Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Nama Baru

uki-Berau Post • 2019-09-21 11:15:25

MENUMPANG pesawat Bali Air jenis pesawat BN, itulah pertama kali saya menginjakkan kaki di Berau. Landasan pacunya masih pendek. Terminal kedatangan dan keberangkatan hanya bangunan kayu (sekarang masih ada), petugas radio menempati ruang kecil.

Sejak itu, saya tahu nama Bandaranya Kalimarau. Masih kategori bandara perintis. Pesawat yang mendarat Bali Air jenis pesawat BN. Ada Pesawat Merpati jenis Twin Otter, sempat mengalami musibah. Jatuh di sekitar wilayah Kutai Timur. Ada juga Bali Air ‘DC 9 ’, penumpangnya 9 orang.

Belakangan baru saya tahu, kalau nama Kalimarau itu mengambil nama anak sungai yang mengalir di sekitar bandara. Ada juga yang menyebut, kawasan hutan sekitar bandara, merupakan habitat Burung Kalibarau (Cucak Rowo). Antara Kalimarau dan Kalibarau.

Jenis pesawat dari waktu ke waktu juga mulai beroperasi. Ada ‘Asahi’ yang mengoperasikan pesawat jenis CASA. Lalu Kalstar dan Trigana Air yang mengoperasikan pesawat jenis ATR-42. Kemudian pesawat jenis Boeing 737-200 dioperasikan Batavia Air. Terakhir masuk, Sriwijaya Air dengan Boeing 737-300 dan Garuda mengoperasikan pesawat Bombardier.

Bersamaan dimulainya kegiatan sektor pertambangan dan perkebunan kelapa sawit, jumlah penumpang terus meningkat. Terminal yang ada juga tak sanggup lagi menampung. Diputuskan membangun terminal bandara yang baru. Namanya tidak berubah. Tetap Bandara Kalimarau.

Ada usulan untuk mengganti nama Kalimarau. Seperti yang dilakukan di Makassar. Awalnya menggunakan nama Mandai, berubah menjadi Bandara Hasanuddin. Balikpapan yang dulu dengan nama Bandara Sepinggan, juga berganti nama. Samarinda yang membangun bandara baru juga menggunakan nama Bandara APT Pranoto.

Dari situlah, lahir keinginan mengganti nama Bandara Kalimarau. Mengikuti daerah lain yang mengabadikan nama pahlawan ataupun tokoh yang terkenal dan dikenal. Memang ada risiko bila melakukan pergantian nama bandara.  Terutama pada Call Sign.

Saya pernah mendengar, jika diganti, nama bandara memilih nama yang pernah memimpin daerah. Ada yang menyebut nama bupati pertama Raden Ayoeb. Ada juga yang menyebut nama Almarhum Masdjuni. Alasannya, beliaulah yang menggagas pelebaran dan peningkatan fasilitas bandara.

Ada juga usul, mengabadikan nama tokoh terkenal dalam sejarah Kabupaten Berau. Ada yang pernah saya dengar mengusulkan nama Raja Alam. Nama yang juga diabadikan oleh kesatuan TNI. Dan beberapa nama lainnya.

Banyak kalangan juga lebih suka dengan sebutan Bandara Kalimarau. Sehingga tak perlu lagi menggantinya. Namun, dengan penggantian nama tokoh yang dikenal dan ada dalam perjalanan sejarah Kabupaten Berau, akan menjadi nilai lebih. Kalau nama kesatuan TNI saja menggunakan nama itu, masa di Berau diabadikan hanya pada sebuah nama jalan.

Saya berpikir, Bandara Kalimarau akan menjadi sebuah bandara besar. Di saat landasan pacu ditingkatkan, jenis pesawat yang lebih besar akan datang bergantian.

Apalagi menjelang pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur. Berau akan menjadi salah satu perhatian pengembangan pariwisata. Pendukungnya adalah bandara yang bisa didarati jenis pesawat yang lebih besar.

Saya percaya akan ada keinginan itu. Tinggal menunggu kapan memulainya. Nama baru sepertinya penting juga. Sehingga, bandara tidak hanya dikenal dari sebuah nama anak sungai yang kecil, yang mengalir antara landasan pacu dan terminal.

Mungkinkah, bupati dan wakilnya  sebelum memasuki masa akhir jabatannya akan menyimpan kenangan. Mengabadikan sebuah nama yang diterima oleh khalayak. Sehingga kelak, bandara akan punya nama baru. Bisa saja namanya Bandara Kalimarau Raja Alam. Atau Bandara Kalimarau Adji Suryanata Kesuma. Atau ada nama lainnya. (*/har)

 

Editor : uki-Berau Post
#Catatan