BALIKPAPAN–Memasuki pekan ke-15 pada 2019, jumlah pasien demam berdarah dengue (DBD) di Balikpapan terus bertambah. Kini jumlahnya telah mencapai 709 kasus. Lima di antaranya meninggal. Penyebab kematiannya beragam. Mulai terlambat ditangani, karena telanjur mengalami dengue shock syndrome ketika dibawa ke rumah sakit. Ada pula yang komplikasi karena riwayat penyakit kronis.
Kasus terbanyak terjadi di Kelurahan Damai dan Balikpapan Selatan. Dua wilayah itu “menyumbang” 300 kasus. Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan Balerina menyebut, hampir seluruh wilayah di Kota Beriman merupakan endemis DBD. Karena itu, setiap tahun selalu ada kasus.
DBD pun turut dipengaruhi perilaku hidup masyarakat. Dari itu, dia meminta masyarakat melakukan 3M untuk pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan pemberian abate rutin agar mencegah timbulnya jentik. “Kalau dulu kebanyakan kasus terjadi di kawasan Sepinggan, sekarang pindah ke Damai," sebutnya.
Meskipun tingginya jumlah pasien DBD, dia menuturkan, belum bisa menetapkan kejadian luar biasa (KLB), karena jumlahnya belum mencapai lebih dua kali lipat dari tahun lalu. Meski demikian, kasus ini mendapat sorotan dan prioritas utama. “Walau belum (KLB), jangan sampai terjadi lah. Karena kematian tahun ini saja sudah lima orang, padahal tahun lalu hanya satu kasus. Rata-rata yang meninggal pada anak berusia di bawah 7 tahun," ucapnya.
Selain terus bersosialisasi dan memberikan abate melalui kader jumantik, dia juga menuturkan, fogging merupakan opsi terakhir dalam penangan DBD. Pasalnya, fogging mengandung racun dan hal tersebut dapat tersebar ketika dilakukan serta berbahaya. Sehingga fogging tidak bisa dilakukan sembarangan dan harus sesuai aturan.
"Selain hal-hal tersebut, masyarakat juga bisa menggunakan kelambu air. Sementara itu, untuk mekanisme fogging, ada aturannya. Mereka baru bisa mengajukan fogging setelah terjadi lebih dari dua kasus DBD di kawasan tersebut dan adanya laporan," tandasnya. (lil/ndy/k8)
Editor : octa-Octa