PERNAHKAH Anda ke Segah saat sungai meluap? Saya dan banyak warga hanya bisa mendengar kabar. Kabar, bagaimana warga tak bisa melakukan apa-apa. Hanya bisa pasrah dan menunggu air sungai surut.
Karena alasan itu, tata ruang di Kampung Tepian Buah atau di Kampung Gunung Sari, banyak warga memilih rumah di ketinggian. Kantor camat dan markas polsek juga menempati lokasi berbukit. Tapi perumahan pegawai dan personelnya, rumah panggung yang tidak terlalu tinggi. Masih bisa diterjang air sungai meluap dan mengalir deras.
Saya tak pernah menyaksikan saat banjir bandang. Tapi bekas air tertinggi yang tergores di setiap dinding rumah, terlihat hingga beberapa bulan pasca banjir. Warga dan banjir bandang, seakan dua sejoli yang sudah saling akrab. Pola ruang Tepian Buah, komunitas warga bertempat tinggal sepanjang bantaran sungai.
Segah dahulu dan sekarang, jauh berbeda. Saat saya ke Kampung Tepian Buah pekan lalu, semua menjadi berubah. Kantor camat sudah dibangun yang baru, kantor lama dibiarkan merana. Markas polsek, beruntung memilih di tempat berbukit, halaman pun menjadi luas.
Kompleks bangunan rumah ibadah, terlihat megah. Bangunan sekitar juga sudah banyak rumah mengikuti gaya sekarang. Rumah tua, juga masih terjaga dengan baik. Begitu juga balai adat yang hanya beberapa meter dari sungai masih seperti dulu. Usia bangunan sekarang sekitar 21 tahun.
Kalau dulu, warga tak berani mengendarai motor, sekarang berangkat di malam haripun sudah biasa. Jalan aspal mulus sejak lepas dari Kampung Labanan, melewati kampung Bukit Makmur hingga masuk ke Tepian Buah. Listrik sudah terus terang selama 24 jam.
Kebun kelapa Sawit, terlihat di mana-mana. Salah satu sumber pendapatan masyarakat. Hasilnya, dibeli oleh perusahaan yang beroperasi di Kampung Gunung Sari. Ada bangunan pasar, yang sedikit di luar Tepian Buah. Pasar Rakyat. Sayang, belum bisa berfungsi maksimal. Fungsinya sementara jadi tempat jemuran dan parkir kendaraan.
Objek wisatanyapun mulai ramai dikunjungi. Air terjun Tembalang namanya. Karena masuk dalam kawasan budidaya hutan, agak sulit mengembangkan. Potensinya luar biasa. Salut dengan kepala kampungnya. Kepala kampung perempuan yang punya pemikiran cerdas.
Salah satu yang saya cari ketika kembali berkunjung ke Segah, adalah udang rebus. Udangnya segar. Ditangkap tidak menggunakan bahan kimia. Biasanya menjadi sajian di rumah Pak Camat. Karena bukan perjalanan dinas, saya memilih menikmati mi rebus. Warung Soppeng namanya. Mi rebusnya enak, sama enaknya dengan buatan istri saya di rumah.
Usai menikmati mi rebus, lanjut minum kopi di warung pinggir jalan. Warga asal Jawa Timur, memilih jaualan pisang goreng dan kopi. Pisang gorengnya yang pakai sambal, juga enak. Sambil duduk, tak jauh dari pertigaan jalan.
Ada rambu penunjuk arah. Agar tidak tersesat ke arah lokasi wisata. Rambunya unik. Bagian bawah bukan dibuat dari beton. Menggunakan ban kendaraan berat, berukuran besar. Saya pikir inilah titik nol yang ada di Segah. Tak jauh dari tempat itu, terlihat bangunan puskesmas, tak terurus lagi sejak ada bangunan baru. Harusnya tidak begitu.
Terasa sekali geliat ekonomi di kampung Tepian Buah. Penduduknya juga semakin heterogen. Sudah ada warung Lamongan dan warung Soppeng. Juga ada warung warga Segah, yang berjualan sekitar jembatan gantung. Ini jadi pertanda, Segah ke depan akan semakin maju. Dana desa yang dikucurkan bisa dimanfaatkan dengan baik untuk kemajuan kampung.
Banjir bandang menjadi cerita lama. Kalau juga datang lagi, warga sudah terbiasa. Warga tidak akan pernah panik lagi. Pasca banjir, biasanya lahan menjadi subur. Bila diminta memilih, warga tentu lebih memilih banjir ketimbang kebakaran hutan. (*/udi)
Editor : uki-Berau Post