Layanan air bersih belakangan ini dikeluhkan warga seputar Kecamatan Sambutan. Keluhan yang disampaikan karena air kerap tidak mengalir. Jika pun mengalir, keran malah mengeluarkan air keruh, berwarna kecokelatan.
SAMARINDA–Kepada harian ini, Mei, warga yang bermukim di Perumahan Arisco, Sambutan, mengeluhkan pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Kencana Samarinda. Dia menerangkan jika sudah empat hari terakhir air sering tak mengalir.
“Sering (tidak mengalir), kalau mengalir malam banget, jadi terpaksa begadang buat air saja,” keluhnya. Jika pun mengalir, kata dia, air yang diterimanya berwarna kecokelatan. Selain keruh, air berbau tak sedap. Meskipun air telah diendapkan, warna kecokelatan juga tak hilang.
“Airnya kotor banget, bau juga, jadi percuma ini. Mau nggak mau ya dipake saja untuk mandi. Tapi nggak berani kalau untuk cuci muka dan gosok gigi karena kotor sekali, seperti thai tea. Bener-bener cokelat airnya," bebernya.
Keluhan air keruh dan sering tak mengalir sejatinya telah disampaikan ke Perumdam Tirta Kencana, hanya saja belum ada perubahan pada kualitas air. Tidak adanya perubahan membuat warga merasa kecewa dengan pelayanan yang diterima.
Dikonfirmasi terpisah, Humas Perumdam Tirta Kencana HM Lukman menjelaskan, air keruh disebabkan kondisi kualitas air Sungai Mahakam yang menjadi air baku menurun. Penurunan kualitas itu karena limbah organik dari hulu sungai yang terbawa ke hilir.
“Ini karena kondisi air bangai. Air bakunya merah. Di hulu (Sungai Mahakam) sana kan hujan, banjir di sana, sehingga eceng gondok pada naik semua. Kotoran humus hutan itu terbawa arus," terang Lukman.
Menurut dia, jika kondisi air bangai, Perumdam lebih banyak mengeluarkan bahan. “Kita tambahkan kaporit, PE, kaolit, biar warna agak jernih, tapi memang warna agak susah berubahnya tapi masih standar kesehatan,” sambungnya.
Sedangkan soal air yang mengalir jauh lebih kecil, sebenarnya hal itu memang sengaja dilakukan pihaknya. Hal itu sebagai langkah penangan baku air yang menurun. Sayangnya, langkah tersebut seperti buah simalakama. Warga yang tinggal lebih jauh dari intake tak mendapat suplai air. Terlebih jika yang berada di daratan lebih tinggi.
“Untuk meningkatkan kualitas jadi volumenya dikurangi, biasanya volume 100 kita kurangi 20 persen, tapi rupanya itu juga dikomplain karena warga yang jauh dan tinggi tidak dapat air. Dipenuhi komplain juga karena keruh. Jadi, sama-sama komplain ini,” kata Lukman.
Dia menerangkan, permasalahan kualitas air ini segera diselesaikan. Dia menargetkan, air akan kembali jernih dan lancar pada pekan depan.
“Kami selalu upayakan bahkan bisa lebih cepat. Yah itu tadi dengan cara kuantitas dikurangi, memang banyak yang ngeluh saat ini, tidak ada air. Tapi itu biar cepat jernih. Bisa lebih cepat asal sering hujan jadi lebih cepat ternetralisasi airnya. Ini (air bangai) juga kan musiman juga,” tukasnya. (*/dad/kri/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria