saat ini, anak-anak SD di Tanjung Aru sudah menikmati belajar malam dengan penerang lampu yang bersumber dari PLN.

Dahulu, warga Tanjung Aru, termasuk penulis, jika hendak ke ibu kota Paser, Tanah Grogot, entah itu untuk urusan belanja atau urusan pemerintahan, harus menempuh waktu 5–6 jam. Lewat jalur Muara Pasir. Alhamdulillah, mulai awal 2000-an, sejak terbukanya akses jalan Lori-SP3 (Laburan)- Tanah Grogot, perjalanan hanya menempuh waktu lebih kurang 2–2,5 jam.

Itu hanya dua contoh kemajuan pembangunan infrastruktur yang penulis alami dan rasakan sendiri. Sebenarnya masih banyak capaian pembangunan di Paser yang insyaallah dinikmati sebagian warga Paser, tapi tak mungkin diuraikan satu demi satu di sini.

Meski sudah banyak kemajuan yang dicapai Paser di usianya ke-59,  kita pun tak boleh menutup mata bahwa masih ada infrastruktur, terutama jalan-jalan desa yang rusak parah. Ketika musim hujan penuh lumpur dan seperti bubur. Ketika musim kemarau penuh debu dan membuat mata kabur.

Jadi, penulis teringat ketika masa kampanye pada 2015 oleh salah satu pasangan cabup-cawabup Paser bahwa jika dia menang dan jadi bupati Paser, akan menganggarkan pembangunan untuk di desa-desa 70 persen dan di kota 30 persen.

Qadarullah, pasangan tersebut benar-benar jadi bupati-wakil bupati Paser untuk periode 2016–2021. Kini saatnya janji politik tersebut harus direalisasikan. Sebab, pepatah Arab menyatakan Al Wa’du Dainun (janji itu adalah utang). Janji yang tidak ditunaikan berarti berutang kepada yang dijanjikan.

Janji politik  bupati-wakil bupati yang tak sempat ditunaikan merupakan utang kepada rakyat. Jika janji itu ada unsur kesengajaan tidak ditunaikan, maka dia telah mengingkari janjinya kepada rakyat dan berutang besar kepada rakyat. Juga kepada Allah SWT.

Penulis hanya mengingatkan bahwa gara-gara utang bisa jadi penghalang seseorang memasuki surga. Meski utang itu hanya sebuah jarum. Demikian Sabda Nabi SAW. (pms/jib/kri/k16)

*) Penulis adalah Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Fikih Man IC se-Indonesia

Editor : wahyu-Wahyu KP