BALIKPAPAN-Permasalahan antara BPJS Kesehatan dengan Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) terkait pembatasan pelayanan kesehatan, lantaran RSKD belum memperpanjang akreditasi rumah sakit seperti yang disyaratkan Kementerian Kesehatan, akhirnya berdampak pada masyarakat.
Informasi yang dihimpun kemarin (13/5), terdapat empat pasien yang batal melakukan operasi lantaran peralatannya mengalami kerusakan. Sehingga oleh dokter, mereka diminta kembali ke ruang inapnya.
Salah seorang pasien bernama Hasan (bukan nama sebenarnya) menceritakan kisahnya. Hasan dirujuk ke RSKD pada Jumat (3/5) lalu. Hasan lantas diperiksa dokter spesialis dan menjalani scan pada Selasa (7/5). Hasil pemeriksaan menyatakan ada benjolan di paru-paru dan Hasan harus dioperasi.
“Nah, hari itu (Selasa, Red) jadwal operasinya sudah penuh. Jadi bilangnya hari Kamis (9/5) nanti mau dihubungi, terus disuruh bermalam di sana. Terus hari Jumat (10/5) baru akan diambil tindakan. Katanya kalau nggak bermalam, nanti BPJS nggak berlaku. Ya sudah, saya ngikut saja, ‘kan ingin sembuh. Apalagi, kalau bisa itu biayanya minim, ya saya ikuti,” terang Hasan.
Pada Jumat pagi, Hasan bersama tiga orang lainnya pun dibawa ke ruang operasi. Namun, tiga orang yang masuk terlebih dahulu, keluar lagi dari ruangan operasi. Kata dokter, operasi tak bisa dilakukan karena peralatannya rusak.
“Katanya peralatannya nggak bisa, jadi nggak bisa operasi. Nggak lama kemudian dokter datang lagi, terus dikembalikan lagi ke ruangan lagi. Dokter bilang sakit saya luar biasa, sakit banget, tetapi belum bisa ambil tindakan karena peralatan operasi nggak bisa difungsikan,” ungkapnya.
Dokter kemudian memberikan dua pilihan, apakah mau menginap atau pulang sembari menunggu peralatan operasi diperbaiki. “Katanya kalau mau pulang boleh, kalau mau di sini juga boleh. Tapi disarankan nggak usah pulang, karena mulai Senin (12/5) ada aturan baru. Katanya BPJS nggak bisa membantu. Saya minta saran, terus bilangnya disarankan tinggal di sini saja dulu, mudahan Senin nanti peralatannya bisa beroperasi kembali. Jadi, diharapkan bisa lancar semuanya,” terang pasien kelas II BPJS Kesehatan ini.
Hasan pun memilih menginap. Kemarin dokter tersebut kembali mendatangi Hasan, mengatakan peralatan masih belum bisa digunakan. “Nah, dokternya menyarankan lebih baik di rumah saja. Di sini (rumah sakit) takutnya nanti kena virus dan jenuh. Jadi disarankan pulang saja. Kalau mesinnya baik satu atau dua hari ini, baru balik lagi ke sini. Nanti dihubungi. Tapi, katanya kalau nanti dihubungi pas mesinnya sudah bisa berjalan, itu pun BPJS belum tahu apakah bisa berlaku lagi,” jelasnya.
Lantaran tak tahan dengan dinginnya rumah sakit, Hasan memutuskan untuk pulang ke rumahnya di kawasan Balikpapan Utara. “Ya, karena kondisi peralatan operasi nggak bisa, terus saya di sana juga kedinginan, saya pilih pulang saja. Memang saat itu tidak bayar karena masih ditanggung BPJS. Semuanya gratis, bahkan saya diberi obat selama seminggu ini,” pungkasnya.
Sementara saat dikonfirmasi kepada Direktur Utama RSKD Balikpapan, Edi Iskandar mengatakan belum mengetahui terkait hal tersebut. “Belum ada info kerusakan,” singkatnya melalui pesan WhatsApp, kemarin (13/5). (yad/cal/k1)
Editor : izak-Indra Zakaria