Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Ini Pengakuan Mereka yang Mau Menghapus Tato

izak-Indra Zakaria • Selasa, 29 Oktober 2019 - 17:35 WIB

Tato sudah menghiasi tubuh Yanto selama nyaris dua dekade. Dibuatnya ketika masih berseragam putih biru. Dengan alasan pertemanan. Namun sekarang penyesalan muncul. Hingga ia memutuskan untuk menghapus sekitar lima tato di kaki, lengan, dan punggungnya.

WAHIDI AKBAR SIRINAWA, MATARAM

Raut muka Yanto nampak bosan. Berjam-jam menunggu, namanya tak kunjung dipanggil panitia. Pria yang sekarang berusia 35 tahun tersebut akhirnya memilih menunggu di tangga Gedung Graha Bhakti Praja, Kantor Gubernur NTB.

Di sana nampak sejumlah orang seperti Yanto. Yang sama-sama menunggu nomor antrean mereka dipanggil. Mereka rela duduk berjam-jam demi satu tujuan. Menghapus tato.

”Ini dulu dibuat masih sekolah (SMP). Pas liburan sekolah,” kata Yanto sambil menunjukkan tato di betis kirinya. Tato dengan ukiran namanya itu, dibuat bersama 11 kawannya. Tapi bukan menggunakan alat pembuat tato. Yanto menyebut tatonya dibuat dari obat diare. Dilarutkan dengan air dan diusapkan ke kulitnya.

”Makanya jadinya begini. Jelek,” ujarnya lalu tertawa.

Tak ada kekhawatiran tato yang dibuat akan ketahuan guru. Sebab, ketika bersekolah SMP, seragam sekolahnya menggunakan celana panjang. Atas nama pertemanan menjadi alasan Yanto membuat tato tersebut.

Setelah tato pertama, muncul tato-tato lain. Yanto kemudian membuat tato sayap dan hati di lengannya. Ditambah dengan tato seperti ornamen di bagian punggungnya. Seluruh tato dibuatnya kala mondok di Aliyah.

”Sebelum tatoan itu, kita mandi. Terus berwudu. Maklum waktu itu masih anak pondok,” ungkap Yanto.

Waktu itu, ketika mondok, ada pengalaman yang membuat jantung Yanto nyaris copot. Tato yang dibuatnya ketahuan Kyai pengasuh pondoknya. Pria asal Kudus, Jawa Tengah itu pun sempat berpikir sang Kyai bakal marah besar.

”Ternyata gak marah. Mbah Yai (Kyai, Red) justru bilang kalau sudah terlanjur tidak masalah,” tuturnya.

Kesabaran Kyai membuat Yanto tersadar. Dari sana ia bertekad tidak akan menambah tato lagi. Juga muncul niatnya untuk segera menghapus tato yang sudah menghias badannya.

Upaya Yanto untuk menghapus tatonya dimulai sekitar tahun 2003. Ketika dia pindah bekerja ke Mataram. Kala itu, ada sepupunya yang menawarkan untuk menghapus tatonya. Tapi dengan cara yang ekstrem. Disetrika.

”Langsung saya tolak. Gak berani,” akunya.

Niat baik memang selalu menemui halangan. Meski berniat sejak lama, Yanto baru mendapat jalan untuk menghapus tatonya akhir pekan kemarin. ”Ya semoga bisa cepat hilang saja. Bosan juga saya lihat tato-tato ini. Tiap buka baju, itu saja yang dilihat,” katanya terkekeh.

Selain alasan bosan, Yanto juga mengaku malu. Apalagi saat salat berjamaah di masjid dan musala. Tato di lengannya kadang menyembul ke luar baju. Tak jarang ia menerima tatapan sinis dari jamaah lain. Akibat tatonya.

”Malu juga. Pas sembahyang, masa tatoan,” ucap ia.

Keputusan untuk menghapus tato, disebut Yanto berasal dari dirinya sendiri. Bukan karena permintaan keluarga maupun istri. Kata ia, istri dan keluarga besarnya sebenarnya tidak mempermasalahkan dirinya bertato.

”Tato kan memang bukan kriminal. Meskipun saya tatoan begini mas, tapi saya paling disayang sama mertua lho,” tandas Yanto. (bersambung/r3)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Sulawesi dan Jawa #nasional