Bambang Iswanto
Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda
PENAKLUKAN Konstantinopel oleh Muhammad al-Fatih tertulis dengan “tinta emas” dalam buku sejarah. Konstantinopel merupakan kota peradaban dunia pada zamannya. Tidak salah jika seorang tokoh besar dari Prancis, Napoleon Bonaparte pernah mengatakan, “Andaikan bumi memiliki ibu kota. Kota yang paling pantas menjadi ibu kota adalah Konstantinopel”.
Rasulullah pernah membahas tentang kota itu pada delapan abad sebelum al-Fatih lahir, yaitu pada saat perang Khandaq. Di tengah pasukan muslim membangun parit besar sebagai strategi perang, tiba-tiba seorang sahabat bertanya tentang sebuah pertanyaan masa depan.
“Wahai Rasulullah, kota mana yang akan ditaklukkan lebih dahulu. Konstantinopel atau Roma?” kira-kira begitu bunyi pertanyaan ganjil dari sahabat Rasulullah. Pertanyaan yang disampaikan ketika mereka masih dalam keadaan berhadapan dengan pasukan gabungan musuh dari kaum Quraisy, Yahudi, dan kelompok lainnya.
Pasukan muslim saat itu kalah jumlah. Musuh diperkirakan 100 ribuan, sementara pasukan muslim hanya berjumlah 10 ribuan. Harusnya mereka tetap fokus menghadapi perang Khandaq yang mengancam dan belum dilewati.
Sebagai pemimpin yang visioner, Rasulullah menjawab dengan sebuah visi jangka panjangnya. Beliau meyakinkan bahwa Konstantinopel pasti akan dibebaskan oleh umat muslim. Dan pemimpin yang menaklukkan suatu saat nanti adalah sebaik-baiknya pemimpin, dan pasukan yang dipimpinnya adalah sebaik-baik pasukan.
Perjalanan waktu akhirnya membuktikan bahwa visi Rasulullah terbukti. Sekitar 800 tahun kemudian Konstantinopel akhirnya bisa ditaklukkan oleh Muhammad al-Fatih. Terbukti pula bahwa Muhammad al-Fatih bukanlah pemimpin biasa dan pasukannya juga pasukan yang luar biasa.
Perjuangan menaklukkan Konstantinopel bukan perjuangan mudah. Pemimpin generasi sebelumnya sudah bersusah payah menaklukkan, tetapi belum berhasil.
Keberhasilan Muhammad al-Fatih bukan proses instan. Al-Fatih sudah mengerti visi Rasulullah membebaskan Konstantinopel. Syaikh Aaq Syamsuddin al-Wali, guru al-Fatih menyampaikan visi Rasulullah yang tersurat dalam hadis, dan sang guru berharap kepada al-Fatih untuk mewujudkan prediksi Rasulullah tersebut.
Harapan yang dijawab oleh Al-Fatih bahwa ia siap menaklukkan Konstantinopel. Ia menjawab pertanyaan sang guru, “Saya ingin menaklukkannya, karenanya saya akan memantaskan diri.”
Dan itulah pelajaran paling penting dari Muhammad al-Fatih, yaitu memantaskan diri untuk jadi pemimpin yang siap menaklukkan Konstantinopel.
Sejak memantapkan visinya menaklukkan Konstantinopel, Al-Fatih mempersiapkan diri dengan matang. Ia bekali dirinya dengan berbagai macam ilmu yang memantapkan jiwa dan raganya.
Apa yang dilakukan al-Fatih? Umur delapan tahun al-Fatih sudah hafal Alquran dan mempelajari banyak ilmu agama lain. Ilmu tentang strategi perang pun dipelajari dengan sungguh-sungguh sehingga membentuk karakter pemimpin yang siap menjalankan misi penting mewujudkan visi yang sudah lama belum terealisasi.
Muhammad Al-Fatih bukanlah pangeran yang mengandalkan nama besar ayahnya Sultan Murad II. Tetapi seorang pemuda yang sadar harus mempersiapkan diri. Sehingga layak menjadi sebagai pemimpin terbaik yang bisa memimpin pasukan terbaik untuk menundukkan Konstantinopel sesuai prediksi Rasulullah.
Meski dalam usia yang belia, Al-Fatih sudah mengkhatamkan berbagai persiapan untuk membebaskan Konstantinopel. Fatih muda sudah menyiapkan strategi bagaimana bisa melewati laut dan benteng yang tingginya 18 meter dan berlapis-lapis. Meriam terkuat pada zamannya sudah dibuat khusus untuk misi besar ini.
Cara konvensional dengan mengerahkan 70 kapal lebih ternyata gagal menerobos benteng terkuat di dunia saat itu. Al-Fatih menggunakan strategi geniusnya dengan masuk Konstantinopel melalui titik terlemah yakni Selat Golden Horn. Cara yang tidak pernah diperhitungkan pasukan musuh karena harus melalui perbukitan Galata yang sangat sulit dilalui.
Diceritakan, sebelum memasuki Konstantinopel pada menjelang pagi, pasukan al-Fatih melakukan tahajud dan bermunajat meminta pertolongan Allah. Setelah pertempuran berhari-hari Konstantinopel akhirnya jatuh ke tangan pasukan muslim. Visi Rasulullah dan visi Muhammad al-Fatih terwujud.
JADI PEMIMPIN YANG PANTAS
Kisah memantaskan diri yang diperankan oleh Muhammad al-Fatih sejatinya dijadikan contoh oleh para calon pemimpin atau pemimpin masa kini.
Dalam konteks pilkada, pemimpin terpilih harus memiliki “mimpi besar” yang disebut visi dan konsep terukur yang dikemas dalam misi untuk mewujudkan visinya. Selain harus memiliki visi dan misi sebagai seorang pemimpin untuk menyejahterakan rakyat dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh rakyatnya, yang lebih penting lagi pemimpin terpilih harus memiliki bekal pengetahuan yang kompleks dan mampu mengimplementasikannya ketika memimpin.
Ilmu tentang agama akan menjadikannya pemimpin yang selalu merasa terawasi oleh Sang Pemberi Amanah. Sehingga takut untuk melakukan kezaliman dalam memimpin seperti korupsi, melalaikan hak-hak rakyat dan melupakan kewajiban sebagai pemimpin. Ilmu kepemimpinan dan ilmu lainnya akan mengantarkannya dapat mewujudkan janji-janji yang “diobral” dalam masa kampanye.
Kombinasi niat kuat beribadah melayani rakyat dan tekad serta langkah terobosan konkret berjuang mewujudkan kemakmuran dengan bekal ilmu-ilmu di atas, akan menjadikannya sebagai pemimpin daerah yang pantas. Pemimpin amanah yang merealisasikan janji-janji sebelum menjabat.
Bukan hanya pemimpimpinnya, yang dipimpin pun harus memantaskan diri. Jika pemimpin daerah dianalogikan panglima perang terbaik, maka rakyatnya dianalogikan sebagai pasukan terbaik. Rakyat yang baik harus taat kepada umara dan tetap bertindak kritis untuk menjaga agar pemimpin tidak menyeleweng dari visi dan misinya serta norma-norma yang berlaku. Pemerintahan yang baik meniscayakan pemimpin dan rakyatnya bersinergi mewujudkan cita-cita bersama.
Mari memantaskan diri untuk jadi pemimpin dan rakyat yang baik untuk mewujudkan daerah yang lebih baik. Semoga pantas menjadi pemimpin dan pantas menjadi rakyat yang baik. Amin. (rom/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria