Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Ibu kepada Hamparan Surga, Karya: Sukardi Wahyudi

izak-Indra Zakaria • Rabu, 16 Februari 2022 - 19:03 WIB
Photo
Photo

SUKARDI WAHYUDI, telah menerbitkan karyanya dalam bentuk antologi tunggal maupun bersama, menerima Anugerah Kesetiaan 30 Tahun “SETYASASTRA NAGARI” dari Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia dan Anugerah SASTRAWAN BERDEDIKASI 2021 Kaltimtara Kantor Bahasa Provinsi Kaltim juga tercatat dalam buku: APA DAN SIAPA: PENYAIR INDONESIA (Yayasan HPI, 2017).

 

 

 Timang-timang anakku sayang

lagu yang tak pernah usang sepanjang usia

berawal “Kun” dari Tuhan, empat bulan kemudian roh kehidupan berembus

ke dinding rahimmu, ibu

didekap dalam kerinduan dibawa setiap kaki melangkah

kau kenalkan aku wajah dunia dan isinya.

 

Demi aku sebagai anakmu

Kau telan kehampaan paling dalam

agar air susumu tak kering mengaliri rongga nadi

menjadi napas dalam puisiku hari ini.

 

Perempuan baja terdepan untuk buah hatinya

tak ada air mata apalagi meminta

kerut wajahmu tanda pengabdian

kurus lemah tulangmu rida keikhlasan

lembut belaianmu semangat yang tak tergantikan

petuah dan katamu adalah arah perjalanan

mahaguru, hingga hidup ini menutup mata.

 

Ibu hamparan surgaku, baktiku bukan ukuran dan timbangan

juga tak pantas disejajarkan.

 

Ibu di hadapanmu, aku ingin menjadi anak kecil bermain manja

menghangatkan rindu berbalut pelukan sejuk

kasih yang tak terputus oleh waktu.

 

Dalam hening pasti tak tertahan air mata

untuk melihat wajahmu dalam doa.

 

 

Ibu kepada Nyanyian Rimba

Karya: Sukardi Wahyudi

 

Teriakan bekantan dan tarian enggang

langka terdengar menyuarakan sejuknya rimba raya

menjaga hujan tropis

sebelum hilang dari memori peradaban

dan pohon terakhir tumbang.

 

Paru-paru tanah Mulawarman terluka

bopeng koreng, menyiksa mata sangat menyedihkan

lubang tambang danau dan sungai buatan

tergores mata pisau di balik senyum tuan

tergusur longsor, banjir bandang titipan hujan

akar rimba raya tercabut dan tak tahan menahan beban kehidupan

menghapus peta budaya

dusun

dan para peladang.

 

Pemandangan yang mengelus dada

wangi daun meranti dan kayu besi tak ditemukan

sebab damar dan tuba sudah satu rasa

memabukkan keinginan dunia fana

ribuan tahun leluhur menjaga rimba raya

seperti bayang-bayang dan dirinya

seperti rindu dan cintanya

tak bermakna

di tangan-tangan perkasa, tuan?!

 

Editor : izak-Indra Zakaria
#sastra #puisi