Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kematian Bayi Janggal, Ini Keterangan Pihak RSUD AW Syahranie

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 27 April 2019 - 23:28 WIB

"Untuk dokter dan tiga perawat yang bertugas pada saat itu sudah dimintai keterangan, tapi untuk sementara belum dapat kami sampaikan karena masih dilakukan pencocokan."

dr Arysia Andhina, Humas RSUD AW Sjahranie


SAMARINDA. Raut bahagia pasangan suami-istri (Pasutri), Rizki Kewo dan Trivena Sengkey, seketika berubah menjadi kesedihan. Tiba-tiba kabar duka menyelimuti warga Desa Umadian, Kecamatan Tabang, Kutai Kartanegara (Kukar) itu, Senin (22/4) lalu.
Bayi yang baru dilahirkan Trivena, Minggu (21/4) lalu pukul 21.30 Wita melalui operasi caesar dan sehat itu, mendadak meninggal dunia ketika berada di ruang perawan bayi RSUD AW Sjahranie (AWS).

Kontan jerit tangis Trivena tak terbendung. Ia menjerit sejadi-jadinya, karena bayi laki-lakinya yang sudah diberi nama Otniel Junior Kewo, tewas bukan di sisinya.

Kesedihan juga tak dapat ditutupi Rizki sesaat setelah mendapat kabar mengejutkan itu. Dia pun langsung kembali ke rumah sakit plat merah tersebut untuk melihat langsung kondisi anak ketiganya yang telah terbujur kaku.

Trivena tak bisa melihat langsung jasad bayinya karena ketika itu kondisinya masih lemah pasca operasi caesar, meskipun posisi kamar perawatannya yakni Ruang Mawar kamar A 1 masih satu gedung dengan ruang khusus perawatan bayi.

Kematian Otniel yang tak disangka-sangka itupun menimbulkan kecurigaan Rizki, setelah melihat langsung kondisi bayinya itu. Secara kasat mata, Rizki menemukan adanya kejanggalan. Tubuh bayinya itu terlihat lebam di bagian perut dan wajah, tali pusarnya pun tak biasa. Yang lebih membuat Rizki kaget terdapat bercak darah di sekujur tubuh bayinya itu.

Tak ingin berprasangka buruk, Rizki lantas menanyakan apa yang memicu bayinya yang tadinya lahir dengan selamat dan sehat melalui operasi caesar yang dilakukan dr Faisal, bisa sampai meninggal dunia. "Namun tidak ada jawaban yang pasti," kata Rizki.

Otniel, bayi malang yang meninggal dunia itu diduga Rizki mengalami pendarahan di bagian tali pusar karena di pusar Otniel terdapat darah. Dugaan itu tak lantas membuat Rizki dan Trivena puas. Karena pasutri itu merasa Otniel lahir dalam keadaan sehat bahkan menangis keras ketika baru dilahirkan.

"Anak saya lahirnya sehat. Anak saya lahir langsung nangis. Kondisinya normal. Bahkan dilihatkan ke saya. Besoknya saya diberitahu anak saya meninggal," tutur Trivena.

Meski merasa ada yang janggal, tapi Rizki dan Trivena tetap memakamkan Otniel di Pemakaman Kristen Sungai Siring, Samarinda Utara, di hari yang sama. Mereka mengikhlaskan kepergian Otniel, namun masih memendam kecurigaan ada yang tidak beres dalam penanganan yang dilakukan pihak rumah sakit.

"Kami menduga darah itu dari tali pusar, itupun masih belum pasti karena tidak ada penjelasan dari dokter," sesal Trivena.
Beberapa hari setelah Otniel dimakamkan, Rizki dan Trivena menuntut penjelasan dan keadilan bagi putranya yang meninggal dunia tidak dengan cara yang wajar.

"Kami mengikhlaskan kepergian anak ketiga kami, tapi kami masih perlu pernyataan mengapa anak kami itu meninggal dunia. Apalagi anak kami berlumuran darah," ucap Trivena.

Untuk mendapatkan penjelasan serta menjawab rasa penasaran itu, Rizki dan Trivena mengutus dan menyerahkannya kepada Ketua Pengeta, Yohanes Traksin. Dugaan kejanggalan itupun dilaporkan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kaltim.

Melalui Yohanes, keluarga Otniel akhirnya memutuskan untuk membuat laporan pengaduan resmi di Polresta Samarinda, (26/4). Tindakan itu dilakukan karena RSUD AW Sjahranie tak memiliki itikad baik membeberkan penyebab meninggalnya Otniel. "Hari ini saya mewakili keluarga (Riski dan Trivena) bersama KPAI Pak Adji Suwignyo, membuat laporan resmi atas dugaan kejanggalan kematian anak kami (Otniel, Red)," kata Yohanes.

Yohanes berharap dengan adanya laporan itu kematian Otniel menjadi jelas karena kejelasan itulah yang diharapkan.
"Kami sudah coba minta rekam media dan rekaman CCTV namun tidak diberi. Dan ketika kondisi Otniel kritis, orangtuanya tidak diberi tahu," ucap Yohanes.

Komisioner KPAI Samarinda, Adji Suwignyo menyatakan, kasus dugaan adanya kejanggalan atas meninggalnya Otniel harus diungkap.
"Ini adalah bagian dari upaya untuk mengungkap kebenaran. Laporan ini nanti juga kami tembuskan ke Mabes Polri dan Polda Kaltim. Jika diperlukan autopsi keluarga juga sudah siap, dan juga untuk ahli forensiknya kami akan cari pembanding dari luar," terang Adji.

Sementara itu Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Vendra Riviyanto, melalui Kasat Reskrim, Kompol Sudarsono membenarkan sudah adanya laporan resmi kasus tersebut.

"Baru dilaporkan. Tindakan kami selanjutnya adalah memintai keterangan orangtua bayi dan memanggil saksi-saksi. Jika diperlukan nanti juga dilakukan autopsi," kata Sudarsono.

Humas RSUD AW Sjahranie, dr Arysia Andhina menuturkan, mengenai laporan orangtua bayi Otniel sudah disampaikan ke direksi rumah sakit dan masih didalami.

"Untuk dokter dan tiga perawat yang bertugas pada saat itu sudah dimintai keterangan, tapi untuk sementara belum dapat kami sampaikan karena masih dilakukan pencocokan," jelas wanita yang biasa disapa dr Sisi ini.

Dijelaskan dr Sisi, bayi Otniel lahir pukul 20.28 Wita melalui proses operasi caesar. Berat badan Otniel pada saat dilahirkan hanya 2.400 gram atau 2,5 kilogram. "Berat itu dibawah berat bayi normal sehingga harus ditempatkan di ruang penghangat atau inkubator," terang dr Sisi.

Pihak rumah sakit membantah tidak mengabarkan kondisi Otniel ketika kritis. Pihak rumah sakit sudah berupaya menelepon Rizki yang kebetulan berada di luar rumah sakit. "Tiga kali ditelepon tetapi tidak diangkat. Dan ketika bayinya telah meninggal baru bapaknya mengangkat telepon dari kami," ujar dr Sisi.

Pihak rumah sakit sementara ini masih mencocokan sejumlah petunjuk. Salah satunya yakni rekaman CCTV di ruang bayi.
"Masih diperiksa dan nanti dicocokan dengan keterangan yang didapat," tandasnya. (oke/nha)

Editor : izak-Indra Zakaria