JAKARTA- Setelah ada demo mahasiswa dimana-mana, Presiden Joko Widodo akhirnya mulai melunak terkait desakan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (Perppu KPK) yang perubahannya telah paripurna di DPR. Sikap terbaru Jokowi ini disampaikan secara terbuka dalam konferensi pers usai pertemuan dengan puluhan tokoh nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis sore (26/9).
Saat itu, dia mengaku menerima banyak masukan berkaitan dengan UU KPK yang sudah disahkan perubahannya oleh DPR. "Yang berkaitan dengan Undang-Undang KPK yang sudah disahkan oleh DPR, banyak sekali masukan yang diberikan kepada saya, utamanya masukan itu berupa penerbitan Perppu," kata Jokowi.
Pada pertemuan itu hadir puluhan tokoh antara lain Prof Mahfud MD, Goenawan Mohamad, Nono Makarim, Butet Kartaradjasa, Albert Hasibuan, Omi Kamaria Nurcholis Madjid, Heny Supolo, Mochtar Pabottinggi, Franz Magnis Suseno, Alisa Wahid, hingga Bivitri Susanti.
"Tentu saja ini akan segera saya hitung, kalkulasi. Nanti setelah kami putuskan akan juga disampaikan kepada para senior dan guru-guru saya yang hadir pada sore hari ini," lanjut mantan wali kota Solo itu.
Saat ditanya apa alasannya mempertimbangkan penerbitan Perppu yang juga menjadi salah satu tuntutan pegiat antikorupsi, hingga mahasiswa yang menggelar aksi di banyak daerah, Jokowi belum memerinci lebih jauh.
"Itu tadi saya jawab. Akan kami kalkulasi, akan kami hitung, akan kami pertimbangkan, terutama dari sisi politiknya," tegas Presiden ketujuh RI itu. Soal kapan waktunya keputusan akank dia ambil dan sampaikan ke publik, Jokowi hanya menjawab singkat. “Tadi sudah saya sampaikan secepat-cepatnya dalam waktu sesingkat-singkatnya," tandasnya.
SATU KORBAN TEWAS
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian membenarkan adanya 1 korban jiwa dalam kerusuhan pelajar di sekitar gedung DPR/MPR RI Senayan, Jakarta, Rabu (25/9). Namun, dia memastikan korban meninggal dunia bukan dari kelompok pelajar maupun mahasiswa.
“Tidak ada pelajar atau mahasiswa yang saya ketahui itu yang meninggal dunia dalam bentrok atau dalam demo yang damai di sekitar DPR,” ujar Tito di kantor Kemenko Polhukam Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (26/9).
Tito menjelaskan, korban tewas terjadi saat kerusuhan di daerah Slipi, Jakarta Barat. Dia merupakan masyarakat yang diduga sebagai perusuh. Massa ini yang membakar pos polisi serta melakukan pengerusakan kendaraan dan memblokade jalan.
Selain itu, Tito menegaskan, korban meninggalkan ini bukan karena terkena tembakan maupun penganiayaan. Mulanya korban pingsan saat kerusuhan berlangsung. Kemudian sempat dilarikan ke Rumah Sakit Polri, Kramatjati, Jakarta Timur.
“Informasi yang sementara ini yang saya terima tadi pagi, yang bersangkutan meninggal bukan pelajar, bukan mahasiswa tapi kelompok perusuh itu,” ucap Tito.
Kapolri Jenderal Muhammad Tito Karnavian. (Takim/Cepos/JPG)
“Tidak ada satu pun luka tembak atau pun luka bekas penganiayaan, tidak ada. Karena saya juga sudah memerintahkan untuk tidak ada menggunakan senjata. Termasuk peluru tajam peluru karet pun tidak,” imbuhnya.
Mantan Kepala BNPT itu menduga pemyebab kematian korban karena kekurangan oksigen saat kericuhan berlangsung. Namun, untuk membuktikan secara medis, polisi berencena melakukan otopsi apabila pihak keluarga mengizinkan.
“Mungkin dia (korban) ada gangguan lain fisiknya di dalam tubuhnya. Kita nggak tahu setiap orang itu ada yang sehat, ada yang sakit mungkin. Nanti kita akan koordinasi ke keluarga korban kalau boleh kita lakukan otopsi,” pungkas Tito.
Sebelumnya, Kerusuhan kembali pecah di area belakang Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (25/9). Massa berseragam SMA dan pramuka itu mulanya berunjuk rasa di sekitar perlintasan kereta api dekat stasiun Palmerah tak jauh dari kompleks DPR/MPR.
Situasi pecah saat salah satu oknum pelajar melempar batu ke arah polisi dan langsung membakar motor sebagai ungkapan kekesalan. Tak hanya itu, mereka pun mengarahkan petasan ke arah barikade polisi.
Membalas serangan tersebut, polisi kemudian menembakkan water canon untuk memukul mundur massa. Namun, karena tak dihiraukan, polisi akhirnya melepaskan tembakan gas air mata.(fat/jpc)
Editor : izak-Indra Zakaria