MESKI meraih kesuksesan sebagai chief legal officer dan pengacara dalam usia muda, tak lantas membuat Sujiono melupakan perjuangannya menuju kesuksesan.
HINGGA saat ini, di waktu sengganggnya Sujiono masih tetap meluangkan waktu untuk ikut melayani pedagang di usaha ayam gorengnya, di Jalan Po?ros Bengkuring, Samarinda Utara. "Kalau tak ada kegiatan dan kebetulan di Samarinda, saya bersama keluarga sesekali menyambangi rombong kami untuk berjualan ayam goreng di Bengkuring. Sementara ada pegawai yang menjalankannya," ujar Sujiono.
Di sana, di rombong ayam goreng itulah ujar Sujiono lagi, banyak kenangannya menuju ke tangga kesuksesan hingga saat ini. ?Tak hanya menopang ekonomi keluarganya, lewat rombong ayam goreng itulah Sujiono bisa melanjutkan pendidikan Strata 2 (S2)-nya di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur (Jatim).
Berbekal kesabaran dan tekun, Sujiono bisa mengais rezeki untuk biaya hidup keluarganya dan biaya kuliah S2-nya. "Yang penting kuncinya tekun, ulet dan sabar. Dari jualan ayam goreng itu saya sisihkan untuk menabung, guna membiayai melanjutkan pendidikan ke S2 sampai rampung. Alhamdulillah, saya yakin kerja keras tak akan mengkhianati hasil akhir," tuturnya.
Tak hanya pernah berkeliling untuk berjualan ayam goreng dengan upah harian Rp 25 ribu, Sujiono juga sempat nyaris putus asa saat pertama kali membuka usaha ayam goreng dengan modal sendiri. Sujiono pernah merasakan sepi pelanggan selama hampir dua minggu. "Sempat hampir putus asa, tapi saya yakin kalau tekun dan sabar ?pasti ada jalannya. Alhamdulillah, hasilnya tak mengecewakan. Makanya sampai sekarang tetap jualan ayam goreng. Ada kenangan sekaligus motivasi di sana," beber Sujiono.
Dan prinsip hidup sabar, tekun dan ulet itulah yang diterapkan Sujiono selama memegang kurang lebih 20 perusahaan berlabel nasional hingga internasional, sebagai chief legal officer. Kemudian Sujiono juga mengutamakan disiplin dan tekad yang kuat untuk menuju kesuksesan. "Pintar saja tak cukup, harus punya prinsip dan tekad yang kuat. Itu salah satu kuncinya," ungkapnya.
Terus belajar dan mengasah kemampuan menurut Sujiono adalah hal yang tak bisa dilepaskan. Bahkan meski berasal dari keluarga tak mampu, bagi Sujiono pendidikan merupakan hal utama. "Saya merantau ke Samarinda sekitar 2006 itu modal sepuluh jari. Makanya saya bercita-cita terus menuntut ilmu setingginya sebagai bekal mengarungi hidup. Teruslah bekerja keras dan berdoa, Insya Allah ada jalan menuju kesuksesan," tutupnya. (rin)
Editor : rusli-Admin Sapos