Untuk memajukan daerah pelosok, pendidikan memang menjadi fokus utama. Namun, memajukan itu tak semudah yang diinginkan. Beberapa tenaga pengajar tidak betah. Fasilitas jadi salah satu faktornya.
TIDAK semuanya kembali ke kota. Sebagian memilih tetap tinggal lantaran tanggung jawabnya untuk mengabdi, meski harus bertahan dengan kesakitan. Gaji kecil dan insentif yang lamban terbayar.
Guru-guru di pedalaman mengalami hal yang lebih sulit. Mereka dihadapkan dengan fasilitas desa yang seadanya.
Suci Wahdiah, perempuan asal dari Kota Tepian, berprofesi menjadi guru TK2D. Sejak 2014, dia sudah mengabdi di SD 004 Kaubun. Perempuan kelahiran 4 Mei 1987 itu kerap menitipkan kedua anaknya pada pengasuh sebelum berangkat ke sekolah. Tidak hanya itu, dia merasa sering kesusahan listrik dan sinyal.
"Susah listrik, kalau mau kerja di sekolah harus tunggu malam dulu saat mesin generator (genset) nyala," katanya saat ditemui kemarin (25/11).
Sepertinya, euforia perayaan Hari Guru Nasional tidak ada yang mewah di tempatnya mengabdi. Mereka yang mengabdi di pedalaman, menginginkan keadaan yang tentunya lebih baik dari sebelumnya. Bahkan, tidak sedikit dari golongan guru berstatus TK2D saling membantu. Mencurahkan tenaga dan pikiran untuk mengabdi, namun pembayaran honor sering ngaret alias tak tepat waktu.
"Gaji guru sangat kasihan, harapannya sih supaya lancar saja dibayar. Kalau habis bulan lalu terima gaji kan enak," harapnya.
Jika pembayaran gaji dan insentif kerap tertunda, setiap guru yang mengabdi harus memutar otak. Mencari cara untuk bisa bertahan hidup. Seperti yang dilakukan Suci, menanam sayur untuk mengurangi biaya pengeluaran belanja kebutuhan. Terlebih, sejauh ini hanya menerima gaji terbatas, sesuai dengan lamanya mengabdi. "Insentif terakhir diterima enam bulan lalu. Dulu lulusan S-1 gajinya Rp 1,5 juta, sekarang hanya Rp 1,4 juta,” ungkapnya.
Dia sedikit beruntung lantaran tidak perlu mengontrak rumah. Kini menempati rumah peninggalan mertua. Bagi dia, itu sangat menolong.
Belum memadai fasilitas juga dialami satu guru di sekolah berbeda, Aisyah (58). Dia bercerita, meski berstatus PNS, tidak membuatnya puas diri. Perempuan yang telah mengabdi sejak 1991 itu kerap menelan asam-manisnya kehidupan pendidik. Mulai jarak dan kondisi yang tidak mungkin dilalui saat berangkat mengajar. "Dulu itu saya harus naik mobil, bayar sendiri kalau mau mengajar. Bisa dua jam perjalanan menuju sekolah," terangnya.
Meski fasilitas rumah guru yang ditempati sekadar diberi, dia tidak ada bantuan perawatan yang dikucurkan. Jadi, dengan besar hati dirinya harus terus memperbaiki kediamannya yang semakin menua.
"Rumahnya sudah lama, sering bocor, dinding juga sudah berapa kali dibenahi. Ya begitulah, semoga ke depan semakin baik lagi," tutupnya. (*/la/dra2/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria