Pesawat ruang angkasa milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) sukses mendarat di Mars. Mencari bukti kehidupan masa lalu di planet merah itu. Dengan sederet alat canggih. Salah satunya Ingenuity; helikopter seberat 1,8 kilogram.
NASA membawa pesawat ruang angkasa bernama Perseverance. Yang di perutnya disematkan Ingenuity. Untuk terbang di lapisan atmosfer Mars.
Ini misi awal helikopter kecil itu uji terbang di Mars. Ingenuity sebelumnya sudah diuji coba berkali-kali di Bumi.
"Helikopter Mars adalah demonstrasi teknologi yang dirancang untuk menambah dimensi udara ruang angkasa," ujar MiMi Aung, manajer proyek Ingenuity.
Setelah Perseverance mendarat, Ingenuity akan pergi ke lokasi terdekat yang dinilai cocok untuk melakukan uji terbang. Menurut MiMi, ini merupakan sebuah proses yang kompleks dan membutuhkan waktu sekitar 10 hari.
Mengutip Spacenews, pada penerbangan pertama, Ingenuity akan menuju ketinggian tiga meter dan melayang selama 20 detik.
"Ini benar-benar akan menjadi momen Wright Bersaudara (penemu pesawat terbang), tapi di planet lain," katanya.
Misi Ingenuity di Mars akan berlangsung selama 30 hari. Penerbangan tersebut akan menuju ketinggian 3–5 meter dan menempuh jarak 50 meter ke bawah, lalu kembali ke zona pendaratan.
Proyek senilai USD 85 juta ini bertujuan sebagai demonstrasi teknologi. Beberapa ilmuwan yang terlibat dengan misi ini menentang dimasukkannya helikopter. Alasannya, tes tersebut akan memakan waktu lama dari operasi penjelajah selama fase awal misi. Namun, NASA tetap memutuskan untuk menerbangkan Ingenuity.
Jika berhasil, Ingenuity dapat membuka jalan untuk menerbangkan helikopter yang lebih canggih pada misi robot dan awak di masa depan, yang berfungsi sebagai pengintai. NASA mengibaratkan Ingenuity adalah Sojourner versi era modern.
Sojourner adalah penjelajah Mars pertama NASA yang diterbangkan dalam misi Mars Pathfinder yang mendarat pada 1997.
Perseverance sebagian besar muatannya adalah instrumen sains yang dimaksudkan untuk mempelajari planet ini dan mencari bukti kehidupan lampau. Salah satunya teknologi untuk memproduksi oksigen di Mars.
Eksperimen Mars Oxygen In-Situ Resource Utilization (ISRU), atau MOXIE, akan mencoba mengubah karbon dioksida di atmosfer Mars menjadi oksigen.
Teknologi tersebut dinilai penting untuk misi manusia ke Mars di masa depan. Hal ini berguna untuk kru agar dapat menghasilkan oksigen yang dibutuhkan untuk menunjang kehidupan.
MOXIE akan dinyalakan tiga kali dalam 30 hari pertama setelah mendarat, dengan dua hari pertama untuk menguji muatan. MOXIE akan dijalankan setidaknya 10 kali selama misi berlangsung untuk menguji kemampuannya menghasilkan oksigen pada waktu dan musim yang berbeda dalam setahun.
MOXIE akan dioperasikan sekitar satu jam, dan berharap bisa menghasilkan 6–10 gram oksigen.
Mengutip situs resmi NASA, Perseverance juga dilengkapi dengan SuperCam yang digunakan untuk menggerakkan batuan di planet Mars untuk menganalisis komposisi kimianya.
Aspek tambahan dari instrumen itu adalah mikrofon yang akan mendengarkan saat laser menyala. Hal ini dapat memberikan petunjuk kepada para ilmuwan tentang keras dan sifat pada batuan yang diteliti. Mikrofon juga memiliki fungsi lain, yaitu untuk mendengarkan angin dan mendengarkan penjelajahan.
Mikrofon, kata dia, akan berfungsi bagi para ilmuwan untuk mempelajari turbulensi atmosfer dengan mendengarkan angin. Mikrofon juga dapat memberikan informasi diagnostik tentang penjelajah itu sendiri.
Misi Mars NASA kali ini menambahkan teknologi entry, descent, and landing (EDL). Ini merupakan sistem navigasi canggih untuk melakukan penjelajahan dengan mendeteksi dan menghindari medan berbahaya dengan cara mengalihkan ke daerah sekitarnya. (cnn/dwi/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria