Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

ICU Over Kapasitas, Pasien Dirawat di Lorong

uki-Berau Post • 2021-07-15 19:34:17
PERJUANGAN DOKTER DAN PASIEN: Seorang dokter melakukan pemeriksaan terhadap pasien Covid-19 di ruang ICU RSUD dr Abdul Rivai, kemarin (14/7). Dokter harus selalu melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisi pasien.
PERJUANGAN DOKTER DAN PASIEN: Seorang dokter melakukan pemeriksaan terhadap pasien Covid-19 di ruang ICU RSUD dr Abdul Rivai, kemarin (14/7). Dokter harus selalu melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisi pasien.

SEMUA perlengkapan sudah siap. Alat pelindung diri (APD), sarung tangan tiga lapis, penutup kepala berwarna hijau, dan sepatu boot. Handphone pun dibungkus plastik bening.   

Peralatan itu digunakan sebelum memasuki ruangan intensive care unit (ICU) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai yang terisi pasien Covid-19 dengan gejala berat. Memasuki ruang ICU tidak seperti memasuki ruangan lain di rumah sakit plat merah tersebut. Semua harus steril. Ada dua pintu yang dilalui. Melewati pemeriksaan ketat. Semua harus sesuai protokol kesehatan.

Memasuki ruangan yang penuh dengan pasien Covid-19 membuat bulu kuduk merinding. Ini dirasakan awak media ini yang berkesempatan melihat langsung penanganan pasien Covid-19 di ruang ICU.

Memasuki ruang ICU, terdapat ruangan pertama yang terisi empat ranjang. Semunya terisi pasien. Masing-masing pasien menggunakan selang oksigen untuk membantu pernapasan. Suara batuk pasien saling bersahutan. Dokter yang bertugas mengecek satu persatu pasien. Memastikan kesehatan mereka terus membaik.

Di ruang ICU, awak media ini didampingi dr Yushelly Dinda Pratiwi, dokter yang bertugas pada siang. Dia tampak menitikan air mata, mendengar ada salah satu pasien Covid-19 yang berpulang ke pangkuan Tuhan. Bukan tanpa perawatan. Pasien tersebut mengalami gagal napas dan kondisinya kritis saat tiba di rumah sakit. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menangani pasien. Namun komorbit memperparah kondisi kesehatannya. “Iya, ada pasien meninggal,” ujarnya tertunduk.

Di ruang ICU itu, seluruh kamar terisi. Ada 76 tempat tidur yang terisi full. Bahkan, kasus terkonfirmasi Covid-19 yang terus bertambah membuat pasien terpaksa dirawat di lorong Ruang Teratai. Ada empat pasien tampak mendapat perawatan di lorong ruangan khusus pasien Covid-19 itu. “Sudah over kapasitas. Pasien yang harus dirawat di sini (RSUD) mencapai 114 persen,” kata dr Yushelly.

Kondisi ini diperparah dengan persediaan ventilator yang terbatas. Hanya ada lima ventilator untuk pasien Covid-19. Sebuah pilihan sulit, jika ada 10 pasien dengan kondisi kritis. Harus memilih mana yang diselamatkan. Tentu semua dokter ingin semua pasien diselamatkan.

Semakin masuk ke bagian dalam ruang ICU, semakin terdengar suara napas pasien yang sesak. Hanya bisa terbaring lemah. Berjuang melawan virus mematikan itu.

Perjuangan dokter dan tenaga medis tak kalah berat. Pakaian hazmat yang pengap harus digunakan para perawat dan dokter selama enam jam lebih setiap harinya. Seminggu full di rumah sakit. Seminggu kemudian melakukan isolasi mandiri. Karena kontak erat dengan pasien. Rasa sedih tentu dirasakan para dokter dan perawat. Ditambah situasi saat ini dengan pasien yang terus masuk, membuat mereka kerja ekstra. “Kami makin sedih melihat banyak warga yang tidak percaya Covid-19. Ada yang mencemooh kami, mengatakan kami meng-Covid-kan pasien,” tutur dr Yushelly.

Serangan virus Corona ini tak mengenal siapa. Fauzan, seorang dokter asal Makassar yang membantu di RSUD dr Abdul Rivai turut menjadi korban keganasan Covid-19 ini. Dia ikut terbaring bersama tiga perawatnya. Ia yang setiap hari merawat para pasien ikut terpapar Covid-19.

Dia menceritakan, awal mula dirinya merasa lelah dan hilang penciuman. Setelah melakukan tes PCR (polymerase chain reaction), dia dinyatakan positif. Dilakukan tracing, ternyata tiga perawat yang bersamanya juga terkonfirmasi. Ia dirawat di ruangan Teratai I. Meski seorang dokter, tidak ada yang spesial di ruangan tersebut. Satu ruangan terisi empat tempat tidur. Bahkan sang dokter harus terbaring di kasur tambahan. Selang infus terpasang di tangan. Batuk, sesak napas mereka rasakan. Hilang indra perasa dan penciuman. Hal yang tidak diinginkan semua orang. “Iya lelah, pasien terus masuk. Tapi ini tugas,” kata Fauzan.

Fauzan menuturkan, dirinya baru dua hari terpapar Covid-19. Marah dan kecewa dirasakannya. Ia kecewa karena tidak bisa melayani masyarakat lagi untuk beberapa saat. Kecewa karena masyarakat hingga kini masih banyak yang teledor dan melanggar protokol kesehatan. Sehingga terpapar virus dan menularkan ke keluarga yang lain. Dampaknya, kasus meningkat, ruangan perawatan di rumah sakit pun penuh.

Setiap hari pasien terus bertambah. Usia yang masuk rata-rata di atas 40 tahun. Dimana kondisi kesehatan akan mengalami penurunan. Kenapa banyak yang dirawat di atas usia 40 tahun, tentu menjadi pertanyaan, padahal banyak yang nongkrong, rata-rata usia di bawah 25 tahun. “Sederhana saja. Usia 30 tahun ke bawah memiliki kekebalan tubuh yang bagus. Pulang ke rumah dengan virus yang sudah menempel, terjadi droplet, virus menyebar, mencari inang yang lemah. Siapa itu? Ya jelas, orang yang berusia di atas 40 tahun,” jelas Fauzan.

Senada dengan Fauzan, Irvan, seorang tenaga kesehatan di RSUD dr Abdul Rivai juga terpapar Covid-19. Dia tidak mau berpangku tangan melihat teman-temannya kewalahan merawat pasien. Dengan menggunakan baju nakes dan masker dobel, dia turut membantu perawat lain merawat pasien. Padahal dirinya juga positif, namun gejala ringan. Irvan mengatakan, jika ia hanya berbaring, tentu tugas rekan-rekannya sesama nakes akan bertambah.

Irvan tampak sibuk wara-wiri membawa tabung masker untuk para pasien. Keringat tampak menetes di dahinya. Ia berpenampilan tidak seperti nakes lainnya yang menggunakan APD lengkap. “Saya kan sudah positif, jadi biarlah APD yang ada untuk teman lainnya,” ujarnya.

Ia mengaku sedih melihat kondisi masyarakat saat ini yang masih santai dengan situasi pandemi yang terjadi di Berau. Masyarakat tidak percaya dengan adanya pandemi ini. Masih santai nongkrong tanpa masker. Tidak menjaga jarak, bahkan tidak segera memeriksakan diri. Berkumpul terus, hingga akhirnya terpapar dan menjadi klaster baru.

Ia mengatakan, selama pandemi Covid-19 merebak, perawat hanya tidur beberapa jam dalam sehari. Tidak sedikit pasien yang membutuhkan pertolongan mereka pada malam hari. Harus bekerja ekstra untuk masalah Covid-19. “Semua punya hak percaya atau tidak pada Covid-19. Tapi saya berharap masyarakat sadar, orang yang mereka sayangi jangan sampai terpapar,” ucapnya.

Sementara itu, di ruang perawatan, AR, salah seorang pasien Covid-19 asal Kecamatan Sambaliung, yang bekerja di salah satu perusahaan, tampak panik. Pasalnya, pasien di sebelah ranjangnya baru saja meninggal dunia pada pukul 11.00 Wita (Rabu/14/7). Masih tampak jelas kotak makanan milik pasien yang meninggal tersebut. Masih utuh di atas meja. “Selama tiga hari saya di sini, ada dua pasien yang sekamar dengan saya meninggal dunia,” ucapnya.

AR tidak menyangka dirinya terkonfirmasi Covid-19. Sebab di luar, dirinya hanya bekerja dan tinggal di mes perusahaan. Bahkan sudah beberapa lama dirinya tidak pernah ke mana-mana. Awalnya ia mengalami demam, namun bukan seperti demam biasa. “Seperti Malaria,” ucapnya.

Setelah demam selama tiga hari, ia pulang ke rumah istrinya. Ia memerintahkan kepada anak dan istrinya agar tidak mendekatinya. Ia memilih kamar paling belakang di rumahnya. Hari kelima mengalami demam, timbul batuk. Ia melapor kepada pihak Satgas Kecamatan Sambaliung, dan disarankan untuk swab. Setelah swab, ia dinyatakan positif. Ia pun meminta izin untuk isolasi mandiri. Dia kembali ke rumah, mengurung diri di kamar dan tidak berinteraksi dengan siapapun. Ia beralasan, tidak ingin menjangkiti siapapun. Keesokan harinya, dirinya merasa seluruh badannya sakit. Dan akhirnya meminta di rawat di rumah sakit.

“Saya tidak dari mana-mana. Mungkin ada teman kerja saya yang lebih muda tertular duluan. Karena saya sudah tua, imun saya turun, akhirnya terpapar saya,” katanya.

Ia bersyukur hanya dirinya yang terkonfirmasi. Setelah tracing, anak dan istrinya negatif. Dia mengaku selama isolasi di rumah, dia menerapkan protokol kesehatan ketat. “Tidak masalah saya sendirian di rumah sakit. Asal anak dan istri saya sehat,” katanya.

Di ruang perawatan, AR kerap menangis melihat kondisi pasien lainnya. Tanpa sanak keluarga yang bisa menemani. Takut dan khawatir ia rasakan, terlebih melihat dua pasien sekamarnya meninggal dunia. “Kenapa saya terapkan prokes ketat. Meskipun saya tidak tahu awalnya, apakah saya positif atau tidak. Saya tidak mau anak istri saya terpapar,” tegasnya.

Diakuinya, awalnya dirinya tidak percaya bahwa ada virus tersebut. Meskipun begitu, ia tetap mengikuti anjuran protokol kesehatan. “Batuknya itu beda. Tidak batuk terus saya, jika mau batuk, tidak bisa ditahan. Untuk merasa dan mencium bau, saya masih bisa,” katanya.

Sebagai seorang pasien Covid-19, dia meminta kepada masyarakat luas, jika memang tidak percaya Covid-19, jangan jadi inang untuk menyebarkan virus. Sudah banyak bukti nyata yang ia lihat langsung. Mulai dari kematian pasien Covid-19. Hingga rasa sakit yang dirasakan akibat virus tersebut. “Silakan tidak percaya. Tapi jangan sampai keluarga kalian masuk ke sini (ruang isolasi) karena keegoisan kalian,” pungkasnya. (hmd/har)

Editor : uki-Berau Post
#Seputar Berau