Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Tersengat ‘Bisa’ Cupang

uki-Berau Post • Senin, 18 Februari 2019 | 13:11 WIB

MENDENGAR kata ‘Cupang’, banyak orang yang bisa dibuat tersenyum. Tapi, jangan salah, sepertinya historisnya seperti itu. Ketika terjadi pergumulan yang sengit, berakhir dengan sebuah luka. Luka yang memerah pada bagian mulutnya. Entah yang mana lebih awal. Pergumulan antara sesama ikan hias Cupang (Betta sp) aduan atau sebutan cupang lainnya.

Saya beruntung, Jumat (15/2) malam lalu diajak Pak Sinung, teman saya, untuk hadir dalam sebuah Workshop di Hotel Bumi Segah membahas soal ikan hias jenis cupang (Betta sp). Pembicaranya juga bukan sembarangan, Joty Atmadjaja. Dia pemilik Jotybetta Galerry. Dia datang bersama istrinya, Lily W.Ekopurnomo. Ia berbagai ilmu dengan para penggiat ikan hias cupang. Saya menyebutnya Cupangers hehehe.

Saya terheran-heran. Di ruang Geneva London, hotel itu, berkumpul banyak anak muda. Mereka ini yang menekuni bisnis ikan cupang. Juga membudidayakannya dari berbagai jenis. Banyak dari mereka, sudah menggantungkan pendapatannya dari bisnis ikan hias. Termasuk Joty Atmadjaja. Juga Mirza, anak muda yang tinggal di Cilandak, Jakarta, sukses usaha ikan cupang.

Mereka, para anak muda tengah mempersiapkan kontes ikan cupang yang dipusatkan di Teluk Bayur. Biasanya diadakan indoor. Karena itu, mereka mengundang Joty dan Mirza, baik sebagai juri maupun sebagai penyemangat berbagi pengalaman. Memang yang diterangkan dalam workshop yang berlangsung hingga Pukul 23.00 Wita, itu terkait teknis penjurian. Di luar arena, juga diungkap bagaimana bisnis ikan hias yang prospeknya sangat cerah. “Berau punya potensi besar, karena ada jenis lokal yang tidak dimiliki daerah bahkan negara lain,” kata Joty.

Saya ingat, ketika SMP di Makassar, juga suka mengembangbiakkan ikan jenis Koki. Rela tiarap sekitar parit untuk mendapatkan telur nyamuk. Lumayan, pengembangan itu menghasilkan uang belanja. Jenis ikan cupang juga sudah saya tahu waktu itu. Tapi tidak tertarik, karena yang ada di benak, hanyalah jenis ikan aduan. Ternyata banyak jenis lainnya.

Coba buka google, tulis jenis ikan cupang. Maka akan muncul sejumlah nama dan jenis ikan yang menarik. Ada ikan cupang crowntail. Ada Halfmoon (Bulan Sepotong) ikan yang indah menarik. Jenis ikan cupang asli Indonesia seperti Crown Tail (serit). Untuk jenis Plakat (petarung) si Kekar yang sangar. Jenis lainnya, Ikan cupang double Tail, Ada cupang raksasa (giant). Baru terbuka juga wawasan saya.

Di Makassar, ada kawasan yang disiapkan oleh pemkot khusus untuk menjual ikan hias. Di tempat inilah berlangsung transaksi ikan hias. Menampung ikan hias produksi rumahan (pembudidaya). Di Jakarta juga ada beberapa tempat penjualan ikan hias. Ada di sentra ikan hias Cengkareng, ada juga di trotoar Jatinegara.

Tempat lainnya di Jalan Sumenep. Di tempat ini, saya sering nongkrong melihat ikan hias yang ditawarkan. Sempat juga tergoda membeli ikan jenis Arwana Golden Red. Hahaha, ngirimnya yang ribet. Harus punya sertifikat maupun chips. Saya beli seharga Rp 5 juta dua tahun lalu.  Sekarang, kalau saya mau jual kembali, mungkin sudah 3 kali lipat. Ikannya sudah semakin besar.

Saya juga mulai tergoda memelihara sekalian mengembangkan jenis ikan cupang. Sejak lama saya bersemangat. Setelah hadir di Bumi Segah, semakin tergoda. Saya suka penampilannya. Tenang meski di tempat yang sempit. Meliuk, memperlihatkan keindahan badannya. Sama dengan ikan Arwana di akuarium di rumah saya, yang juga tenang, memancarkan warna keemasan dan kemerahan bagian ekornya. Ada teman saya yang menjanjikan, mau memberi jenis Super Red, waduh, jenis ini yang saya impikan. Jenis ini harganya mahal. Tidak sanggup membeli.

Meski kali pertama saya disambut oleh teman-teman para pencinta cupang. Saya ingin menyemarakkan. Baik lewat kontes ataupun bukalapak cupang. Sebab, bukan hanya punya nilai jual, tapi juga punya nilai promosi daerah.

Sebab, ada beberapa jenis endemik yang hanya ada di Berau. Teman saya Pak Sinung menemukannya di rawa Kampung Bangun, Sambaliung. Di Berau, namanya ikan tempalo. Masuk kategori Wild Betta.  Ada juga yang ditemukan di Sungai Aro, Talisayan pada 2008. Ini punya nilai jual yang tinggi. Jenisnya unik warna gelap. Bisa saja menghasilkan jutaan rupiah dari bisnis ikan cupang endemik Berau.

Tiba-tiba hilang konotasi cupang yang lainnya. Saya pastikan, minggu ini sudah ada toples berukuran kecil yang tersimpan di meja ruang tamu. Isinya cupang halfmoon yang merah. Atau jenis lainnya, biar saat ada teman ke rumah, saya bercerita dulu soal ikan cupang, sebelum cerita lainnya.

Hanya jumpa semalam, saya sudah tersengat ‘bisa’ cupang. Kalau ke Makassar nanti, saya akan nongkrong di Jalan Mangkura, tempat bisnis ikan hias.  Atau bila ke Jakarta ke Jalan Sumenep. Di Balikpapan ke kios ikan hias di Jalan Stal Kuda. Samarinda di Jalan Pahlawan yang juga jadi pusat penjualan ikan hias. Mungkin hanya cuci mata atau beli dan bawa pulang. Sambil berharap kelak ada juga di Tanjung Redeb.(*/asa)

 

 

 

Editor : uki-Berau Post
#Catatan