ISTANBUL – Demokrasi Menang. Kalimat itu menghias headline beberapa media di Turki setelah penghitungan suara sementara pemilihan walikota Istanbul menunjukkan bahwa Ekrem Imamoglu kembali mencundangi Binali Yildirim. Kemenangan Imamoglu kini mutlak dan tak terbantahkan. Dia unggul 800 ribu suara atau setara dengan 54 persen.
''Hasil (pilwali) ini menandai awal baru baik bagi kota maupun negara ini,'' ujar Imamoglu pada para pendukungnya setelah mengetahu bahwa Yildirim tak mampu menyusul perolehan suaranya.
Kandidat yang diusung oleh Partai Rakyat Republik atau Cumhuriyet Halk Partisi (CHP) pantas senang. Sebab sejatinya dia sudah menang dalam pemilu wali kota Istanbul Maret lalu. Namun kala itu Yildirim yang diusung Partai Keadilan dan Pembangunan atau Adalet ve Kalk’nma Partisi (AKP) tak terima. Terlebih saat itu Imamoglu hanya unggul 13 ribu suara dibanding dirinya.
Yildirim adalah mantan Perdana Menteri (PM) Turki sedangkan Imamoglu hanyalah mantan wali kota Beylikduzu, kota kecil yang tak terkenal. AKP juga tak terima dan menggugat. Mereka yakin ada kecurangan dan meminta pemilihan ulang. Partai yang didirikan oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan pada 2001 lalu itu yakin bisa menang dalam pemungutan suara ulang yang digelar Minggu (23/6). Sayangnya keyakinan mereka terbantahkan.
''Presiden (Erdogan), saya siap berkerja secara selaras dengan anda,'' tegas Imamoglu. Dia menyatakan akan membuka lembaran baru bagi Istanbul yang dipenuhi dengan keadilan, cinta dan kesetaraan.
Kekalahan ini di luar prediksi Erdogan. Dia yakin bahwa para pendukung AKP akan mengerahkan segala upaya agar Yildirim menang. Erdogan juga berkampanye ke lebih dari lebih dari 102 lokasi dalam 50 hari untuk memberikan dukungan ke Yildirim. Namun faktanya kemenangan Imamoglu merata. Distrik Beyoglu yang merupakan tempat kelahiran Erdogan juga memberikan mayoritas suara untuk Imamoglu.
Meski enggan, Erdogan akhirnya mengakui kemenangan Imamoglu. ''Saya mengucapkan selamat pada Ekrem Imamoglu yang menang pemilu berdasarkan hasil sementara,'' ujarnya. Yildirim juga memberikan selamat tapi dengan cara yang lebih legawa. Sesaat setelah memberikan hak suaranya Minggu lalu dia bahkan meminta maaf jika dia dan partainya berbuat salah.
Para pengamat menilai bahwa Imamoglu bisa menang telak karena dia memposisikan dirinya sebagai korban ketidakadilan. Kemenangannya Maret lalu dicuri. Penduduk Istanbul dikenal senang membela orang yang dianggap sebagai korban. Imamoglu yang sebelumnya tidak dikenal luas tiba-tiba namanya ada di berbagai media.
Orang-orang Kurdi yang memiliki hak suara juga berperan penting. Jumlah mereka mencapai jutaan orang. Mereka berang karena pemerintah menangkapi aktivis Kurdi belakangan ini. Partai pro-Kurdi, HDP, juga mendukung Imamoglu. Bendera HDP ada di berbagai sudut saat warga merayakan kemenangan Imamoglu.
Dukungan Erdogan di kampanye Yildirim juga dinilai menjadi pengaruh buruk. Dia tidak sepantasnya ikut campur dalam pemilu lokal. Perekonomian dan inflasi yang menanjak serta tingginya angka pengangguran membuat popularitas AKP turun.
Erdogan memang tak bisa berdiam diri. Istanbul selama ini dianggap sebagai kota penting di Turki. Ia adalah pusat perekonomian dan kebudayaan. Erdogan bahkan kerap berkata bahwa siapapun yang menguasai Istanbul, maka dia menguasai Turki. Jika mengacu pada pernyataannya, presiden Turki ke-12 itu tampaknya harus bersiap kehilangan kedudukannya.
Slogan everything will be great yang diusung oleh Imamoglu juga diyakini membius penduduk Istanbul. Mereka ingin perubahan. Meski banyak pengamat menilai bahwa Imamoglu tidak akan mungkin bisa melakukan hal tersebut. Dia tidak memiliki kemampuan memimpin yang mumpuni seperti Yildirim. Selain itu, parlemen juga masih dikendalikan oleh AKP. Bisa dibilang dia memimpin tapi tak punya kuasa. Sebab setiap keputusan harus disetujui oleh parlemen. Mayoritas kebiajakan juga harus ditandatangani oleh Erdogan.
Analis di The Washington Institute for Near East Studies Soner Cagaptay menegaskan bahwa kini Erdogan serba salah. Dia bisa saja memotong anggaran dan membatasi kekuasaan Imamoglu sebagai walikota. Tapi sekali lagi itu justru akan memperkuat pandangan bahwa Imamoglu adalah korban dan Erdogan sang diktator.
''Saya rasa cerita politik yang paling menarik di Turki empat tahun kedepan adalah Erdogan versus Imamoglu,'' tegas Cagaptay. (sha)
Editor : izak-Indra Zakaria