BALIKPAPAN – Hampir semua sektor mendapat pukulan keras akibat pandemi Covid-19. Tak ayal banyak pelaku usaha maupun pedagang kecil perlahan memilih istirahat sejenak. Dibanding harus menanggung kerugian yang lebih besar.
Namun tidak demikian dengan Mabrur, salah satu pemilik industri rumahan tahu dan tempe. Berbeda dengan yang lain, usaha miliknya tidak ikut goyah.
Dia mengatakan kondisi saat ini tidak memberikan dampak berarti. Meski memang pemasaran lebih banyak dilakukan melalui pedagang keliling daripada pedagang di pasar.
“Tidak ada penurunan, standar saja. Malah pedagang keliling itu dapat keuntungan dua kali lipat,” ujar pria 60 tahun ini.
Kendati tak mengalami kesulitan dalam pemasaran, ia mengaku harga bahan baku kedelai yang diimpor meningkat. Sebelumnya hanya sekitar Rp 7 ribu per kilo, menjadi sekitar Rp 8 ribu.
Akan tetapi, hal tersebut tidak sampai menyebabkan kerugian baginya. Menurut Mabrur, jika hal tersebut dialami pengusaha olahan kedelai di pulau Jawa, maka akan berbeda. Kata dia, perbedaan pola perilaku konsumen, menjadi salah satu penyebab kemalangan nasib pengusaha tahu tempe di Pulau Jawa.
Ia juga mengingat beberapa tahun lalu, saat kedelai menyentuh harga Rp 9 ribu per kilonya. Beberapa pengusaha di pulau Jawa mesti gulung tikar.
“Kalau di sini (Balikpapan) aman saja, Mbak. Yang penting ada barang dan kualitasnya bagus. Harga itu nomor dua,” ujar dia.
Karenanya, sejak 1980 produksi tahu dan tempe miliknya tidak pernah mengalami kendala. Bukan tanpa alasan. Menjaga kualitas juga menjadi poin penting dalam menggeluti usaha tersebut.
Hingga kondisi buruk saat ini, dia tetap mempertahankan kualitas barang produksinya. Dibantu 2 karyawan yang merupakan anggota keluarga, dalam sehari ia bisa menghabiskan 3 karung kedelai atau sekitar 150 kilo. Sementara untuk tahu menggunakan sekitar 50 kilo kedelai.
“Alhamdulillah sampai sekarang masih bisa bertahan. Semoga tetap seperti ini,” pungkasnya. (*/okt/ms/k18)
Editor : izak-Indra Zakaria