Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Mengajar sambil Memasak, Sempat Diserang Ilmu Hitam

izak-Indra Zakaria • Kamis, 16 Mei 2019 | 13:12 WIB

Tak rela menyaksikan sebuah surau di atas pegunungan terbengkalai, Muhammad Kasim, memutuskan menetap. Di sana dia mewakafkan diri sepenuhnya untuk berdakwah. Mengajar mengaji hingga mendirikan Pondok Alquran.

WAHYU RAMADHAN, Barabai

Tepat di awal 2016, Muhammad Kasim diterpa penasaran sekaligus kekhawatiran. Akan keadaan masyarakat di kawasan pegunungan, khususnya mereka yang memeluk agama Islam. Dari hari ke hari, rasa itu kian membuncah. Puncaknya, pemuda kelahiran 2 Januari 1997 ini memutuskan pergi, melihat sendiri keadaan saudara seimannya di pegunungan.

Perjalanan mengantarkannya tiba di Desa Kundan, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST). Di sana, Muhammad Kasim melihat dengan jelas kondisi sebuah surau tidak terurus. Dipenuhi tumbuhan liar merambat. Keprihatinannya, lantas membuat pemuda asal Desa Buluan, Kecamatan Pandawan, ini memantapkan niat berdakwah.

Dimulai dengan merapikan kondisi surau. Kemudian mengetuk satu demi satu pintu rumah penduduk, mengajak masyarakat muslim yang tinggal untuk melakukan salat berjamaah, hingga menyemarakkan surau dengan lantunan ayat suci Alquran. Semua itu dilakukan hanya untuk satu tujuan, yakni membumikan Alquran melalui Taman Alquran.

Usaha tersebut dilakukannya secara konsisten. Dari hari ke hari, hingga setahun penuh. Hasilnya, surau tak hanya kembali semarak dengan salat berjamaah. Para penduduk, termasuk anak-anak di Desa Kundan, banyak yang belajar membaca Alquran.

“Alhamdulillah usaha selalu dimudahkan. Masyarakat sangat terbuka. Warga juga menyediakan tempat tinggal ketika saya mengajar Alquran,” ungkapnya, ketika ditemui Radar Banjarmasin (Kaltim Post Group), Kamis (9/5) siang.

Mengajar Alquran sebenarnya sudah jadi rutinitas Muhammad Kasim sejak berusia 16. Santrinya yang pertama adalah anak-anak yang tinggal di kampung halamannya. Yakni, Desa Buluan, Kecamatan Pandawan.

Ustaz Kasim, demikian kini dia akrab disapa. Pemuda murah senyum ini mengaku punya cara unik agar anak-anak tertarik belajar membaca Alquran. Yakni, mengajar sambil memasakkan makanan untuk anak-anak. Dihidangkannya bila selesai mengaji. Cara ini terbukti ampuh. Tidak hanya anak-anak yang tertarik. Teman-teman seumurannya pun ikut meramaikan.

Hal itu pula yang dia lakukan semasa berdakwah di Desa Kundan. Dia juga tak segan memberikan uang hasil jerih payahnya kepada anak-anak. Asalkan, anak-anak mau belajar Alquran. Kecintaannya terhadap Alquran membuat dia rela melakukan apa saja. Termasuk, melepas statusnya sebagai karyawan di sebuah toko bangunan di Barabai.

Ustaz Kasim lahir dari keluarga sederhana. Sang ayah, Hamidi, hanya penarik becak. Sementara sang ibu, Nurjannah, adalah ibu rumah tangga. Namun, pesan kedua orangtuanya, yang mengingatkan Ustaz Kasim untuk selalu bersemangat menuntut ilmu, kemudian menyebarkannya, menjadi salah satu modal utamanya dalam berdakwah.

Terbukti, sedikitnya ada tiga pondok pesantren (ponpes), yang pernah dienyam Ustaz Kasim. Pertama, yakni Ponpes Nurul Muhibbin. Kedua, Ponpes Ibnul Amin Pemangkih. Dan ketiga, yakni Ponpes Tahfiz Al-Qur’an As Sunnah, Barabai.

Selain mengajar Alquran di Desa Kundan, Ustaz Kasim juga aktif mengisi beberapa pengajian. Jadwalnya, setiap Rabu, Kamis, Jumat, dan Minggu. Semuanya diisi pada malam hari, dengan bahan kajian yakni Fiqh dan Alquran. Tersebar di tujuh desa, yang tiga di antaranya, Desa Aluan Bakti, Desa Birik, dan Desa Tilahan.

Di Desa Tilahan, dibantu masyarakat setempat, Ustaz Kasim mendirikan Pondok Alquran yang diberi nama Ar Raudhah. Dibangun pada 2018, pondok ini menjadi pusat tempat dakwahnya.

Secara administratif, Ar Raudhah di Kecamatan Hantakan. Namun, berdasarkan topografi, letaknya di antara dua desa di Kecamatan Haruyan. Yakni Desa Kundan dan Desa Haruyan Dayak.

“Dibangun di Desa Tilahan, agar memudahkan masyarakat yang ingin belajar Alquran. Letaknya tepat di tengah-tengah. Jadi, baik yang dari atas perbukitan atau yang dari bawah, bisa gampang untuk datang,” tutur Ustaz Kasim.

Jangan dibayangkan Pondok Ar Raudhah sama dengan sekolah Alquran pada umumnya. Atau, yang semua bangunannya didominasi bahan beton. Ketika Radar Banjarmasin berkunjung sehari sebelumnya yakni pada Rabu (8/5) pagi, kondisi Ar Raudhah tampak sangat sederhana. Dibangun di atas tanah berukuran 8 x13 meter, dengan memanfaatkan bahan-bahan dari alam.

Lantai dan tiang terbuat dari kayu yang diambil dari dalam hutan. Dindingnya, didominasi anyaman bambu yang sebagian dilapis papan tripleks yang sudah mulai compang-camping. Sementara atapnya terbuat dari daun rumbia.

Di dalam bangunan, terbagi dari tiga ruangan. Ruangan paling luas atau ruang utama, jadi tempat para santri belajar Alquran. Di ujung ruangan, ada kamar berukuran kecil yang menjadi tempat tinggal Ustaz Kasim beserta istri. Disusul ruangan terakhir berdampingan dengan dapur, yang merupakan kamar tidur para santri.

“Dahulu, semua aktivitas dilakukan di bangunan ini. Berhubung musala sudah selesai di bangun, tempat ini hanya digunakan untuk belajar Alquran dan tempat tidur untuk santri,” urai M Alfiannor. Dia, salah seorang santri asal Desa Banian, Kabupaten Pulau Laut, Kotabaru.

Kepada koran ini, pemuda yang akrab disapa Alfi ini menuturkan bahwa perlu satu tahun, Ustaz Kasim, mendirikan Ar Raudhah. Mulai meminjam tanah warga hingga akhirnya berhasil menjadi hak milik Pondok Ar Raudhah, setelah dibeli dari sang pemilik.

“Sebelumnya, kawasan ini hanya rerimbunan semak belukar. Ustaz Kasim mengajar Alquran dari rumah ke rumah di desa ini,” tuturnya.

Setelah masyarakat mengenal Ustaz Kasim, perlahan namun pasti beberapa warga turut membantu pembangunan Ar Raudhah. Bahkan, warga pula yang bergotong royong mengangkut kayu besar dari dalam hutan yang dijadikan fondasi bangunan pondok. Perkenalan Alfi kepada Ustaz Kasim pun terbilang sederhana. Tepatnya, setelah Ar Raudhah selesai dibangun dan seluruh aktivitas belajar Alquran pun digelar di pondok.

“Ustaz Kasim gemar menyapa lebih dahulu siapa pun yang ditemuinya. Saya termasuk salah satu yang kerap beliau sapa, karena kerap melintas di depan Ar Raudhah. Ketika mampir, saya diajak beliau untuk bergabung hingga akhirnya menetap di sini. Bantu-bantu beliau,” jelas Alfi.

Waktu belajar Alquran di Pondok Ar Raudhah, bisa kapan saja. Alias, kapan pun anak-anak bisa datang. Namun kebanyakan, anak-anak belajar Alquran seusai pulang dari sekolah umum. Bagi anak-anak yang datang dari desa yang jauh seperti Desa Kundan, disediakan kamar khusus santri laki-laki untuk beristirahat atau bermalam.

Dari awal mula Ar Raudhah dibangun, ada lebih dari 100 santri yang belajar mengaji. Baik bocah laki-laki maupun perempuan. Namun, yang bertahan, kini hanya tersisa 70 santri. Tersebar di berbagai desa di Kecamatan Hantakan dan Haruyan.

Ustaz Kasim mengungkapkan, berkurangnya santri merupakan hal yang biasa terjadi. Terlebih, dia tidak memaksakan para santrinya untuk datang dan belajar. Para santri, datang dengan sukarela. Bahkan, tidak perlu melakukan pendaftaran atau membayar iuran.

Hal itu dibenarkan oleh salah seorang warga di Desa Tilahan, Yusran. Lelaki yang sehari-harinya berprofesi sebagai pekebun karet, ini menuturkan bahwa santri yang belajar Alquran kepada Ustaz Kasim, kerap dianggap sebagai adik atau keluarga. Bahkan, kepada orangtua santri, Ustaz Kasim kerap membantu.

“Beliau suka menolong warga yang kesulitan. Misalnya, seperti ada warga yang kesulitan mendapatkan beras. Ustaz Kasim, dengan ringan tangan selalu memudahkan warga. Meskipun kami tahu bahwa sebenarnya, Pondok Ar Raudhah juga perlu dibantu,” ungkapnya.

Seperti halnya pendakwah muda, halang rintang juga menerpa Ustaz Kasim. Di awal dakwahnya, dia sempat merasakan pahit. Beruntung, semua bisa dilalui dengan lapang dada, meski sekujur tubuh Ustaz Kasim sempat membengkak serta gatal akibat tenung atau serangan ilmu hitam yang dikirimkan padanya. Oleh orang-orang merasa terganggu atau tidak menyukai aktivitas dakwahnya.

“Pasca-kejadian, bapak dan ibu sempat melarang saya untuk kembali mengajar. Tapi alhamdulillah, beliau bisa paham, dan semua bisa dilalui. Saya berpikir, bila saya menyerah, maka saya kalah. Dakwah tidak boleh setengah-setengah,” tuntasnya.

Kini baik di Desa Kundan yang merupakan awal perjalanan dakwah Ustaz Kasim di pegunungan hingga Desa Tilahan, yang menjadi tempat didirikannya Pondok Alquran Ar Raudhah, lantunan ayat suci Alquran kian terdengar nyaring dilantangkan generasi muda. Terlebih, tepat di belakang Pondok Ar Raudhah, berdiri kukuh sebuah musala berbahan beton. Bantuan dari para alim ulama, masyarakat, hingga forum koordinasi pimpinan daerah seperti aparat kepolisian.

“Insyaallah, KH Muhammad Bakhiet, nantinya yang bakal meresmikan sekaligus memberikan nama musala ini,” ujarnya.

Dia menambahkan, dengan adanya musala tersebut, dia tambah bersemangat mengajar Alquran. Dia juga meyakini, melalui usaha yang konsisten, bukan hal yang tak mungkin generasi muda cinta Alquran serta upaya membumikan Alquran di kawasan pedalaman bakal terwujud. (war/ay/ran/jpg/dwi/k16)

Editor : izak-Indra Zakaria
#feature