Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

River Side Stalls

uki-Berau Post • 2019-08-01 13:01:01

MASIH sedikit yang memanfaatkan keindahan tepi sungai untuk berbagai kegiatan. Termasuk kegiatan berjualan makanan dan minuman. Padahal, ini bisa menjadi nilai tambah dan daya tarik konsumen untuk datang.

Sejak awal berdiri, hampir tiga tahun lalu saya sudah sering berkunjung ke rumah makan yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari rumah saya. Saking seringnya, bila sepekan tak muncul, penjualnya, Pak Yasser selalu bertanya-tanya.

Hari Rabu (31/7) kemarin, saya datang lagi. Sudah banyak perubahan. Bangunan sebelah kiri yang dulu berjualan sembako, sudah berubah menjadi ruang makan dengan fasilitas air conditioner (AC). Juga pada bagian belakang. Ada tambahan meja untuk malam hari, juga ada lesehan. Banyak sekali perubahan. Ini juga pertanda, warungnya maju pesat.

Namanya rumah makan Celebes. Salah satu dari dua tempat yang mendapat rekomendasi dari Pak Wabup Agus Tantomo. “Salah satu rumah makan yang enak itu di Celebes,” kata Pak Wabup. Warung lainnya, tentulah Coto Makassar Fatimah, yang menjadi langganan Pak Wabup setiap pekannya.

Bisa jadi, atas rekomendasi Pak Wabup ini, menjadi bekal warga untuk datang ke warung Celebes. Memang enak. Ala prasmanan seperti yang dilakukan Pak Hasanuddin di Pondok Borneonya. Sayurnya setiap hari berganti. Sambalnya ada tiga macam. Tiga-tiganya enak pula. Saya pernah bertanya resep sambal, tapi chef-nya tidak mau membocorkan.

Saya sering berkunjung pukul 11.30 Wita. Kemarin, sedikit bergeser ke pukul 13.30 Wita. Itupun masih banyak konsumen yang memenuhi ruang ber-AC dan juga ruang terbuka yang dilengkapi hanya kipas angin turbo. Saya pesan ikan kakap goreng. Teman saya kakap rebus pallukmara.

Ada ruang terbuka persis di pinggir sungai. Pemiliknya juga sengaja membuat dinding kayu dengan properti kemudi kapal serta dayung. Juga ada ditempelkan pelampung kecil dengan tulisan “welcome on board”. Suasananya seperti di ruang makan kapal layar. Buat para tamu berfoto ria.

Dua meja lesehan di bagian luar bangunan utama. Saya harus menunggu beberapa saat. Tempat itu masih diisi pelanggan, tapi sudah siap-siap untuk selesai. Saya memilih untuk duduk di tempat itu, yang view-nya langsung ke Sungai Kelay. Lokasi itu cocok untuk konsumsi Instagram. Seperti foto saya dalam tulisan hari ini.

Tak lama. Hanya butuh 15 menit, semua pesanan sudah tersaji. Kakap goreng yang tidak terlalu garing dan kakap rebus. Sesekali perhatian terganggu lewatnya perahu kecil lincah dan perahu cepat yang lewat di Sungai Kelay. Ini salah satu nilai lebih yang ada di warung Celebes. Ada juga pemandangan yang lain, bagian belakang rumah warga yang berdiri di atas bantaran sungai.

Memang betul kata Pak Wabup, sambalnya enak. Kemarin, sayur santan nangka muda. Cocok dengan ikan goreng dan sambal kacang juga ada sambal mangga. Cocoknya lagi, karena makan di saat lapar-laparnya. Tidak mahal. Dua ekor ikan kapan goreng dan rebus, ditambah es teh tawar, jus avokad dan dua nasi hanya Rp 186 ribu. Sambal dan sayur gratis.

Saat berada di meja kasir, pada istri Pak Yaser saya bilang begini, “berhubung saya makan lesehan, tangki terisi penuh,” kata saya. Istri Pak Yaser tertawa disaksikan dua orang tantenya yang kebetulan duduk di sekitar meja kasir.

Inginnya saya, yang dibahas soal makanan saja. Tapi, pemilik warung mengajak saya bicara pada persoalan yang lagi trending topik pekan ini. Khususnya warga sepanjang Jalan P Diguna. Ada rencana untuk ‘membersihkan’ kawasan perumahan di sepanjang jalur hijau itu. “Jadi warung saya bisa kena proyek Pak,” kata istri Pak Yasser.

Bagaimana saya harus menjawab. Itu bukan wewenang saya untuk memberikan penjelasan. Khawatir salah menjelaskan, bisa jadi polemik di masyarakat. Saya hanya memberikan jawaban standar saja. “Yaa, memang ada rencana itu (penataan), kawasan jalur hijau,” kata saya.

Kebetulan rumah makan Celebes sudah punya sertifikat. Memang ada tambahan ke bagian belakang. “Kami sih tidak masalah, yang penting kalau ada penggantian yang cocok, kami siap pindah,” kata pemilik warung. Yang ‘cocok’ itu, berapa besarnya yaa? Kita tunggu sajalah episode berikutnya.

Dalam perjalanan pulang, saya ingin memberi nama yang baru. Bukan hanya warung Celebes. Nama yang lebih Go International. Kalau saya hanya menyebut Warung Tepi Sungai, belum terasa geregetnya. Saya lalu bertanya dengan Pak Asri, teman saya yang jago bahasa Inggris. Kira-kira nama yang cocok apa bila di-Inggris-kan. Diberilah River Side Stalls. Yaa, artinya juga sama Warung Tepi Sungai. (*/udi)

Editor : uki-Berau Post
#Catatan