SAMARINDA–Tanda-tanda pandemi Covid-19 di Kaltim bakal melambat belum terlihat. Dari hari ke hari, jumlah pasien positif terpapar virus corona justru meningkat. Seperti di Samarinda, kemarin (24/9), ada penambahan pasien positif sebanyak 92 orang. Walhasil, dari 10 kecamatan di Samarinda, enam di antaranya langsung berubah menjadi kategori zona merah.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Samarinda Ismid Kusasih mengatakan, pengategorian zona merah tersebut karena di kecamatan itu jumlah pasien positif yang masih dalam perawatan melebihi 50 orang. Paling banyak adalah Samarinda Ulu dengan 108 pasien positif. Lalu Sungai Kunjang ada 102 orang, Sungai Pinang 56 orang, Samarinda Ilir 54 orang, Samarinda Utara 52 orang, dan Samarinda Kota 51 orang.
"Pasien yang dirawat dengan Covid-19 di seluruh rumah sakit di Samarinda termasuk RS Karantina ada 166 orang. Sedangkan, pasien isolasi mandiri ada 387 orang," terangnya. Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Kaltim Andi M Ishak menambahkan, hingga kemarin ada penambahan pasien positif 195 orang. Sehingga di seluruh Kaltim ada 7.459 orang yang sudah terkonfirmasi positif. Sementara pasien sembuh mencapai 5025 orang.
Adapun yang menjalani perawatan di seluruh rumah sakit rujukan di Kaltim sejumlah 2.186 orang pasien positif. Di sisi lain, 286 pasien positif Covid-19 telah meninggal. "Ada tambahan 5 orang di Kaltim yang meninggal," imbuhnya kemarin. Kebanyakan pasien yang meninggal memiliki penyakit penyerta ataupun comorbid. Seperti diabetes melitus, kardiovaskuler, dan strok, hipertensi, penyakit ginjal, dan infeksi saluran pernapasan akut.
Karena itu, masyarakat Kaltim diminta mematuhi protokol kesehatan pandemi Covid-19. Seperti menggunakan masker ketika keluar rumah, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan rutin mencuci tangan. Selain itu, rutin berolahraga, menghindari stres, dan mengonsumsi makanan bergizi.
Pasalnya, kasus kematian pada penderita Covid-19 berisiko pada mereka yang memiliki penyakit penyerta. Di antara pelbagai penyakit tidak menular itu, penyakit yang jadi pembunuh senyap banyak masyarakat adalah hipertensi. Tanpa Covid-19, hipertensi begitu berisiko pada kematian dan komplikasi lain.
Angka hipertensi di Kaltim juga cukup tinggi. Berdasarkan data Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan 2019, prevalensi hipertensi di Kaltim jadi nomor tiga di seluruh Indonesia. Kaltim memiliki skor 39,30 yang lebih tinggi dari skor nasional yaitu sebesar 34,11. Sedangkan, untuk penyakit strok, Kaltim menempati urutan pertama dengan skor prevalensi 14,7 dari seluruh provinsi di Indonesia. Sedangkan, skor prevalensi nasional adalah 10,9.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kaltim Setyo Budi Basuki menyebut, penyakit tidak menular tersebut banyak diidap masyarakat Kaltim. Diakibatkan gaya hidup tidak sehat. "Kalau berdasarkan angka Surkesnas (Survei Kesehatan Nasional) kemarin, ya kita memang termasuk tinggi. Ya hipertensi, ya DM, strok, itu kita masuk lima besar nasional," pungkas Setyo Budi. (nyc/riz/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria