SEORANG profesor penyakit menular di Liverpool School of Tropical Medicine, Paul Garner tidak percaya “mukjizat” datang kepadanya. Dia pulih dari infeksi Covid-19 dan melewati semua kondisi mengerikan yang dialaminya.
“Ini penyakit terburuk yang pernah saya alami. Saya pernah menderita demam berdarah. Saya pernah menderita malaria. Tapi, saya belum pernah sakit seperti ini dan itu benar-benar menakutkan karena sangat tidak terduga,” kata Garner seperti dilansir dari ABC.net, Rabu (20/5).
Garner baru pulih pada hari ke-59 sejak didiagnosis positif Covid-19. Tentu menjadi perjalanan panjang berbulan-bulan untuk sembuh. “Penyakit ini bisa menimpa Anda ketika Anda tidak menduganya,” kata dia.
Jadi, lanjut dia, meski merasa cukup baik pada pagi hari, kemudian tiba-tiba pada sore hari makin buruk seperti ditampar. Lamanya penyakit ini benar-benar membuat pingsan “Saya hanya bisa berdoa setiap hari agar penyakit itu pergi,” ungkapnya.
Meski sudah sembuh, Garner sesekali masih mengalami kelelahan. “Sangat mirip dengan kelelahan kronis, tetapi saya ragu-ragu menyebutnya demikian,” katanya.
Garner merasakan masih sering kambuh setelah dinyatakan pulih. “Saya pikir saya sudah pulih sepenuhnya beberapa minggu yang lalu, lalu saya kambuh lagi dengan gejala lama, menggigil dan berkeringat. Dan perasaan lelah yang luar biasa,” bebernya.
“Rasanya hampir seperti ditabrak truk setiap hari,” sambungnya. Garner hanyalah satu dari ribuan pasien yang mengungkapkan betapa melelahkannya melawan Covid-19.
Para ilmuwan masih mengungkap rahasia mematikan virus itu dan dampak jangka panjang bagi mereka yang pulih dari penyakit. Dalam kasus yang serius ada kekhawatiran tentang kerusakan organ utama.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan mereka yang memiliki kasus Covid-19 yang ringan akan pulih dalam dua minggu. Sedangkan kasus serius dapat memakan waktu hingga enam minggu.
Akan tetapi, nyatanya pasien bisa mengalami kelelahan dan sesak napas jauh melampaui periode pemulihan yang disarankan. Di Rumah Sakit St Vincent Sydney, penelitian sedang berlangsung dan diharapkan akan memberikan beberapa jawaban.
Seorang peneliti utama pada studi Rumah Sakit St Vincent adalah dokter penyakit menular, Profesor Greg Dore. Mereka meneliti efek jangka panjang pada pasien.
“Kami tertarik melihat efek Covid-19, penyakit ini memiliki spektrum luas penyakit akut mulai gejala infeksi tipe pernapasan atas yang relatif ringan hingga pneumonia yang sangat parah dan efek organ lainnya,” kata Prof Greg Dore.
Pihaknya bahkan tertarik pada kasus-kasus yang lebih ringan, apakah ada efek berkelanjutan pada kesehatan mantan pasien, atau kelelahan setelah sakit. Lalu pada fungsi neuro-kognitif, sehingga mungkin saja memengaruhi kemampuan untuk berkonsentrasi.
Salah satu pasien yang ambil bagian dalam penelitian ini adalah Alex Lewis. Dia ternyata butuh waktu lebih 2 bulan untuk berjuang. Dia masih saja sering merasa lemas dan kelelahan.
“Napas saya terus memburuk dan berolahraga cukup sulit. Dan, saya rasa perlu dua kali lipat waktu untuk pulih. Kelelahan, itu datang dan pergi,” ungkap Alex Lewis.
Penulis Amerika Serikat, Fiona Lowenstein didiagnosis dengan Covid-19 pada pertengahan Maret. Dia cemas tentang berapa lama dia akan pulih. “Ini merupakan proses pemulihan yang sangat panjang dan sangat berbeda dari yang saya harapkan,” ungkapnya. (jpg/kri/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria