SAYA harus mengatur rute perjalanan hari Selasa (14/1) kemarin. Sebab, hampir semua jalan utama menjadi rute iring-iringan penjemputan tibanya Piala Adipura. Takut terjebak di satu tempat. Membuat jadwal jadi terganggu.
Niatnya mau sarapan bubur ayam Bu Basri di Jalan Dr Murjani I, sambil melihat situasi terkini warga yang sudah dua hari bermalam di halaman kantor Disperindagkop. Sebelum bergerak, saya sudah dapat informasi bahwa pengunjuk rasa sudah bubar. Saya maknai, sudah ada kesepakatan. Baguslah.
Saya ubah arah tujuan. Teringat kantor perpustakaan yang gedungnya terlihat jelas dari tempat saya tinggal. Rasanya, Kabupaten Berau satu-satunya daerah yang punya perpustakaan daerah dengan gedung yang bagus. Berlantai tiga. Lama juga tidak mengunjugi tempat ini. Padahal, kalau sore hari, saya sering olahraga tipis-tipis di sekitar kawasan itu.
Sekarang sudah menjadi kantor dinas. Pimpinannya seorang pejabat eselon II. Kini pejabat baru, Pak Hendratno, yang mengganti pejabat lama yang purna tugas. Saya teman baik. Tapi, saya tak ingin mengganggu kesibukan beliau. Apalagi masih baru. Masih butuh banyak penyesuaian. Lagipula, ada mobil dinas yang sudah dihias, untuk menjemput di Bandara Kalimarau.
Di ujung tangga menuju lantai dua, saya mengisi daftar tamu melalui aplikasi komputer yang sudah disiapkan. Tak perlu buku agenda, yang kadang nomor urutnya tidak beraturan. Juga cepat kumal. Ada dua petugas yang menerima tamu dan mengarahkan. Malu-malu kucing juga, ketika petugas bertanya soal keanggotaan perpustakaan. Hehehhe. Saya memang belum terdaftar sebagai anggota.
Ada tiga wanita cantik berbaju putih. Duduk di ruang baca. Mereka petugas perpustakaan. Beberapa rak buku tersusun rapi. Di salah satu ujungnya tercatat kelompok bacaan. Saya hanya mau mencari bacaan ringan saja. Tapi buka resep bagaimana membuat sop tulang kacang merah. Istri saya sudah sangat hafal.
Ada banyak CCTV yang dipasang. Kalau Pak Hendratno mencermati layar CCTV, pasti dia melihat saya sedang berada di ruang baca. Tapi, belum tentu dia datang menemui. Suasananya masih sepi. Biasanya pada jam istirahat, barulah suasana agak ramai. Banyak pelajar dan mahasiswa yang berkunjung.
Saya sebetulnya mencari buku tulisan teman saya Aqua Dwipayana. Bukunya laris manis. The Power of Silaturahmi. Buku yang bercerita soal pengalaman. Sama dengan buku tulisan Pak Dahlan Iskan, Ganti Hati.
Saya duduk di meja baca. Meja yang mirip dengan meja permainan Bridge. Saya membayangkan, betapa besar perhatian pemerintah terhadap literasi. Perpustakaan bagian penting dalam membangun sumber daya manusia.
Saya ingat dulu. Kantor perpustakaan yang berada di kawasan Jalan Sudirman. Bangunannya tidak menarik. Bangunan tua. Gelap dan pengap. Koleksi bukunya juga sangat sedikit. Sekarang, berada di kawasan dengan pemandangan yang indah. Kita bisa melepas pandangan ke arah Sungai Kelay. Dan, di bagian belakang ada Taman Sanggam yang terkoneksi dengan halaman perpustakaan. Ada gazebo. Bisa membaca sambil rileks. Sayang, tamannya memang belum ada pohon yang rimbun. Masih terbatas, bila ingin memanfaatkan bacaan di Taman Sanggam. Perpustakaan daerah ini hebat.
Saya punya teman, namanya Badolahi. Ia doktor perpustakaan lulusan Inggris. Sekarang bertugas mengelola perpustakaan di Institut Pertanian Bogor. Sudah beberapa kali ke Berau. Terakhir, saat melakukan seleksi lapangan perpustakaan sekolah. “Perpustakaan di Berau itu hebat,” kata teman saya itu. Sayapun berbunga-bunga. Bu Ita, yang kepala sekolah itu, lebih berbunga-bunga lagi.
Saya sempat diskusi ringan dengan petugas yang ada di ruang baca. Saya tanya jumlah buku yang jadi koleksi. Iapun menyebut angka 13 ribu. Saya bayangkan perpustakaan Kaltim yang koleksinya 200 ribu. Masih sangat sedikit. Masih sangat tidak cukup. Terkadang anggota harus “rebutan”. Karena buku yang terbatas.
Dalam soal bacaan, ada standar UNESCO yang menyebutkan, setidaknya setiap orang membaca sebanyak 7 judul buku setiap tahunnya. Lagi-lagi, harus digalakkan gemar membaca. Atau lomba membaca cerpen. Atau apapun itu. Untuk menarik minat baca.
Kalau Kaltim punya 15 ribu judul e-book, untuk perpustakaan Berau memang belum punya buku elektronik. Ini mungkin yang perlu diwujudkan. Sebab, fasilitas bacaan seperti ini, untuk memudahkan saja. Kalau dibutuhkan beberapa lembar untuk catatan kaki tulisan, tinggal print saja.
Oh iya, hampir lupa. Saya memang bermaksud untuk mencari bacaan yang tidak berat. Saya ambil novel berjudul An Other Heart karya T Andar. Di sampul depan ada kalimat singkat berbunyi begini “Ke arah hatiku berlayar. Saat kabut gelap dan gelombang tiba-tiba menghadangku”.
Hampir sejam saya di perpustakaan. Saya harus cepat berlalu, sebab Jalan Milono akan dilewati iring-iringan kendaraan Adipura. Ada tanda-tanda hujan akan turun. Saya jumpa Pak Sinung, yang menjelajah dunia maya yang ditempatkan tak jauh dari pintu masuk. Masih di halaman perpustakaan, saya masih teringat novel yang saya baca beberapa halaman tadi. Kisah Gadis yang Menikahi Lelaki Bukan Pilihannya. Wow gitu..hehe. (mps/udi)
Editor : uki-Berau Post