Senin (1/6) jadi hari pertama bagi Anna kembali ke rumah. Memeluk suami dan anak-anaknya. Melewatkan Lebaran tahun ini dengan berjuang di rumah sakit, dia hanya berharap pekerjaannya menjadi berkah.
ULIL MU'AWANAH, Balikpapan
RASA haru menyeruak. Air matanya tak bisa dibendung. Sebelum kepulangannya, dia bersama keluarganya hanya bisa bertatap muka via video call. Tanpa sentuhan langsung. Padahal ia rindu mengecup kening dan memeluk mereka. Anna hanya bisa menahan sendu. Tangisnya yang sedikit memecah kembali ditahan. “Sabar ya, Mama pulang hari ini (kemarin),” jawabnya kepada sang anak melalui panggilan video.
Anna salah satu perawat di RS dr R Hardjanto Balikpapan. Ia kembali bertugas ke ruang isolasi Covid-19, tiga hari sebelum Lebaran tiba. Perasaannya tentu sangat sedih. Momen di mana seharusnya ia dapat berkumpul bersama keluarga tercinta, hanya bisa dijembatani melalui gawai. Apa mau dikata, tugasnya adalah perintah merawat pasien Covid-19. Dan itu tidak bisa dihindarinya.
Beruntung keluarganya sangat mendukung dan memberikan support. Terlebih Alimuddin. Ialah sang suami, yang merupakan sosok tangguh yang kerap ia andalkan. Bekerja sebagai kontraktor, Alimuddin, tentu orang yang tak begitu tahu akan bahaya corona. Namun, ketika tahu sang istri menjadi perawat yang menangani para pasien, ia bangga atas pilihan Anna.
Membesarkan hati sang istri dan memuji bahwa pekerjaan mulia itu haruslah dipilih dengan rasa ikhlas. “Awalnya pasti kaget, lemas, waswas karena setiap hari yang kami dengar adalah kepergian rekan sejawat kami. Apakah saya siap? Mampu atau tidak? Tapi ada juga rasa bangga, apalagi suami saya sangat mendukung. Itu yang buat saya memilih berjuang,” tutur perempuan kelahiran Balikpapan, 27 Desember 1980 tersebut.
Bertugas di ruang isolasi bukanlah kali pertama. Pada akhir Maret hingga April lalu dirinya sudah merasakan bagaimana rasanya kesulitan bergerak dan bernapas saat mengenakan alat pelindung diri (APD). Pada kali kedua ini, ia bertugas dari 18 Mei hingga 1 Juni.
“Kami mempunyai cara tersendiri untuk mengalihkan rasa sedih. Yaitu dengan cara open room saat waktu istirahat dengan mengundang perawat ruangan lain untuk bersama-sama melewati rasa sedih saat Lebaran. Duduk, bercerita, dan makan bersama. Walau itu tentu tidak bisa menebus waktu bersama keluarga di rumah,” ungkap perempuan yang telah bekerja sebagai perawat selama 19 tahun tersebut.
Momen dengan pasien yang membuat ia sangat terharu, yaitu sehari jelang Lebaran masuk seorang pasien baru. Pasien itu berusia 38 tahun. Pasien pria tersebut belum bisa menerima kenyataan bila dirawat di ruang isolasi Covid-19. Ia pun harus menguatkan pasien secara mental agar bisa menerima kenyataan.
Meski begitu, tidak semudah itu menjelaskannya. Itulah yang membuatnya merasa sangat sedih. “Sebelumnya sudah ada tiga pasien positif yang kami rawat, dan pasien baru itu masih belum menerima kenyataan. Dia seperti orang kebingungan dan ketakutan. Kami mencoba berinteraksi agar dia paham kondisinya,” ungkap Anna.
Ketika dirawat di ruang isolasi, para pasien kooperatif. Para dokter dan perawat juga solid. Bahu-membahu agar bekerja sama demi menyelamatkan para pasien. Khusus penanganan Covid-19 itu, para perawat maupun dokter dibentuk dua tim. Tim medis yang menangani pasien corona terdiri atas tujuh dokter dan 10 perawat. Mereka harus berbagi sif. Sehingga mereka bisa makan, salat, dan istirahat secara bergantian.
Secara fisik, ia mengatakan, banyak tim medis siap. Namun, secara mental, apakah seseorang itu cukup siap? Anna menuturkan, membangun mental yang positif tidak hanya dilakukan kepada pasien.
Bahkan candaan serta saling bercerita kerap dilakukan antar-perawat maupun dokter. Mereka saling mengingatkan pula akan kesehatan, sehingga suasana yang terbangun sudah layaknya keluarga. Agar tidak ada rasa canggung, aura yang dihasilkan juga positif dan menular ke pasien untuk semangat menjalani perawatan.
Meski dengan kondisi demikian, ia dan tim berusaha saling menguatkan agar selalu bisa dan bersemangat menjalankan tugas mulia itu. “Secara garis besar, kami tidak ada masalah menjalankan tugas. Bahkan kami sangat bangga terpilih menjadi perawat Covid-19 di RS dr R Hardjanto Balikpapan,” bebernya.
“Bagi kami, melihat mereka (pasien) tersenyum itu sudah sangat bersyukur. Apalagi bisa pulang dengan kondisi sehat. Kami harap juga demikian dengan para perawat dan dokter di luar sana,” imbuhnya.
Dirinya berharap masyarakat tidak ada yang melakukan bullying, terkait tagar #IndonesiaTerserah. Dan beruntung para tetangga di lingkungannya tidak melabeli dan melakukan stigma negatif.
“Saya merasa kasihan. Tagar Indonesia Terserah itu ungkapan kecewa tim medis, melihat masih banyak masyarakat yang antipati terhadap usaha tenaga medis dengan bebas berkeliaran di luar rumah. Namun, sebenarnya, kami tidak akan menyerah. Kami akan terus berjuang agar wabah itu segera berlalu. Tugas itu amanah, dan apa yang saya kerjakan itu semoga menjadi berkah,” tutupnya. (rom/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria