UTAMA
ADA QR CODE
TIM PELIPUT:
ULIL MUAWANAH
RIKIP AGUSTANI
”Kota ini kan sudah kian maju, tapi jangan sampai urusan air saja masih rebutan”
KERAN di kamar mandi itu sengaja tak pernah ditutup. Namun, yang keluar hanya angin. Tak setetes pun tirta mengalir. Nestapa memang. Padahal sejak 1990, Jamaluddin menjadi pelanggan PDAM Tirta Manggar. Perusahaan daerah (perusda) Balikpapan yang bergerak dalam distribusi air bersih untuk masyarakat. Ketika pemasangan pertama pipa PDAM Tirta Manggar dilakukan di kawasan Gunung Bugis, Kelurahan Baru Ulu, Kecamatan Balikpapan Barat, dia memutuskan memasang meteran air. Harapannya, tak perlu lagi pergi ke sumur. Yang jaraknya ratusan meter dari rumahnya.
Nyatanya, air PDAM hanya mengalir ketika hujan turun. Sementara pembayaran rutin dilakukan setiap bulan. ”Ya, begini sudah. Air jarang mengalir, angin saja," kata pria yang menjabat kepala SD 006 Balikpapan Barat. Krisis air di Gunung Bugis sudah sangat lama. Di kawasan itu, tandon berkapasitas 1.200 liter banyak dijumpai di pelataran maupun samping rumah warga. Minimal, satu rumah punya satu tandon. Bahkan ada hingga tiga tandon, seperti Jamaluddin.
Permukiman di Gunung Bugis cukup padat. Banyak dijumpai jalan yang hanya bisa dilalui satu motor. Lewatnya bergantian. Semakin ke dalam lagi, hanya dapat berjalan kaki. Demikian untuk bisa ke rumah Jamaluddin. Ketika hendak membeli air bersih, mobil tidak bisa masuk ke pinggir rumahnya. Kira-kira butuh 100 meter selang untuk bisa mencapai rumahnya.
Sementara panjang selang milik penjual atau penyedia mobil tangki PDAM terbatas. Dia pun membeli selang sepanjang 80 meter. Adapun pembelian air dilakukan jelang akhir bulan. Ata dua pekan sekali. Ketika persediaan airnya menipis. Pria berkacamata itu tinggal di RT 10, Nomor 15. Selain dia, ada tiga orang lagi di rumahnya.
Kebutuhan air bersih di tempat tinggalnya terbilang banyak. Mayoritas untuk mandi, cuci, kakus, dan keperluan memasak. Selain itu, dia kerap berbagi dengan para tetangga yang membutuhkan. "Kalau sudah musim kemarau lebih baik saya pesan sendiri, walaupun dapat jatah dari RT. Karena di sini warganya juga banyak dan per rumah itu pun dibatasi hanya dua drum padahal kebutuhan air banyak," ujarnya kepada Kaltim Post, pekan lalu.
Dari awal air leding dipasang hingga sekarang, dia merasa, Gunung Bugis seperti anak tiri. Air bersih yang merupakan kebutuhan vital, begitu sulit dinikmati. Sekalipun memesan mobil tangki PDAM, itu pun harus mengantre. Bahkan menunggu sampai sebulan lamanya. Jika sudah begitu, terpaksa ia membeli dari penjaja air tandon yang lebih mahal harganya.
Uang yang dikeluarkan bisa mencapai Rp 240-300 ribu. Harga itu, sama ketika ia harus membayar biaya air bulanan ke PDAM. "Mungkin karena Gunung Bugis berada di daerah ujung, distribusi airnya selalu belakangan. Setelah warga di perkotaan dapat. Padahal di sini kami juga pelanggan, sama-sama membayar," ucapnya kecewa.
Jamal menuturkan, lima tahun terakhir, sejak pipa air leding di Kelurahan Baru Ulu dipindah ke Kelurahan Baru Ilir, warga di Gunung Bugis kian sulit mendapatkan air. Terlebih belum adanya pipa induk. "Mestinya pemerintah paham, kami juga sudah berulang kali mengeluhkan, butuh jalur tersendiri bagi pelanggan di daerah Gunung Bugis. Kota ini kan sudah kian maju, tapi jangan sampai urusan air saja masih rebutan," kata Jamal.
"SD 022 di Gunung Traktor, Balikpapan Barat itu juga tidak punya meteran. Kasihan harus terus membeli," imbuhya. Dulu, sambung dia, setiap Rabu, PDAM Tirta Manggar mengirimkan tangki airnya. Tapi kini, hanya tergantung pesanan. Selain Jamaluddin, Kaltim Post juga menemui Suaebah. Perempuan berkerudung ini salah satu penghuni lama dan dipercaya sebagai ketua RT 10 Kelurahan Baru Ulu.
Menurutnya, sulitnya mendapatkan air bersih dengan rutin bukan hanya faktor geografis perkampungan di dataran tinggi. Tapi ditambah tidak adanya meteran. Itu berawal dari tidak adanya izin mendirikan bangunan (IMB). IMB merupakan persyaratan memiliki meteran PDAM. Dari 125 kepala keluarga (KK) dengan 65 rumah, hanya 8 orang yang merupakan pelanggan PDAM. Sisanya, hanya berharap dari air tadah hujan. Atau membeli maupun mengangkut air dari sumur yang jaraknya kurang lebih 500-600 meter dari rumahnya.
Suaebah dan Jamal melakukan pemasangan pada tahun yang sama. Kala itu, pemasangan dapat dilakukan tanpa menunjukkan kepemilikan IMB. Ia membayar sekitar Rp 1 juta untuk pemasangan meteran dan pipa. Di tahun itu, meski pemasangan telah selesai, air leding belum mengalir.
"Kami tidak bisa berharap banyak dari PDAM. Air hanya mengalir dua kali dalam sebulan. Warga saja bahkan ada yang selama tiga bulan tidak mengalir, tapi tetap membayar biaya retribusi agar tidak diputus. Beberapa tahun lalu juga ada yang melakukan survei untuk pemasangan meteran bagi warga lain, tapi sampai sekarang hanya wacana. Asal air mengalir lancar, mau harga air dinaikkan kami pasti bayar, asal lancar, bukan sebentar-sebentar mati. Bahkan sampai bulanan-tahunan seperti sekarang," keluhnya.
Keduanya berharap, PDAM maupun pemkot mengecek kembali pipa-pipa yang ada. Kemudian dilakukan perawatan atau pergantian secara berkala. Sebenarnya, tak jauh dari Gunung Bugis ada Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) PDAM Baru Ulu. Hanya, produksi IPAM tak maksimal. IPAM yang diresmikan pada Agustus 2017 itu, belum mampu memproduksi air dengan target awal 50 liter per detik.
IPAM Baru Ulu hanya mampu mendistribusikan 22 liter air per detik. Tak sampai separuh target. Parahnya lagi, dari tiga sumur bor yang dibangun PDAM, hanya dua sumur yang bisa memproduksi air. Dalam sehari pipa hanya mampu menyedot 20-22 liter per detik dari sumur bor. Selain di wilayah barat Balikpapan, krisis air bersih juga melanda warga yang bermukim di Kelurahan Gunung Samarinda, Kampung Timur, Kecamatan Balikpapan Utara.
Imam, warga yang bermukim di kawasan itu menuturkan, air mengalir ke rumahnya hanya saat malam. Di atas jam 9 malam. Subuh jelang pagi hari, atau sekira pukul 06.00 Wita, air leding tak lagi mengalir. Jarang sekali air mengalir pada siang. Belum lagi PDAM Tirta Manggar melakukan perbaikan pipa.
Bisa seminggu tak dapat pasokan air. Pria yang bekerja sebagai satpam ini pun membeli ke tetangganya. Harganya, Rp 250 ribu per tangki. "Air mengalir kaya 'kencing', maaf kalau sedikit kasar. Tapi memang begitu kenyataan. Padahal di siang hari, selain mandi dan memasak, kami juga butuh wudu. Iya kalau semua warga punya tandon, kalau tidak? Aduh kacau," ungkapnya.
Seperti warga lainnya, selain membangun waduk maupun embung, Imam berharap pemerintah punya solusi konkret dalam memenuhi kebutuhan air bersih di Balikpapan. Terutama bagi warga yang tinggal di daerah perbukitan seperti dirinya.
Defisit sumber air baku memang menjadi kendala utama bagi PDAM Tirta Manggar dalam memenuhi kebutuhan air bersih warga Balikpapan. Saat ini, BUMD itu memproduksi 1.280 liter air per detik. Bersumber dari dua waduk dan 21 sumur dalam. Sementara kebutuhan air bersih mencapai 2–3 ribu liter per detik.
Perinciannya, Waduk Manggar di Balikpapan Utara yang menjadi sumber air baku utama berkapasitas produksi 900 liter per detik. Kemudian, disokong dari Waduk Teritip di Balikpapan Timur yang pengerjaannya rampung pada 2016 lalu. Waduk itu memiliki kapasitas produksi 200 liter air per detik. Namun, hingga awal tahun ini, baru difungsikan 80 liter air per detik. Produksinya belum maksimal karena pengerjaan pipa distribusi masih dilakukan.
Selain itu, PDAM mendapat tambahan dari sumur dalam dengan kapasitas 80 liter air per detik. Meliputi tujuh titik di Kelurahan Teritip (Balikpapan Timur), delapan titik di Kelurahan Gunung Sari (Balikpapan Tengah ). Serta masing-masing tiga titik di Kelurahan Prapatan (Balikpapan Kota) dan Kelurahan Baru Ulu (Balikpapan Barat).
“Jadi untuk memenuhi kekurangan air baku, kami masih mengharapkan optimalisasi dari sumber air baku yang tersedia,” kata Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Manggar Haidir Effendi kepada Kaltim Post, kemarin (9/2). Akibatnya, baru 79,8 persen warga Balikpapan bisa menikmati air bersih perusahaan pelat merah ini. Dari sekira 781 ribu warga Balikpapan saat ini, hanya 101 ribu yang jadi pelanggan PDAM Tirta Manggar, sehingga PDAM mematok target realistis pada 2020 ini.
Yakni penambahan jumlah pelanggaran baru. Jumlahnya, lima sampai enam ribu. Angka itu prioritas pihaknya tahun ini. “Karena kami masih terkendala sumber air baku yang kurang,” keluh pria berkacamata tersebut. Sejumlah rencana bisnis untuk pengembangan usaha pun telah disampaikan kepada wali kota Balikpapan.
Dalam rapat penyampaian rencana bisnis PDAM Balikpapan periode 2019-2024 di Hotel Grand Tjokro, 17 Januari 2019 lalu, direksi PDAM Tirta Manggar, menggarisbawahi penambahan pelanggan baru. Masalah utamanya adalah ketersediaan air baku. “Pembahasannya belum final. Jadi belum bisa saya sampaikan,” ungkap pernah menjabat Direktur Umum PDAM Tirta Manggar ini.
Dirut PDAM Tirta Manggar dua periode ini melanjutkan, masalah defisit air baku paling cepat bisa dituntaskan tahun 2026. Dengan cakupan pelanggan PDAM Tirta Manggar yang diperkirakan mencapai 90 persen. Tentunya, selain dukungan sumber air baku dari Waduk Manggar, Waduk Teritip, perlu beberapa sumber air baku baru.
Yakni Embung Aji Raden yang akan menyuplai 150 liter air per detik ke Waduk Teritip. Kemudian Waduk Sepaku-Semoi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Termasuk pengembangan sumur dalam dan pengolahan air laut atau desalinasi. “Embung Aji Raden paling cepat difungsikan tahun 2021. Makanya untuk jangka pendek, kami masih fokus untuk optimalisasi sumber air baku yang ada,” katanya. (riz/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria