Kenyataannya tak semua siswa memiliki perangkat memupuni. Bahkan banyak dari mereka tak memiliki ponsel. Dari situ, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan mengajak warga peduli pendidikan dengan menyumbangkan gawai bekas.
ULIL MUAWANAH, Balikpapan
WABAH Covid-19 belum kunjung tuntas. Berbagai sektor kehidupan masyarakat terkena dampaknya, tak terkecuali dunia pendidikan. Sejak Maret lalu, di Balikpapan telah dilakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk menghindari penularan Covid-19 di lingkungan sekolah.
Demi kesehatan dan keselamatan siswa, guru, dan orangtua. Namun, proses belajar dari rumah selama PJJ yang diberlakukan sarat akan kendala. Terutama bagi siswa dan orangtua dari keluarga tidak mampu. Padahal keperluan akan gawai menjadi hal mutlak. Namun, kenyataannya tidak semua siswa memiliknya.
Masih banyak hambatan terjadi pada masa pembelajaran daring. Selain gawai, tentu saja keperluan akses internet dan kuota. Mengenai hal itu, Kepala Disdikbud Balikpapan Muhaimin menuturkan, dari pemerintah pusat baru ada bantuan kuota internet bagi guru. Sementara dari APBD Balikpapan boleh difasilitasi untuk digunakan pembelian kuota bagi siswa dari keluarga tidak mampu.
Keperluan layanan pulsa dan akses internet itu sangat diperlukan baik guru maupun murid TK-SD. Mereka semua wajib dibantu bila nantinya pembelajaran daring berlanjut hingga 2021. Muhaimin merasa iba dengan orangtua yang banting tulang di tengah situasi tak menguntungkan sekarang demi hanya membelikan anak mereka pulsa.
“Belum lagi jika dalam satu keluarga, anaknya lebih dari dua. Dan si anak berada di kelas besar dengan mata pelajaran yang lebih banyak tentu memerlukan kuota tidak sedikit,” ungkapnya.
Dari situ, dana bantuan operasional sekolah (BOS) diharapkan bisa ditambah. Bantuan yang didapatkan murid SD Rp 750 ribu dan jenjang SMP Rp 1 juta saat ini agar bisa dinaikkan. Mengingat anak-anak sekarang perlu kuota internet untuk pembelajaran daring. “Selain pulsa, pembelajaran daring kan juga memerlukan gawai/gadget. Nah, ini yang perlu perhatian kita bersama,” ucapnya.
Menindaklanjuti hal tersebut, Disdikbud Balikpapan sudah menggelar rapat kemarin (29/7). Rapat membahas kendala pembelajaran daring/PJJ, di tengah suasana pandemi Covid-19. Muhaimin mengakui masih banyak peserta didik yang belum memiliki perangkat laptop/ponsel pintar sebagai pendukung pembelajaran daring. “Alhamdulillah, akhirnya dari kami ada gagasan melaksanakan kegiatan Peduli Pendidikan yang juga bertepatan dengan momen peringatan HUT ke-75 RI,” ucapnya.
Dirinya mengajak masyarakat yang memiliki ponsel pintar maupun laptop masih layak pakai yang tidak terpakai agar didonasikan ke Disdikbud Balikpapan. Sementara jumlah keseluruhan siswa tidak mampu dan tidak memiliki gawai masih dalam pendataan dari masing-masing sekolah.
“Target kami bisa terkumpul sekitar 1.708 telepon seluler (ponsel) pintar dan laptop layak pakai. Yang akan diserahkan saat upacara kemerdekaan HUT ke-75 RI nanti,” sebutnya.
Nantinya bantuan akan diberikan kepada peserta didik mulai SD hingga SMP sederajat. Ponsel/laptop bekas layak pakai tersebut diharapkan mampu membantu siswa-siswi yang selama ini kesulitan mengikuti pembelajaran secara daring. “Kami paham tidak semua anak memiliki gawai pribadi. Sehingga menggunakan handphone milik orangtua. Di sisi lain, mungkin pekerjaan orangtua akan terganggu,” ujarnya.
Ia memohon dukungan seluruh lapisan masyarakat, baik secara pribadi maupun melalui program corporate social responsibility (CSR) perusahaan BUMN/BUMD/swasta di Balikpapan untuk mendukung program tersebut.
Donasi dibuka mulai 10–15 Agustus. Bagi yang berminat berdonasi bisa menyerahkan langsung ke Kantor Disdikbud Balikpapan. Layanan dilakukan selama jam kerja 08.00–15.00 Wita. “Semoga dengan kepedulian dan bantuan kita bisa mengurangi beban orangtua terutama dalam pembelajaran daring/PJJ,” pungkasnya. (rom/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria