MENGEJUTKAN, salah seorang warga Kampung Tanjung Prangat, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau yang bernama Rahmadi, pemiliki tinggi badan yang mencapai 2,20 meter. Bila dibanding dengan yang tercatat sebagai manusia tertinggi di Indonesia atasnama Arianto Pribadi (26) asal Sidoarjo, Jawa Timur, tingginya tidak jauh berbeda. Suparwono asal Lampung tingginya 2,64 meter, meninggal dunia pada tahun 2012.
Informasi awal, juga saya dapatkan dari media sosial. Lalu, saya pun membuat rencana untuk mencari rumah Rahmadi yang masih berusia 22 tahun ini di Kampung Tanjung Perangat. Tidak jauh dari Tanjung Redeb dan hanya membutuhkan waktu tempuh perjalanan sekitar 30 menit menggunakan roda empat.
Di media sosial, informasi hanya tercatat nama dan tanpa alamat lengkap. Sehingga, saya harus berkeliling di kampung itu. Banyak warga yang tidak tahu keberadaannya. Maksud hati ingin bertanya pada warga, tapi rumah-rumah yang kami lewati sunyi. Bisa saja, saat istirahat atau warga masih berada di kebun.
Saya harus berbalik arah karena di kampung itu tak ada yang tahu. Saya bertanya pada warga yang kebetulan sedang duduk di teras rumahnya. Saya sempat salah menyebutkan nama Ramdani. Setelah melihat foto, warga pun menyebutnya Rahmadi. “Rumahnya di RT 3, sebelah kiri ada pohon karet, rumahnya kecil. Namanya Rahmadi,” kata salah seorang ibu sambil menujukkan arah jalan yang tak beraspal itu.
Ada dua rumah kecil sederhana. Rumah papan yang tak bercat. Satunya tak ada pohon karet. Seorang lelaki paruhbaya, langsung menunjukkan. Ia persis bersebelahan rumah dengan Rahmadi. Rumah kayu mirip rumah awal penempatan warga transmigrasi. Beberapa tas kresek putih bergantung di dinding yang juga sebagai ruang tamu. Tak ada kursi tamu. Rahmadi asyik berbaring di lantai beralaskan karpet plastik sambil nonton televisi.
Tak lama, sang ayah, Pak Tongat dan Ibunda Hotma Pina Panggabean mempersilakan saya masuk. Saya juga ikut duduk di lantai. Lalu Rahmadi, merubah posisinya tidak berbaring, juga ikut duduk. Tapi dia tidak bicara sepatah kata pun. Ia hanya mengikuti pembicaraan kami dengan orangtuanya, sambil melirik dan sedikit tersenyum.
Sang ayah pun bercerita bahwa ia punya 5 orang anak. Saat dilahirkan, semua anak-anaknya dalam keadaan normal, termasuk Rahmadi. “Postur badannya seperti saya dan ibunya-lah,” kata Tongat.
Namun ketika berusia 12 tahun, Rahmadi disunat seperti anak-anak sebayanya. Setelah disunat itulah, perubahan badanya terus meningkat. Tinggi badan Rahmadi sekarang mencapai 220 sentimeter. “Saya tidak pernah menimbang berat badannya, jadi tidak tahu,” kata Tongat.
Sang ayah juga merasa prihatin, sebab Rahmadi sejak lima tahun sakit. Ia tidak bisa jongkok. Untuk berjalan pun hanya bisa maju beberapa meter. Bila sudah terlanjur di kebun, biasanya memilih tidur ketimbang harus pulang ke rumah. Padahal jaraknya tidak jauh. Kami hanya mengantarkan makanan. “Porsinya memang lebih dari biasanya,” kata Pak Tongat, sambil menceritakan kehadirannya di Berau sejak 11 tahun silam.
Pria asal Sumatera ini kemudian membeli lahan di Tanjung Perangat. Rumah yang mereka tempati, belum pernah diperbaiki. Masih rumah bentuk awal. Ia mengaku punya lahan yang ditanami pohon karet di samping rumahnya. Tapi, sampai saat ini walaupun sudah masuk usia menghasilkan getah, tapi belum berisi juga. “Jadi untuk biaya hidup keluarga, kami hanya berjualan sayur mayur keliling,” jelas Tongat.
Ia pun tidak tahu bagaimana harus merawat sang buah hatinya itu. Bisa saja sekarang usianya 22 tahun dengan tinggi badan 220 sentimeter, pertumbuhasn tinggi badannya bisa bertambah. Untuk membawa ke rumah sakit ataupun memeriksakan kesehatan, sang ayah mengaku tak punya biaya.
Ketika saya mengajak untuk foto bersama di halaman rumahnya, Rahmadi tidak menolak. Saya juga ingin melihat bagaimana ia melewati pintu rumahnya yang tingginya hanya sekitar 1,80 meter itu. Rahmadi harus membungkuk. Tinggi badan sang ayah hanya sekitar lengan Rahmadi. Juga tinggi sang Ibu Hotma Panggabean. Hahaha termasuk saya juga.
Saya lalu ingat teman saya Pak Yuwanto, dulu Kadis Pertambangan yang memiliki tinggi badan 178 sentimeter. Juga Pak Haidir, Pak Haris Disnaker, Haji Lili dan Pak Bastian (alm), mereka ini tercatat tertinggi di Berau. Namun ternyata Rahmadi masih lebih tinggi
Bila saya bandingkan dengan manusia tertinggi asal Sidoarjo atasnama Arianto Pribadi (26), juga punya tinggi yang sama yakni 2,20 meter merupakan manusia tertinggi nomor dua di Indonesia. Tentu, bila disandingkan dengan Rahmadi, akan punya catatan yag sama. Termasuk manusia tertinggi yang masih hidup. Setidaknya, Rahmadi juga bisa menjadi pemegang rekor nomor dua di Indonesia (lihat foto di halaman A1).(*/asa)
Editor : uki-Berau Post