Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Beda Pin

uki-Berau Post • 2019-08-27 12:41:45

LOGO pin jadi bahan debat di Jakarta. Khususnya di kalangan anggota DPRD DKI. Karena dibuat dari bahan emas, lalu dianggap mahal. Biaya tinggi. Maunya bukan emas. Seperti yang ditawarkan di Pasar Senen.

Bagaimana di Berau? Mungkin ada perdebatan, tapi tak berhasil menembus ke luar dinding kantor dewan. Ada 30 anggota DPRD, sebanyak 12 anggota yang terpilih kembali. Selebihnya, wajah baru. Harus menyiapkan 30 pin yang juga baru.

Kemarin (26/8), saya berkunjung ke gedung dewan. Sepekan terakhir pasca pelantikan, terus melakukan kegiatan rapat. Saya selalu datang terlambat. Tiba, ketika rapat berlangsung. Mau masuk ruangan melihat jalannya kegiatan rapat, ada tulisan di depan pintu ‘Tertutup’. Saya hanya bisa intip-intip.

Ada dua anggota dewan yang masih berada di ruang lain. Pak Atilagarnadi (PDIP) dan Pak Rahmatullah (PKS). Menarik, karena di bagian dada sebelah kiri mereka, ada logo pin yang berbeda. “Ini yang baru,” kata Pak Rahmatullah. Sedangkan Pak Atilagarnadi, memakai logo pin miliknya saat menjadi anggota DPRD periode 2009-2014. Bentuk dan bahannya berbeda.

Yang ada di dada kiri Pak Rahmatullah, bentuknya seperti logo DPR-RI. Tanpa tulisan DPRD pada bagian bawah logo. Bahannya bukan emas. “Mungkin warna kuning sepuhan,” kata Rahmatullah. Sedangkan Pak Atilagarnadi, bahannya terbuat dari emas. Desain juga menyerupai lambang daerah. Ada tulisan Batiwakkal.

Tidak sengit, tapi jadi bahan diskusi. Terutama soal desain logonya. Di masing-masing daerah, menentukan logo anggota dewan, agar mudah dikenali dengan menggunakan logo yang sama dengan lambang daerah. Emas atau bukan, itu tak jadi masalah.

Jadi, tak perlu bertanya siapa anggota dewan yang baru, dan yang mana anggota yang terpilih kembali.  Cukup melihat pin yang melekat di dada kirinya. Perbedaannya cukup mencolok. Ada emas betulan, ada yang sepuhan. Mungkin seperti itulah cara saya membaca.

Beberapa anggota dewan yang masih di luar ruang sidang, saya mencermati justru tak ada logo atau tanda apapun yang melekat. Hanya karena saya mengenal orangnya, sehingga tahu kalau dia anggota dewan. Kalau tamu yang baru berkunjung, mungkin dikira sama sebagai tamu juga.

Saya coba cari tahu, mengapa pada periode kali ini desain pin logo berubah dibanding periode sebelumnya. Apakah memang ada petunjuk yang baru, harus membuat seperti yang sudah dibagikan kepada anggota dewan.

Kabarnya memang sudah dianggarkan oleh DPRD, untuk pengadaan Pin. Mendapatkannya entah dari mana. Apakah membelinya di Pasar Senen, Jakarta, yang memang ‘gudangnya’ perlengkapan seperti itu, atau mendapatkan di tempat lain.

Dari penjelasan yang ada, desain pin logo yang ada dibuat di Tanjung Redeb. Bahannya bukan emas, tapi bahan yang disepuh berwarna kuning keemasan.

Kalau di Jakarta yang diperdebatkan soal bahannya. Di Berau nampaknya tidak akan seperti itu. Yang jadi perbincangan sekitar desainnya saja. Sebetulnya, pihak yang melakukan pengadaan logo pin itu, bersikap hati-hati. Tak mau melanggar aturan yang ada.

Taruhlah dibuatkan pin emas seberat 10 gram. Bila sebanyak anggota dewan, seluruhnya berjumlah 300 gram emas. Itu untuk menghitung nilai. Masalahnya, pin yang dibuat berbahan emas, akan menjadi aset. Namanya aset, juga akan ada konsekuensi biaya pemeliharaan.

Setiap saat dilakukan pencatatan. Dan ketika anggota dewan berakhir masa jabatannya, aset itu harus dikembalikan. Sebaliknya, bila bukan emas diserahkan tidak tercatat sebagai aset. Bisa jadi, kalau anggota dewan lalai dan pinnya tercecer, bisa membeli lagi. Tak perlu berita acara menghilangkan aset. Kira-kira begitu.

Hingga hari-hari ke depan, sepertinya masih ada dua logo pin yang melekat di dada kiri anggota dewan. Nanti, bila tiba saatnya membahas soal itu, barulah ada keseragaman. Tak mesti emas. Yang penting seragam. Kalau disepakati, dengan logo yang dibuat sekarang, tak masalah. Kalau justru lebih disukai logo pin seperti yang digunakan dewan periode sebelumnya, maka sekretariat dewan harus membuat yang baru. (*/udi)

Editor : uki-Berau Post
#Catatan