TANJUNG REDEB - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan sapi ternak saat ini mulai meresahkan masyarakat, terutama bagi peternak sapi di Kabupaten Berau. Sebagai langkah cepat, Pemkab Berau mulai gencarkan sosialisasi terkait wabah tersebut.
Salah satu peternak sapi, Supardi pun mengaku ada keresahan tersendiri. Karena hal itu sudah dinyatakan mewabah. Tapi memang paling tidak pihaknya pun saat ini tetap harus berhati-hati, dan selalu menjaga serta memperhatikan kondisi sapi-sapinya.
"Jelas kita ada keresahan adanya virus penyakit hewan ini. Tentu kita akan berhati-hati dan menjaga kesehatan sapi,” ujarnya kepada awak media.
Sebagai antisipasi terhadap wabah tersebut, diakui Supardi untuk menjaga kualitas sapi-sapinya tentu dengan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin setiap sebulan sekali. Juga terpenting memberikan makan-makanan yang bergizi.
"Karena sapi dirawat untuk penggemukan dan sehingga menghasilkan kualitas daging yang bagus, serta terhindar dari penyakit," terangnya.
Langkah cepat dari Pemkab Berau pun disebutnya juga sudah cukup baik. Dengan melalui sosialisasi yang digencarkan kepada peternak sapi di Berau. Masukan maupun imbauan yang diberikan oleh para petugas, itu juga kata Supardi untuk mengingatkan dirinya maupun peternak lainnya agar tetap berhati-hati dan memperhatikan. Kemudian juga mengingatkan untuk pengiriman dari luar daerah supaya bisa dipastikan betul kelayakannya apakah sapi ini bisa dikirim atau tidak.
"Karena sudah ada teman kita yang tertahan. Jadi beberapa sapi yang sudah dibeli oleh pemesan tidak bisa diseberangkan karena penyakit sapi yang menyebar saat ini," terangnya.
Mengenai penyebaran wabah tersebut, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Berau memastikan hingga saat ini belum ada ditemukan kasus hewan ternak sapi di Berau yang terjangkit penyakit mulut dan kuku. Bahkan sebagai antisipasi, Distanak Berau mengambil langkah dengan membatasi sementara pasokan sapi ternak dari luar daerah.
Dikatakan Kabid Kesehatan Hewan Distanak Berau, Putu Setion, selain membatasi pasokan sapi ternak dari luar untuk sementara, pihaknya juga saat ini mulai melakukan tindakan antisipasi sesuai dengan Surat Edaran (SE) Menteri Pertanian (Mentan) Nomor 01/SE/PK.300/M/5/2022 perihal Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada Ternak. Salah satunya melakukan sosialisasi kepada kelompok ternak maupun pelaku usaha.
"Kegiatan itu tentu bertujuan untuk mengantisipasi penyebaran wabah penyakit mulut dan kuku terhadap hewan di Berau," jelas Putu.
Pemeriksaan itu pun telah dilakukan dengan berkeliling ke lokasi para peternak di kecamatan terdekat. Pihaknya juga bekerja sama dengan enam pusat kesehatan hewan (Puskeswan) di Bumi Batiwakkal. “Jadi pemeriksaan di wilayah yang jauh dilakukan oleh Puskeswan,” ungkapnya.
Kegiatan sosialisasi yang dilakukan ini sekaligus melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap hewan sapi ternak, dengan memeriksa mulut, kuku serta kondisi tubuh hewan. "Para peternak hewan sapi juga diimbau untuk tetap rutin memperhatikan kebersihan kandang serta porsi makanan gizi hewan ternaknya," tuturnya.
Dalam hal ini, pihaknya juga akan selalu berkoordinasi dengan petugas Distanak yang di lapangan, agar lebih intensif memeriksa kesehatan hewan ternak-ternak yang ada di lapangan. Sehingga jika ditemukan kasus bisa lebih cepat ditangani. Mengenai pemeriksaan, sesuai dengan anjuran bersama tim dokter hewan, pihaknya juga lebih fokus pada pemeriksaan mulut dan kaki.
"Karena gejala yang muncul itu biasanya di mulut, lidah, bibir atau kaki,” katanya.
Disebutnya, wabah virus ini hanya menyerang hewan ternak seperti sapi, kambing, kerbau, domba dan babi. Sementara, Kabupaten Berau termasuk wilayah yang banyak mendatangkan hewan ternak dari luar daerah. Yaitu, Sulawesi dan Pulau Jawa.
Nantinya setiap hewan ternak aman diperiksa kesehatan kaki dan mulutnya. Apabila di celah kuku, mulut dan lidah terdapat bagian yang melepuh bisa dikatakan hewan tersebut mengalami PMK. Hasilnya semua hewan dinyatakan sehat dan tidak ada yang terjangkit.
“Hal itu kami lakukan untuk mengantisipasi seandainya ada kasus bisa diketahui lebih dini. Sehingga, memudahkan koordinasi dengan provinsi juga,” katanya lagi.
Setelah terdeteksi kasus yang pertama, hewan ternak dari luar pulau sudah tidak diperbolehkan masuk ke Bumi Batiwakkal. Yang perlu diwaspadai jika ada hewan ternak yang masuk melalui jalur darat akan susah dipantau. Sebab, tidak ada perbatasan yang memfilter ternak yang masuk.
“Informasi dari peternak dan penampung, jumlah hewan mereka saat ini tidak banyak. Karena hewan yang mereka beli dari luar daerah saat ini sedang tertahan,” jelasnya.
Jika memang ada ternak yang masuk, peternak bisa menginformasikan kepada Distanak Berau untuk dilakukan pemeriksaan. Pihaknya pun selalu siap siaga.
Meski memang belum ada ditemukan wabah ini di Berau, Distanak mengklaim, Kabupaten Berau masuk dalam kategori wilayah terduga, perihal wabah penyakit mulut dan kuku yang menyerang hewan ternak tersebut.
"Ada tiga kategori wilayah. Yakni bebas, terduga dan tertular. Sementara, Kabupaten Berau masuk ke dalam kategori terduga. Lantaran wabah tersebut telah masuk ke wilayah Kalteng yang satu daratan dengan Kaltim," bebernya.
Tak dipungkirinya, wabah tersebut sangat memengaruhi perekonomian para peternak. Jika ada hewan ternak yang terdeteksi, penularannya sangat cepat sekali, karena bisa melalui udara. Penyakit ini menyebabkan angka kematian hewan yang tinggi. “Karena menyerang kaki jadi hewan tidak bisa berjalan dan mulut jadi tidak bisa makan. Sehingga, hewan bisa mati kelaparan,” paparnya.
Dia mengimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang. Dan bagi para pelaku usaha yang membeli ternak dari luar bisa konfirmasi terlebih dahulu dengan balai karantina hewan. Agar hewan yang tertahan bisa segera dilepaskan.
Terpisah, Dokter Hewan Distanak Berau, Muhammad Rofi’ Prasetya menambahkan wabah ini ditandai dengan demam, luka lepuh pada kaki, mulut, moncong dan puting susu, tidak nafsu makan, hipersalivasi atau air liur berlebih, dan mulut terbuka.
Peternak bisa mencegahnya dengan cara memantau dan melaporkan jika ada hewan yang sakit. Membuang kotoran dan bangkai secara benar. Mengontrol penggabungan hewan baru, dan membershikan kandang, kendaraan dan peralatan ternak secara teratur.
“Masyarakat jangan panik. Karena kami akan selalu melakukan pencegahan. Kami selalu waspada karena wabah tersebut sudah masuk ke wilayah Kalteng,” tutup Rofi'. (mar/har)
Editor : uki-Berau Post