BIAYA membangun pipa dan jaringan air ke Gunung Teknik tidak murah. Untuk pembuatan satu sumur bor, dibutuhkan alokasi anggaran antara Rp 1-2 miliar. Itu belum termasuk biaya pengelolaan IPA yang bisa mencapai Rp 10-20 miliar.
“Itu baru gambaran kasar, belum masuk masalah teknis. Misalnya di daerah dataran tinggi, maka perlu pompa dan listrik. Sehingga dibutuhkan biaya sampai Rp 40 miliar,” kata Dirut PDAM Haidir Effendi.
Dia melanjutkan, saat ini masih terdapat beberapa daerah di Balikpapan yang belum tersentuh pelayanan PDAM. Antara lain Gunung Teknik, Telaga Sari, Gunung Guntur, Jalan Jokotole, dan Sepinggan dari Kampung Damai hingga ke Batu Ampar. Kondisi itu diperparah dengan kondisi topografi Balikpapan yang 70 persen adalah daerah perbukitan. Air dari pipa PDAM mesti didorong ke atas menggunakan pompa dan listrik yang maksimal. Bila listrik mati, maka normalisasi butuh waktu dua sampai tiga hari.
“Balikpapan ini airnya kurang. Kemudian topografinya daerah perbukitan. Manajemen distribusinya benar-benar lebih kompleks,” kata Haidir.
Masalah lainnya, yakni 75 persen air baku yang dimiliki PDAM Balikpapan disuplai dari Waduk Manggar dan 25 persen sisanya bersumber dari sumur dalam atau bor. “Dari investasi Rp 1,5 miliar hingga Rp 2 miliar, air baku yang didapatkan paling banyak 10 liter per detik. Bagi bisnis air, sumur dalam enggak bisa untuk investasi,” jelasnya.
Karenanya, ia menyarankan, jika memang pemerintah berkeinginan menyuplai air bersih di Gunung Teknik, maka dapat dilakukan dengan membangun sumur atau embung sebagai sumber air baku IPA di daerah itu. “Cara mengatasi itu bisa dengan program Pamsimas (Penyedia Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat, Red). Program itu kewenangan Dinas PU Balikpapan,” tandasnya.
Sejauh ini, PDAM Balikpapan baru memiliki delapan IPA. Antara lain IPA Kampung Damai dengan kapasitas 400 liter per detik. Sekitar 350 liter air baku itu bersumber dari Waduk Manggar dan 50 liter lainnya berasal dari beberapa sumur di Kampung Damai.
IPA lainnya, yakni di Kilometer (Km) 8, Batu Ampar dengan kapasitas 500 liter. Air itu 100 persen bersumber dari Waduk Manggar. Jika Waduk Manggar dihentikan, maka pelayanan air di IPA itu akan berhenti total. Sementara untuk beberapa IPA lainnya berada di Kampung Baru, Prapatan, Teritip, Gunung Tembak, dan IPA Waduk Manggar dengan kapasitas masing-masing 50 liter per detik. Sedangkan IPA yang memiliki kapasitas 150 liter per detik hanya di Gunung Sari Ilir. (*/drh/rsh/k15)
Editor : wahyu-Wahyu KP