Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Sepinggan Tak Terganggu, PHRI Mulai Waswas

wahyu-Wahyu KP • 2019-01-17 08:59:31

BALIKPAPAN – Mahalnya harga jual tiket pesawat belum berdampak terhadap aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan. Angkasa Pura (AP) I Balikpapan selaku pengelola bandara pun menilai hilir mudik penumpang masih normal dan stabil.

Humas Angkasa Pura I Balikpapan Mega Andanina menyebut, kegiatan penerbangan di Bandara Sepinggan sampai kemarin masih terpantau kondusif. “Kegiatan penerbangan enggak berpengaruh dan masih lancar-lancar saja,” ujarnya.

Kata dia, AP I tidak mempunyai kewenangan atau kebijakan untuk mengintervensi harga tiket pesawat. Itu sepenuhnya menjadi kewenangan maskapai. “Yang kami lakukan adalah menjaga agar operasional tetap lancar dan optimal,” katanya.

Andanina mengaku, pada prinsipnya pihaknya mendukung apapun yang dilakukan maskapai agar dapat beroperasi dengan baik. Namun, dengan catatan, selama kebijakan itu masih dalam koridor aturan, kenyamanan, dan servis kepada penumpang.

“Ketika ada keluhan masyarakat, kami akan menampung masukkan itu dan akan kami sampaikan kepada masing-masing maskapai penerbangan,” tegasnya.

Walau begitu, diakui, setelah libur Natal dan tahun baru memang ada tren penurunan jumlah penumpang. Namun, menurutnya, masih wajar dan biasa terjadi. “Tapi untuk data di Januari ini, kami belum memilikinya,” kata dia.

Sementara Perhimpunan Restoran dan Hotel Indonesia (PHRI) Balikpapan sendiri mulai merasa waswas dengan mahalnya harga tiket pesawat saat ini. Lebih-lebih dengan telah beroperasinya Bandara APT Pranoto di Samarinda.

Ketua PHRI Balikpapan Sahmal Ruhip mengaku, pelan tapi pasti, naiknya harga tiket pesawat bakal berdampak pada bisnis perhotelan di Kota Minyak. Apalagi dengan kondisi ekonomi masyarakat yang semakin sulit sekarang ini.

“Semua pasti berdampak. Dengan beban ekonomi yang semakin tinggi sekarang, ditambah dengan naiknya harga tiket, tentu membuat orang berhitung-hitung lagi untuk bepergian ke luar daerah,” sebutnya.

Contohnya, beberapa dari pengurus PHRI Balikpapan yang berencana menghadiri rapat kerja nasional di Jakarta pekan depan, telah mengurungkan niat dengan alasan mahalnya biaya transportasi.

“Awalnya kami mau berangkat sekitar enam orang. Tetapi dengan mahalnya harga tiket, kemungkinan yang berangkat hanya tiga. Pulang balik Balikpapan-Jakarta untuk satu orang dibutuhkan Rp 3 juta. Apalagi harga tiket pesawat sekarang juga naik, pasti tambah ongkos lagi,” tuturnya.

Menurut dia, mahalnya harga tiket pesawat akan memberikan kerugian tersendiri bagi bisnis perhotelan. Dari sisi okupansi diperkirakan mengalami penurunan. Karena kemungkinan besar banyak wisatawan akan mengurungkan niatnya berkunjung ke Balikpapan.

“Okupansi dalam beberapa tahun terakhir saja mengalami penurunan. Naiknya harga tiket sekarang, pasti akan memberikan dampak. Sekarang memang belum terlalu signifikan kita rasakan. Tapi itu pasti akan terjadi,” imbuhnya.

Ketika Bandara APT Pranoto Samarinda beroperasi misalnya, tingkat okupansi hotel di Balikpapan langsung mengalami penurunan. Masyarakat dari Sangatta, Bontang, dan Tenggarong yang biasanya transit menginap di sejumlah hotel di Balikpapan, nyaris tidak ada lagi.

“Sebelum mereka terbang ke Jakarta, Makassar, atau Surabaya, biasanya mereka menginap dulu di Balikpapan. Tapi sekarang mereka sudah teralihkan semua ke Bandara APT Pranoto. Apalagi dengan harga tiket yang semakin mahal, ya makin enggak ada lagi yang ke Balikpapan,” imbuhnya.

Berdasarkan hasil kajian tim ekonomi Pemkot Balikpapan, tingkat okupansi mengalami penurunan pada 2018. Mereka yang menginap di hotel bintang empat dan lima hanya berada di angka 10-15 persen.

Meski untuk okupansi hotel bintang tiga ke bawah mencapai 30-40 persen. Pertimbangan harga yang lebih murah menjadi alasan masyarakat memilih menginap di hotel bintang tiga hingga hotel melati.

“Secara data statistik, naik dan turunnya angka okupansi selama dua pekan terakhir memang belum dapat kami lihat. Tapi kalau kondisi seperti itu terus terjadi, tentu akan memberikan dampak,” katanya.

Kata dia, hotel berbintang seperti Aston atau Ibis, bisa dikatakan tidak terlalu khawatir dengan naiknya harga tiket pesawat. Sebab, mereka telah memiliki jaringan yang bagus, baik secara lokal, nasional, dan internasional.

“Mereka sudah punya paket wisata. Mereka enggak akan kekurangan tamu karena punya banyak paket diskon. Tetapi itu kan tidak berlaku untuk hotel lainnya yang ada di Balikpapan. Pemerintah saya kira perlu memikirkan hal itu,” harapnya. (*/drh/dwi/k18)

Editor : wahyu-Wahyu KP