TIDAK begitu ceritanya. Tapi ada anekdot lucu-lucuan. ‘Jangankan teman, saudarapun di Sop’. Banyak yang bertanya, mengapa pemilihan nama Sop Saudara. Bukan nama sop lainnya. Dari Papua hingga Sumatera, yang ada hanya satu nama yakni, Sop Saudara.
Sabtu (2/3) lalu, saya bersama tiga orang teman, menikmati makan siang di warung Sop Saudara. Ini kunjungan yang kesekian kalinya dalam dua pekan terakhir. Lebih sering mengunjungi tempat ini untuk santap siang. Tak membosankan. Walaupun menunya, itu-itu saja. Ikan bakar dan sop.
Biasanya yang bertugas membakar ikan, karyawannya. Entah, hari itu yang turun tangan langsung pemiliknya yakni Haji Halik. Lama juga tidak bertemu. Biasanya jumpa di tempat lomba Gaplek alias Domino. Atau sekadar berbincang dengannya di tepian sungai. Banyak hal yang dikisahkan. Termasuk cerita politik.
“Jadi siapa yang kita unggulkan pemilihan 17 April nanti?” kata Halik sambil membolak-balikkan ikan bandeng bakarnya. Sudahlah, kata saya, tak usah kita bicara politik. Nanti akan tiba masanya, siapa yang menurut kita masing-masing cocok di hati untuk kita pilih. Sekarang kita konsen saja berusaha. “Tapi perlu juga kita bahas, biar nambah wawasan,” kata Pak Haji sambil tertawa.
Saya dan banyak konsumen di Berau, menjadikan Sop Saudara sebagai salah satu menu favorit. Tak salah, warung milik Haji Halik pun banyak peminatnya setiap hari. Warung ini hanya buka siang hingga sore. Malam hari istirahat. Juga pada saat Ramadan, Haji Halik konsen ibadah, warung tutup sebulan penuh.
Menu khas Sulawesi Selatan memang banyak ragamnya. Tetapi, mengapa untuk jenis makanan yang satu ini, tidak menggunakan nama yang khas. Misalnya, Sop Konro, Coto Makassar, Sop Pallu Basa. Mengapa jenis yang satu ini sederhana sekali. Sop Saudara. Dari mana asal muasalnya. Saya harus jawab pertanyaan banyak orang. Dari mana asal nama tersebut. Saya akan meminta waktu Haji Halik ataupun istrinya untuk menjelaskan dari mana hingga nama sop ini menjadi Sop Saudara. Pasti ada ceritanya.
Seperti biasa, saya selalu pesan Kepala Ikan Bandeng bakar. Kadang juga kalau lagi ingin, saya pesan khusus Pallumara (masak kuning) ikan Bandeng. Pasti dibuatkan istri Haji Halik. Di warung ini juga sekalian menjadi warung silaturahmi. Jarang bertemu seseorang, tapi di luar dugaan, justru bertemu di warung Sop Saudara. Jadi, porsi yang menjadi pesanan saya, kepala Ikan bandeng, semangkok sop yang isinya hanya paru goreng serta sepiring nasi. Lengkap.
Jadi ceritanya begini, kata istri Haji Khalik. Dulu, ada seorang pedagang yang berniat hijrah ke Makassar dari kampungnya di Pangkep (Pangkajene Kepulauan). Niatnya mau jual sop. Dalam perjalanan, ia bingung nama apa yang harus diberikan pada jualannya. Hehe, ternyata soal Brand (merek) dagang itu sudah jadi persoalan sejak dulu.
Lalu, ada kebiasaan di kalangan mereka, siapapun disapanya sama. Ia tidak menyebut pak pada seseorang. Tapi, sapaannya adalah ‘Saudara’. Baik tukang becak, juga disapa ‘Saudara’. Termasuk Gubernur, jika masuk ke warung, juga sapaannya adalah ‘Saudara’. Kalau saya tentu tidak berani menyapa bupati apalagi gubernur dengan sapaan ‘Saudara’. Dari situlah, sehingga pedagang yang hijrah dari Pengkep, mendapatkan nama untuk jualannya. Kan Sop Konro sudah ada, Coto Makassar juga. “Saya pakai Sop Saudara saja,” kata istri Halik mengulang kisah awal Sop Saudara.
Ada beberapa teman saya seperti Haji Rustan, Mahmud Suyuti, sangat akrab dengan kata ‘saudara’. Setiap perbincangan atau diskusi apapun sebutan ‘saudara’ sangatlah sering sebagai pengganti kamu, anda. Bisa jadi, kebetulan Mahmud Suyuti itu juga asalnya dari Pangkep. Itu ucapan khas mereka. Ada lagi yang menarik bahwa siapapun yang berniat menjual Sop Saudara, bebas-bebas saja. Namun, ada kepercayaan yang berlaku dalam keluarga besar mereka. Bahwa siapapun yang mau jualan Sop Saudara, setidaknya punya garis keturunan dari pendiri awal. “Bisa saja bukan dari garis keturunan atau keluarga pendiri awal. Tapi ada perbedaan rasa,” kata istri Haji Halik lagi.
Akhirnya, saya juga baru tahu kisahnya. Ternyata menarik juga. Haji Halik sudah memulai bisnis ini sejak belasan tahun lalu. Awalnya rumah yang ditempati hanya ukuran 4x6 meter. Sekarang sudah berkembang pesat. Ia pun tidak sulit mendapatkan Ikan Bandeng. Di Berau, banyak yang ia kenal pemilik tambak. Siapapun yang panen, pasti dapat jatah. Ini agar bisnisnya tetap jalan. Menjadi pelanggan tetap pengusaha tambak. Juga jadi jaminan bahwa ikan yang ditawarkan dalam kondisi segar. Ternyata itu storinya. Tapi, bila ingat anekdot lucu-lucuan itu, saya jadi geli sendiri. “Saudara saja di sop, apalagi teman,”.
Hahahaha, tempatnya yang sederhana di Jalan AKB Sanipah, tak jauh dari rumah saya. Tapi, hampir semua pejabat di Pemkab Berau maupun dari luar daerah sering mampir menikmati lezatnya Sop Saudara asuhan Haji Halik.(*/asa)
Editor : uki-Berau Post