Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Balikpapan memprediksi akan terjadi lonjakan harga kedelai mulai bulan Maret 2022. Hal itu akan mengakibatkan kenaikan harga tahu dan tempe hingga Mei 2022. Kepala Disdag Kota Balikpapan Arzaedi Rachman menyarankan kepada masyarakat agar mewaspadai kenaikan kedelai tersebut.
"Kenaikan harga disebabkan oleh terjadinya gangguan suplai kedelai dunia. Gangguan suplai ini dikarenakan target produksi kedelai meleset dari perkiraan awal," ujar Arzaedi kepada awak media, Rabu (2/3). Ia menjelaskan, negara Brazil mengalami penurunan produksi kedelai. Padahal, diprediksi pada Januari 2022 bisa mencapai 140 juta ton, justru menurun menjadi 125 juta ton per Februari 2022. “Penurunan produksi ini berdampak pada kenaikan harga kedelai dunia,” terangnya.
Dia menuturkan, penyebab lainnya yakni adanya inflasi di Amerika Serikat (AS) yang mencapai 7 persen. Hal ini kemudian berdampak pada harga produksi kedelai. Sementara di Kota Balikpapan, saat ini harga kedelai eceran di pasar rakyat pada periode September 2021 hingga Minggu pertama Maret 2022 masih di rentang Rp 14.000 sampai Rp 15.000 per kilogram atau mengalami kenaikan dibandingkan Januari 2021 dengan harga Rp12.000 perkilogram.
Menurutnya, stok kedelai di Primer Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Primkopti), saat ini sekitar 46 ton pada akhir Pebruari 2022, dan akan masuk lagi 46 ton dengan harga Rp 11.800 perkilogram. "Sehingga pasokan kedelai ini diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan di Kota Balikpapan hingga 3 minggu ke depan. Namun berdasarkan informasi dari Primkopti Kota Balikpapan. Untuk kedelai masuk ke Balikpapan perminggu 4 kontainer atau 92 ton atau 368 ton perbulan. Masih sangat memenuhi kebutuhan di Kota Balikpapan 348 Ton surplus 20 Ton," jelasnya.
Sebagai informasi harga tahu di pasar rakyat di Kota Balikpapan perpotong berkisar Rp 600 atau Rp 6.000 per bungkus. Sedangkan tempe perpotongnya Rp5.000 atau Rp 22.000 perkilogram sehingga harga jual tahu dan tempe masih pada batas normal. (djo/vie)
Editor : izak-Indra Zakaria