SAYA sangat percaya, wakil bupati Berau Agus Tantomo, mendapatkan banyak hal yang terjadi di luar dugaannya. Saat bertolak ke Kampung Long Sului, Kecamatan Kelay, untuk memimpin peringatan detik-detik Proklamasi pada Sabtu 17 Agustus lalu. Yang dipikirkan, justru perjalanannya yang menantang adrenalin.
Saya memang tidak berada di antara rombongan kecil Pak Agus. Saya bisa membayangkan bagaimana situasinya. Sudah beberapa kali saya ke Long Sului. Hanya kunjungan biasa. Bukan dalam rangka HUT Proklamasi. Pastilah beda. Banyak bedanya.
Mengenakan pakaian khas Dayak. Baju yang terbuat dari kulit kayu. Tutup kepala yang bagian depannya ada dua tanduk rusa berukuran kecil. Ada pita merah putih, melingkar di lengannya. Dan, Pak Agus hanya mengenakan sandal jepit berwarna hitam. Sama dengan peserta upacara yang juga tampil apa adanya.
Ada kelompok paduan suara pelajar Sekolah Dasar. Berbaju putih dan pita merah diikatkan di kepalanya. Sementara petugas pengibar dan komandan upacara, menggunakan pakaian sesuai tata upacara. Semua berlangsung khidmat.
Ketika seorang pelajar bernama Sunarti tampil berbaju merah dengan ukiran Dayak, maju untuk membacakan puisi, inilah salah satu kejutannya. Saat gladi bersih, tak banyak yang tahu. Pak Agus masih berdiri di podium selaku inspektur upacara. Sunarti tampil membacakan puisi berjudul ‘Surat untuk Ibu Pertiwi’.
Suaranya lantang. Bisa jadi, sejak rencana Pak Agus bersama-sama memperingati detik-detik Proklamasi di Sului, saat itu juga Sunarti mulai mempersiapkan diri. Waktunya sangat singkat. Saya tidak hadir mendengar langsung. Tapi, isi pikiran dan isi perasaan Sunarti, yang membuat saya jadi terharu melihat rekamannya dan saat saya membuat catatan ini.
Katanya, saat Sunarti membacakan puisi itu, terlihat dari kejauhan mata Pak Agus menjadi sembab. Hanya karena terhalang kacamata, sehingga tak melihat tetesan air mata yang jatuh. Semua peserta upacara tak kuasa menahan haru.
Sunarti kecil, mewakili warga sepanjang alur sungai Kelay. Mewakili ‘jeritannya’. Mewakili keterbelakangannya. Mewakili akan banyak keterbelakangannya. Pada alenia kedua, puisi Sunarti tertulis begini :
Kami adalah Sului.
Kami adalah Anak Negeri
Yang merindukan kemerdekaan yang sama
Kemerdekaan Hati. Kemerdekaan Pikiran
Sunarti juga dalam puisinya, mengajak untuk melihat nyata apa yang ada di kampung Sului, dan juga kampung yang ada di sepanjang sungai Kelay. Pak Wabup sudah merasakan sendiri, bagaimana ia mempertaruhkan jiwanya, untuk melewati satu tikungan jeram yang menyeramkan. “Banyak ‘bangkai’ perahu ketinting persis di tempat tersebut,” kata Pak Talaki yang juga merangkap sebagai juru mudi. Pak Talaki ini pula yang menjadi juru mudi, saat saya berkunjung ke Sului.
Lalu, pada alenia akhir pusi Sunarti, bunyinya begini:
Karena itu,
Bangunkanlah tanahku
Bangunkanlah kelahiranku
Bangunkanlah Suluiku
Dengan kerja nyata, dan bukan Fatamorgana
Agar kami anak negeri
Kami anak Sului
Terus meneriakkan sukses Ibu Pertiwi
Seketika, Pak Agus meninggalkan panggung kecil, mendekati Sunarti lalu memeluknya erat-erat. Pak Agus menangis. Semua yang hadir di lapangan kecil di tengah kampung itu, ikut menitikkan air mata. Sayapun, saat menulis catatan ini, beberapa kali menyeka air mata.
Inilah makna, yang banyak orang tak memahaminya. Mengapa Long Sului jadi pilihan. Kampung yang berada di hulu sungai Kelay. Yang perjalanannya penuh tantangan. Dan, peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan RI, untuk pertama kali bersama-sama hormat bendera. Pertama kali, menyanyikan Indonesia Raya. Dan, pertama kali bersama-sama Pak Wabup Agus Tantomo.
Sayang saya tak hadir, sehingga tak bisa ikut mendekap Sunarti. (*/udi)
Editor : uki-Berau Post