TANJUNG REDEB – Hendrikus Dua David (26) dan Marta Lepa (36), belum bisa menyembunyikan mata sembabnya. Kehilangan mendalam juga masih dirasakannya, setelah ditinggal anaknya bernama Nobertus Tou, yang belum genap berusia dua bulan pada pada Senin (29/7) lalu.
Ditemui di rumah kontrakannya di wilayah Kelurahan Karang Ambun, Tanjung Redeb, Kamis (1/8) kemarin, pasangan suami-istri tersebut mengaku masih sangat terpukul dengan kepergian anak ketiganya tersebut.
Bukannya tak ikhlas untuk merelakan anaknya yang telah meninggal dunia, tapi karena adanya rasa tak puas atas pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai, ketika menangani anaknya yang dirujuk dari Puskesmas Kampung Bugis, untuk menjalani perawatan.
Dengan menghela napas panjang, Hendrikus menceritakan kronologis ketika anaknya mengalami sakit, hingga mengembuskan napas terakhir pada Senin (29/7).
Dikatakannya, Jumat (26/7) siang, bayinya tersebut terus menangis. Diduga mengalami sakit perut. Sehingga pada pukul 08.00 Wita, Sabtu (27/7), dirinya bersama istri membawa bayinya ke Puskesmas Kampung Bugis untuk memeriksakan kondisi kesehatannya.
Setibanya di Puskesmas Kampung Bugis, bayinya langsung ditangani oleh perawat yang dibantu bidan yang menyatakan bayinya mengalami kembung di bagian perut.
“Tapi kami langsung disuruh ke rumah sakit karena kondisi anak saya ini katanya cukup parah. Untuk surat rujukannya nanti dari pihak puskesmas yang akan membawanya menyusul, yang penting anak saya selamat dulu, dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan lebih intensif,” ungkap Hendrikus.
Dengan perasaan panik, Hendrikus langsung membawa bayinya ke RSUD dr Abdul Rivai. Namun setibanya di RSUD, bayinya tidak bisa langsung ditangani. Masih harus menunggu sekitar 30 menit sebelum diperiksa oleh perawat yang bertugas saat itu.
Tapi saat diperiksa oleh perawat, Hendrikus malah disuruh pulang karena bayinya dianggap tidak mengidap penyakit yang berbahaya, sehingga tak memerlukan perawatan intensif di RSUD.
“Padahal pas di puskesmas dianggap gawat, disuruh langsung ke rumah sakit. Bahkan surat rujukannya nanti menyusul,” terangnya.
“Tapi saat di rumah sakit, anak saya hanya dipegang pergelangan tangannya, tapi saya lihat perawatnya juga sambil melihat jam tangannya. Habis itu bilang, ini (bayi) tidak apa-apa pak, silakan dibawa pulang saja,” tuturnya sambil mengusap air matanya.
Namun Hendrikus tidak langsung membawa bayinya pulang. Hendrikus malah mempertanyakan ke perawat tersebut mengenai bintik-bintik putih dan merah yang muncul di sekujur tubuh bayinya. Namun lagi-lagi dia mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan hatinya.
“Saya bertanya, apakah aman saja anak saya, karena kulitnya berbintik-bintik putih dan merah. Tapi kata yang periksa itu hanya efek akibat menangis dan sakit saja. Namun tidak berbahaya. Saya waktu itu sempat emosi, tapi saya redam,” bebernya.
Hendrikus pun akhirnya membawa anaknya untuk pulang. Namun tidak langsung ke rumah, melainkan mampir ke rumah Ali Jafar, Ketua RT 05 Kelurahan Karang Ambun, yang tak jauh dari rumah kontrakannya. Kepada Ali Jafar, Hendrikus memperlihatkan kondisi bayinya yang terus menangis saat itu. Oleh Ali Jafar, perut sang bayi kemudian dioleskan minyak kayu putih, untuk meredakan kembung yang dialami sang bayi.
Akhirnya, sekira pukul 16.00 Wita, sang bayi bisa tertidur pulas hingga malam hari. Esok harinya, Minggu (28/7), kesehatan anaknya belum juga membaik. Namun dirinya tak mau langsung membawanya ke RSUD, karena tak ingin disuruh pulang lagi oleh perawat yang bertugas.
Pada Senin (29/7) pagi, Hendrikus pamit kepada sang istri untuk bekerja. Tapi sekira pukul 16.46 Wita, tangisan sang bayi semakin menjadi-jadi. Marta Lepa, istri Hendrikus, lantas mendatangi Ali Jafar untuk meminta minyak kayu putih untuk dioleskan ke perut anaknya.
Setelah itu, Ali Jafar yang melihat langsung kondisi sang bayi langsung terkejut. Karena perut si bayi makin membesar akibat kembung yang dialami. Akhirnya, tanpa menunggu Hendrikus pulang bekerja, Ali Jafar langsung membawa Marta dan bayinya ke rumah sakit. Pukul 17.05 Wita sampai di rumah sakit, si bayi langsung mendapat penanganan, namun tak berselang lama sudah dinyatakan meninggal dunia.
Pihak rumah sakit yang menangani sang bayi, lantas mempertanyakan mengapa baru membawa sang bayi ke rumah sakit, saat kondisinya sudah sangat parah.
“Salah satu petugas di sana yang bilang begitu (kenapa baru dibawa sekarang) kepada istri saya. Istri saya diam saja, karena panik melihat anaknya yang sudah meninggal,” terang Hendrikus yang langsung dibenarkan istrinya.
“Saya memang hanya kuli bangunan, mungkin karena itu anak saya disuruh pulang (saat pertama kali dibawa ke RSUD) dan enggan untuk dirawat di sana,” sambungnya.
Sementara itu, Ali Jafar yang membawa Marta Lepa dan bayinya ke rumah sakit, mengaku sangat kesal dengan pelayanan pihak RSUD. Bahkan dirinya sendiri mengaku dilarang oleh pihak RSUD, saat ingin mengambil gambar sang bayi yang telah meninggal dunia menggunakan ponselnya.
“Makanya saat di sana saya juga bertanya, siapa yang piket pada hari Sabtu (saat si bayi dirujuk dari Puskesmas Kampung Bugis). Namun mereka tidak memberikan penjelasan siapa yang bertanggung jawab,” terangnya.
Kesal dengan pelayanan RSUD yang diberikan kepada warganya, Ali Jafar lantas membuat postingan di media sosial, mengenai kronologis penyakit hingga kematian anak yang tinggal di lingkungan RT-nya. “Saya akan bertanggung jawab dengan postingan saya di Facebook, karena saya melihat dengan mata kepala saya sendiri warga saya digitukan,” tegasnya.
Dikonfirmasi, Humas RSUD dr Abdul Rivai Erva Anggriana menuturkan,pihaknya telah mengaudit seluruh staf yang piket pada Sabtu (27/7) lalu, atau saat korban diminta pulang oleh petugas yang piket. Namun dirinya belum bisa membeber hasil audit yang dilakukan pihaknya.
Tapi Erva juga tidak menampik jika petugas RSUD memang menyuruh pasien pulang untuk observasi di rumah, saat pertama kali dibawa ke RSUD.
“Memang setelah dilakukan pemeriksaan tidak ada tanda kegawatan. Bahkan ibu pasien diajarkan bagaimana cara menghadapi anak pasca pemberian ASI, karena berdasarkan hasil wawancara ketika anamnesa (pengambilan data), ibunya mengakui tidak pernah menyendawakan anak setelah pemberian ASI. Padahal itu salah satu yang bisa menjadi penyebab kenapa anak kembung,” jelas Erva.
Erva menambahkan, masalah dokter yang memeriksa dengan memegang lengan pasien dan melihat jam tangan, memang dalam memeriksa pasien sejak awal hingga diagnosa dan kesimpulan, ada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang harus dilakukan. Yaitu anamnesa dan pemeriksaan fisik.
Saat menangani pasien tersebut, anamnesa sudah dilakukan oleh dokter dan perawat. Hal itu tercatat dalam rekam medik. Anamnesa dengan berkomunikasi pada keluarga, ditambah pemeriksaan fisik dengan melihat, meraba, menghitung, serta mendengar melalui stetoskop, tidak bisa dikatakan hanya mengecek kondisi pasien. Karena dari beberapa tindakan tersebut, kita bisa mengetahui riwayat penyakit pasien, kesadaran pasien, mengukur dan menghitung tanda vital per menit, tanda-tanda kegawatan, dan kondisi fisik yang abnormal.
“Pada pasien ini, setelah dilakukan investigasi kepada tim pemeriksa di hari Sabtu dan dibuktikan dengan rekam medik, didapatkan hasil tanda vital dalam batas normal. Tidak ada kegawatan pada paru, dan turgor cepat kembali yang menandakan jumlah cairan di tubuh pasien cukup dan tidak terjadi dehidrasi,” jelas Erva.
Terkait dengan ucapan salah seorang petugas yang menuturkan kenapa baru dibawa sekarang, Erva menyebut hasil pemeriksaan tidak ada penyebutan kata seperti itu. “Yang ada, sejak kapan anaknya tidak napas. Tapi kalau menurut keluarga ada bicara seperti itu (kenapa baru dibawa sekarang), tolong konfirmasi kepada kami. Petugas mana yang mengungkapkan hal tersebut,” katanya.
Karena untuk memberikan sanksi terhadap tenaga medis yang terlibat, lanjut Erva, harus dibuktikan dulu apakah mereka salah dalam melakukan tindakan.
“Kondisi saat ini kami masih terus melakukan audit, untuk sanksi akan tetap dilakukan jika memang terbukti ada keteledoran. Tapi jika tidak ada maka petugas tidak bisa diberikan sanksi. Tapi tetap apapun jenis kasusnya, semua ini bukan hanya menjadi pelajaran untuk petugas yang terlibat, tapi juga untuk petugas lain dan pihak manajemen rumah sakit,” pungkasnya. (*/hmd/udi)
Editor : uki-Berau Post