BALIKPAPAN- Animo masyarakat Kaltim untuk menikmati Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) masih cukup tinggi. Pasalnya, untuk memasuki tol pertama di Kalimantan itu, pengguna jalan belum dikenai biaya. Tarif resmi jalan bebas hambatan sepanjang 99,3 kilometer itu masih belum ditetapkan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).
Berdasarkan data PT Jasamarga Balikpapan Samarinda (JBS), jumlah pengguna tol Balsam sejak 19–31 Desember 2019 tercatat 165.256 kendaraan. Baik yang melintas di Gerbang Tol Palaran di Samarinda maupun Gerbang Tol Samboja di Kutai Kartanegara (Kukar).
Jumlah tersebut melampaui asumsi lalu lintas harian rata-rata (LHR) sebanyak 10.405 kendaraan per hari. Menurut data tersebut, kendaraan yang melintas di Tol Balsam berkisar 11 ribu hingga 17 ribu setiap hari. “Ini ‘kan masih gratis. Jadi masih banyak yang ingin menggunakan tol. Kita tunggu saja, setelah tarif resminya ditetapkan,” kata pengamat transportasi dari Universitas Balikpapan (Uniba) Rahmat Rusli kepada Kaltim Post.
Kepala BPJT Danang Parikesit kepada harian ini sempat menyampaikan penetapan tarif untuk Tol Balsam kemungkinan disampaikan pada minggu kedua atau ketiga Januari 2020.
Penetapan tarif dasar dikenai Rp 1.000 per kilometer. Dengan panjang jalan 99,35 kilometer, maka tarif kendaraan golongan I dengan jenis sedan, jip, pikap atau truk kecil dan bus adalah Rp 99.350. Lalu golongan II untuk truk dengan dua gandar dikenai Rp 1.500 per kilometer jadi Rp 149.025. Lalu golongan III, yakni truk dengan tiga gandar sebesar Rp 2.000 per kilometer, sehingga tarifnya Rp 198.700.
Sementara golongan IV, yakni truk dengan empat gandar dikenai Rp 2.500 per kilometer, yakni Rp 248.375 dan golongan V, truk lebih dari empat gandar sebesar Rp 3.000 per kilometer. Jadi, tarif yang dikenakan Rp 298.050. “Itu tarif terjauh. Karena tidak semua orang melakukan perjalanan terjauh. Ada average trip length yang perlu diperhitungkan. Yang panjangnya kurang dari panjang jalan tol. Kisarannya 50–70 persen dari jarak terjauh,” paparnya.
Direktur Keuangan dan Administrasi PT JBS Adik Supriatno memprediksikan kendaraan yang akan memanfaatkan Tol Balsam akan meningkat secara bertahap setelah tarif resmi ditetapkan BPJT.
Pertimbangannya sesuai perkembangan keperluan sosial dan ekonomi, sehingga investasi tol ini yang sebagian dananya berasal dari pinjaman, bisa segera memperoleh sumber dana pengembaliannya. “Karena pada dasarnya jalan tol dibangun dan dibiayai oleh pengguna jalan tol,” kata dia.
Dia optimistis LHR di Tol Balsam bisa dicapai sesuai target. Dengan asumsi 10.450 kendaraan setiap harinya. Sebab, kata dia, alasan pembangunan tol untuk memberikan pilihan kepada para pengguna jalan. Bisa melalui jalan nasional yang ada atau menggunakan tol yang sudah disediakan. Karena yang ditawarkan pihaknya selaku operator Tol Balsam adalah keuntungannya.
Lanjut dia, waktu dan jarak tempuh lebih cepat. “Melalui Tol Balsam akan menghemat waktu sekitar dua jam dan jarak tempuh sekitar 50 kilometer. Jika seluruh ruas tol sudah tersambung,” terang dia.
Dia menambahkan, keberadaan tol akan menjadi pilihan bagi warga pengguna jalan. Apakah ingin cepat lewat tol atau melalui jalan poros trans Kaltim yang memerlukan waktu lebih panjang. “Pilihan dikembalikan kepada pemakai jalan. Kami selaku pengelola tol selalu berusaha memperbaiki kualitas layanan,” terang Adik.
Saat ini operator pengelola Tol Balsam belum mengaktifkan seluruh gardu di gerbang tol. Pada Gerbang Tol Samboja baru dua lajur yang diaktifkan. Sementara di Gerbang Tol Palaran hanya empat lajur.
Gerbang Tol Samboja maupun Gerbang Tol Palaran sama-sama memiliki delapan lajur. “Untuk optimalisasi sumber daya, biasanya lajur dibuka berdasarkan jumlah kendaraan,” pungkasnya. (kip/rom/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria