Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Dua Kali Dijilat Api

wahyu-Wahyu KP • 2019-01-03 08:33:24

SAMARINDA – Duka mengawali 2019 di ibu kota Kaltim. Si jago merah mengamuk di permukiman padat kemarin (2/1). Dimulai dengan peristiwa di Jalan Sultan Sulaiman, Pelita II, RT 5, Kecamatan Sambutan. Lalu di Jalan Raudah V, Kelurahan Teluk Lerong Ilir, Kecamatan Samarinda Ulu sekitar pukul 14.10 Wita.

Dua kawasan tersebut memang dikenal cukup padat. Jarak rumah satu dengan yang lain terbilang dekat. Selain itu, akses lalu lintas yang sempit, membuat kewalahan petugas. Terlebih di daerah yang bergunung.

Mengawali kejadian di pagi hari, kondisi lalu lintas cukup padat, karena Rabu (2/1) adalah hari pertama beraktivitas. Baik bagi para pekerja, maupun anak sekolah. Pukul 07.20 Wita, sirene diikuti klakson mobil dan truk pengangkut air membuat kendaraan menepi. Mempersilakan petugas dan relawan pemadam kebakaran lebih cepat ke lokasi. Di kawasan Pelita II.

Pukul 06.30 Wita, Yunita Sari (26) bersolek. Mempersiapkan diri untuk berangkat kerja. Perempuan berhijab itu salah seorang karyawan bank. Pakaian khas biru muda dengan jilbab kuning. Tak lupa kartu nama dijepitkan di baju. Pagi-pagi sekali dia sudah meninggalkan rumah. Belum lama dia sampai di tempat kerja, panggilan telepon masuk ke ponselnya. Kabar duka. Rumahnya diamuk si jago merah. Dia pun meminta izin agar kembali lebih dulu. 

Wati Arya Wardana, ibu rumah tangga (IRT) yang pertama melihat asap tebal diikuti warna kemerahan dari bangunan lantai dua rumah milik Arni (58), orangtua Yunita. Dia lantas terburu-buru menggedor pintu rumah.

“Setahu saya, ibunya Yunita itu selalu di rumah. Makanya saya ketuk terus,” ungkap Wati. Sementara api terus membesar, tangannya tak berhenti mengetuk pintu. Feeling Wati benar, Jammaiah (58) masih di dalam. Keluar mengenakan handuk. “Enggak dengar karena mandi, keran air dinyalakan deras rupanya,” tutur Wati.

“Ayo bu, kebakaran,” pekiknya kepada Jamma. Perempuan paruh baya itu bergegas. Masuk sebentar, berganti pakaian, dan langsung keluar. Menjauh dari kediamannya yang dijilat api. Truk pemadam hanya bisa sampai ke jalan utama. Untuk bisa sampai ke titik api, aksesnya hanya selebar 2 meter. Hal itu membuat truk dan mobil-mobil berhenti di jalan utama. Wati yang saat itu sedang lapar dan berniat mencari sarapan, mendadak ikut panik.

Diterangkan Yunita, di lantai dua memang kamar yang dihuninya. “Sebelum saya berangkat kerja, kabel kipas sempat saya cabut,” ungkapnya.

Sebelum berangkat, dia juga tak ada mencium aroma menyengat kabel yang terbakar. Televisi di kamarnya pun tak pernah dinyalakan. Dia merasa heran jika ada korsleting di lantai dua. Satu jam lebih petugas pemadam kebakaran akhirnya berhasil menjinakkan api.

Setelah kebakaran, aroma gas begitu menyengat. Ya, kawasan Pelita II sudah masuk dalam daerah jaringan gas (jargas) yang merupakan proyek pemerintah.

Enam jam setelah kejadian di kawasan Pelita II, Sambutan, api kembali mengamuk. Sasarannya juga di permukiman padat penduduk. Dua rumah kayu di Gang 10 B Jalan Raudah 5, RT 23, Kelurahan Teluk Lerong Ilir, Kecamatan Samarinda Ulu, ludes terbakar.

Api begitu cepat membesar, dan merembet ke bangunan lain. Petugas pemadam dan relawan mengalami kesulitan mencapai lokasi. Gang yang sempit dan berada di jalur menanjak membuat petugas harus mengeluarkan ekstra tenaga. Rumah yang terkena adalah milik Rusnah dan Mukti. Sementara satu bangunan lain, yakni milik Suwarti turut rusak di bagian dapur.

Kebakaran tentunya membuat warga panik. Alin Reczha (25), saksi yang melihat kejadian menjelaskan, kepanikan terjadi ketika masyarakat berusaha menyelamatkan harta benda masing-masing. Namun, selain menyelamatkan, warga juga ada yang menyiram dari atas dengan alat seadanya.

“Langsung besar, enggak dengar juga ada ledakan,” sebutnya. Warga sekitar terus berteriak, meminta petugas pemadam bergerak lebih cepat. Sulitnya akses di daerah padat, dengan jalur yang sempit, tentu tak bisa membuat petugas leluasa. Namun, kesigapan para penjinak api patut diacungi jempol. Strategi pengepungan titik api dirasa ampuh agar tak terus merembet ke bangunan yang lain.

Dua musibah kebakaran di awal 2019 tentu mengenang memori setahun sebelumnya. Juga dibuka dengan kebakaran di Kompleks Balai Kota Samarinda. Pada 2016, kejadian api mengamuk menjelang petang juga membuka lembaran duka Kota Tepian.

Kasat Reskrim Polresta Samarinda Kompol Sudarsono menjelaskan, tentunya ada penyelidikan untuk mencari tahu penyebab kebakaran. “Ada, tapi tidak bisa secepatnya. Oleh jajaran polsek tentu sudah ada keterangan sementara dari korban dan saksi,” singkatnya. (*/dra/dwi/k15)

Editor : wahyu-Wahyu KP