Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kedai Kopi Tempo Doeloe, Tempat Nongkrong Unik di Samarinda

izak-Indra Zakaria • Senin, 23 Desember 2019 | 11:01 WIB

Totalitas Hadirkan Barang Antik, Ajak Pengunjung Bernostalgia – JUDUL

Budaya nongkrong sudah jadi bagian dari gaya hidup. Di Samarinda, fenomena munculnya kafe seakan jadi hal lazim. Tapi, untuk memenangi persaingan, tidak boleh biasa-biasa saja. Harus menciptakan suasana berbeda, seperti yang dilakukan Handra Warga Negara dengan Kedai Kopi Tempo Doeloe miliknya.

YASMIN, Samarinda

UNIK. Inilah kesan pertama yang muncul di pikiran awak Kaltim Post ketika menginjakkan kaki di kedai yang berlokasi di bilangan PM Noor Samarinda itu. Dari depan kedai, terdapat motor vespa berwarna oranye. Semakin masuk, kesan vintage-nya lebih kuat. Ini berkat beragam barang antik nan kuno yang mengisi hampir di setiap sudut ruangan.

Handra Warga Negara, pemilik kedai tersebut memang sengaja memilih konsep kedai yang mengarah ke zaman dulu. Berawal dari sering mengunjungi kafe-kafe yang ada di Samarinda, tercetuslah ide membangun tempat serupa. Namun, dia tak ingin sama seperti yang lain. Harus ada sesuatu yang beda dan langsung berkaitan dengan pengunjung.

“Kalau konsep yang kekinian, minimalis, dan khas anak muda itu sudah banyak sekali. Saat memutuskan mendirikan kedai, saya sudah enggak mikir mau pakai konsep lain. Fokusnya mau yang old school dan klasik,” jelas Handra, baru-baru ini.

Agar suasana lebih hidup, diperlukan properti yang mendukung. Ada sekitar 20 benda dan beberapa di antaranya seperti mesin ketik, fonograf, setrika arang, becak, lampu minyak, cangkir, televisi, telepon, terompet, radio, hingga beberapa foto yang menangkap suasana Kota Tepian zaman dulu dipajang.

Handra mengaku berburu barang-barang tersebut melalui internet dan langsung ke penjual barang antik. Tak ada kesulitan untuk mendapatkannya. Soal harga, relatif. Sampai saat ini, dia telah merogoh kocek sekitar belasan juta rupiah demi barang antik itu. Semua dikumpulkan pelan-pelan. Walhasil, kehadiran barang antik di kedainya sangat mencuri perhatian pengunjung. Banyak yang mengabadikan diri lewat foto di beberapa spot.

“Ada pengunjung yang menyampaikan kalau dia ingat masa lalunya karena melihat barang antik di kedai. Bisa karena pernah punya atau orangtuanya dulu juga pakai,” imbuhnya.

Handra tak pernah menentukan segmentasi pengunjung. Selain anak muda, dewasa dan usia lanjut juga berminat datang. Meski Januari mendatang kedainya baru genap setahun, antusiasme masyarakat begitu terlihat. Omzet bersih dalam sebulan bisa mencapai sekitar Rp 15 juta.

Soal menu tak kalah penting. Selain mengutamakan sajian kopi dan makanan ringan, disediakan pula varian menu makanan berat yang sarat akan masakan rumah seperti olahan ayam dan ikan, sayur asam, sayur keladi, ampal jagung, lempeng, dan masih banyak lagi. Pemilihan menu tersebut bukan tanpa alasan. Demi memperkuat nuansa klasik, dia ingin pengunjung merasa seperti di rumah sendiri.

“Sejauh ini, menyesuaikan dengan apa yang sudah jalan saja. Perihal persaingan, hal itu lazim ya. Kembali lagi pada selera pengunjung. Mereka sukanya tempat yang seperti apa. Pokoknya selalu memberi kenyamanan dan menu yang lezat,” pungkas ayah satu anak itu. (*/ndu/k15)

Editor : izak-Indra Zakaria